24 April 2008
Konsumsi baja melonjak 20,3%

JAKARTA Konsumsi baja nasional pada kuartal 1/2008 mencapai 816.742 ton atau melonjak 20,3% dibandingkan dengan konsumsi pada periode yang sama tahun lalu yaitu 678.981 ton didorong oleh meningkatnya produktivitas sektor otomotif, elektronik, dan galangan kapal.

Peningkatan itu diikuti dengan kenaikan produksi pabrik hulu baja, terutama baja canai panas (hot rolled coik/HRC), sekitar 19% dari 628.290 ton menjadi 747.962 ton.

Kendati konsumsi baja pada kuartal 1/2008 melonjak 20,3%, kondisi pasar baja di sektor hulu dan hilir mengalami ketimpangan akibat tekanan harga internasional dan kondisi pasok baja yang terbatas di dalam negeri.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menjelaskan lonjakan konsumsi baja domestik itu dipicu oleh bergairahnya sektor pengguna seperti otomotif, elektronik, dan galangan kapal.

"Dari total demand baja di dalam negeri sekitar 6 juta ton pada tahun lalu, produsen baja nasional termasuk KS hanya mampu memproduksi sekitar 4 juta ton, sementara impor masih cukup tinggi sekitar 2 juta ton. Jadi masih ada celah untuk peningkatan kapasitas produksi," ujarnya kemarin.

Harga naik

Harga baja dunia, menurut Mesteel (lembaga riset baja di Timur Tengah), telah melonjak hampir 40% pada April dibandingkan dengan posisi pada Januari 2008, dari US$780 per ton menjadi US$1,050 per ton.

Fluktuasi tajam harga baja dunia ini memengaruhi kinerja sejumlah industri hilir baja domestik seperti pabrik seng baja (baja lapis seng/BjLS) dan pipa baja yang tidak bisa mengimbangi kenaikan harga bahan baku dengan hargajual produk akhir.

Keadaan ini dibuktikan dari laporan konsumsi baja pada kuartal 1/2008 yang dirilis Depperin dari laporan seluruh pabrik baja nasional. Data tersebut menyatakan bahwa impor baja nasional yang digunakan sebagai bahan baku merosot 16,8% dari 265.754 ton menjadi hanya 221.042 ton.

Pada saat yang sama, ekspor baja nasional pada kuartal I merosot cukup tajam dari 215.000 ton menjadi 152.261 ton. Padahal, harga baja dunia terus meroket menembus rekor baru sekitar US$1,050 per ton untuk periode April.

Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim menerangkan industri seng terpaksa mengurangi produksi hingga 50% karena tingginya harga baja dunia.

Di pasar internasional, seperti dikutip Mesteel, harga CRC untuk periode April diperdagangkan dalam kisaran US$1.010-US$1.040 per ton atau di bawah harga bahan bakunya, yakni HRC yang telah menyentuh US$1,050 per ton.

Harga seng lembaran hanya diperdagangkan dalam kisaran US$1.100-US$1.230 per ton. Rendahnya margin itu menyebabkan produsen seng dalam negeri kesulitan berproduksi.

Selain harga baja yang terus naik, lanjutnya, daya beli konsumen terus merosot sehingga produsen tidak berani menaikkan harga jual. Agus mengharapkan pemerintah membantu industri hilir dengan menurunkan bea masuk CRC (baja canai dingin). Saat ini bea masuk CRC sebesar 10%. "Kami meminta bea masuk diturunkan menjadi 2,5%-5%," ujarnya.

Di tengah kondisi itu, para produsen hulu baja pada kuartal I justru menggenjot produksi dengan tingkat utilisasi hingga 95,9% atau jauh di atas utilisasi pada periode yang sama 2007, sekitar 80,6%. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 

 Dilihat : 5167 kali