25 April 2008
Menneg BUMN Segera Panggil Mittal

JAKARTA - Kementerian Negara BUMN akan memanggil manajemen Arcelor Mittal untuk menjelaskan proposalnya, terkait tawaran pembelian saham di PT Krakatau Steel (KS). Pasalnya, Menneg BUMN Sofyan Djalil belum menerima proposal Mittal, terkait privatisasi KS.

Sofyan Djalil menjelaskan, semula manajemen Arcelor Mittal akan mempresentasikan proposalnya berinvestasi di Indonesia pada Rabu (23/4) di kantor Kementerian Negara BUMN. Tapi, karena ada masalah teknis jadi ditunda, dan belum ditentukan lagi. Proposal Mittal belum sampai ke saya, mungkin lewat Pak Fahmi (Menteri Perindustrian). Nanti kita panggil manajemen Mittal untuk presentasi proposalnya," paparnya usai rapat koordinasi di Kantor Menko Perekonomian di Jakarta, Kamis (24/4).

Saat ditanya sikap Kementerian Negara BUMN mengenai rencana Mittal masuk ke Indonesia melalui akuisisi KS, Sofyan belum bisa menjelaskan apa pun. Hanya saja, dia mendukung pengembangan industri baja nasional. "Solusi untuk bangun pabrik baja di Indonesia cukup bagus. Karena itu kita dukung, tapi bagaimana mekanismenya kita tunggu," katanya.

Sebelumnya, CEO Arcelor Mittal Lakshmi Mittal, menulis surat resmi tertanggal 17 April 2008 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, dan Menteri Perindustrian Indonesia. Dalam surat tersebut, raksasa baja dunia itu menyiapkan investasi sekitar US$ 5-10 miliar untuk masuk ke Indonesia dengan tiga rencana, termasuk membeli saham di BUMN baja PT Krakatau Steel (KS), membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan KS di Cilegon, serta menggandeng PT Aneka Tambang Tbk.

Bahkan, Lakshmi Mittal memberi tenggat waktu 2-3 minggu kepada manajemen KS untuk memberikan keputusan, terkait tawaran membeli saham di BUMN baja RI itu sebagai langkah memodernisasi pabrik. Teknologi permesinan KS sangat membutuhkan peremajaan, modernisasi, dan optimalisasi," kata Lakshmi dalam suratnya yang dibacakan Menperin Fahmi Idris di depan pers, Rabu. ,

Menanggapi proposal Mittal, Komisaris Utama Taufiequrachman Ruki belum mau berkomentar banyak. "Maaf saya sedang di Batulicin, Kalimantan Selatan, untuk melihat proyek KS dan Antam. Komentarnya besok-besok saja ya," katanya dalam pesan singkat kepada Investor Daily.

Cukup 35%

Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris menegaskan, pemerintah cukup memberikan maksimum 35% saham KS kepada Arcelor-Mittal.Strategic partner dari KS. "Untuk strategic patnership, pemerintah paling tinggi memberikan keputusan 40%. Artinya, untuk perusahaan yang berjalan saya menilai dengan pemberian 35% pun sudah lebih dari cukup," tuturnya.

Dalam surat Lakshmi Mittal disebutkan, perusahaan baja terbesar di dunia itu berencana membentuk perusahaan joint venture dengan KS untuk membangun pabrik baru yang disebut greenfield steel complex di Cilegon. "Dalam perusahaan joint venture itu, Mittal ingin jadi pemegang saham mayoritas," tutur Fahmi.

Pabrik baru di Cilegon itu, lanjut dia, direncanakan berkapasitas 2,5 juta ton per tahun pada tahap awal. Kompleks pabrik baru tersebut dibangun beserta fasilitas pabrik hulu dan hilir serta infrastruktur dan logistik, termasuk teknologi perlindungan lingkungan. "Archellor Mittal juga menerapkan teknologi ini di India, Saudi, Nigeria, Turki, Rusia, dan Mozambik," paparnya.

Selain berinvestasi di sektor baja, kata dia, Mittal berencana membentuk perusahaan patungan dangan PT Aneka Tambang Tbk untuk penambangan batubara, bijih besi, nikel, dan mangan. Dalam perusahaan tersebut, Mittal juga menginginkan posisi mayoritas, (ci 17)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 14 

 Dilihat : 2969 kali