25 April 2008
Menanti Kedatangan Raja Baja Arcelor-Mittal

PEMERINTAH maupun PT Krakatau Steel (KS) masih menunggu kedatangan tahap kedua pihak Arcelor-Mittal terkait rencana investasi mereka ke Indonesia. Pihak KS sendiri belum tahu pasti mengenai langkah selanjutnya setelah kedatangan pihak Mittal.

Demikian disampaikan oleh Dirut KS Fazwar Bujang. "Bahwa Mittal akan datang, ya, kita tunggu saja. Apakah datang ke Meneg BUMN, ataukah ke pihak Menteri Perindustrian. Kemudian apakah meminta kita hadir kita belum tahu." ujarnya.

Hinggi kini KS masih bersikukuh untuk tetap melaksanakan privatisasi KS melalui proses IPO [initial Public Offering], "Target privatisasi untuk IPO itu kila bertahap pertama 20 persen, setelah beberapa waktu ditambahkan lagi dengan harapan yang kedua itu value KS bisa lebih lebih tinggi dari lahap pertama." harapnya.

Untuk dana privatisasi melalui IPO tersebut. KS menargetkan bisa meraih dana minuman Rp2 triliun. "Dengan tahap pertama 20 persen itu. maka kita targetkan Rp2 triliun." katanya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris meminta karyawan PT KS tidak melakukan aksi demo, untuk menolak privatisasi khususnya dikaitkan dengan rencana masuknya produsen baja India. Arcelor Mittal.

"Jangan melakukan tekanan karena demo buang-buang biaya, waktu dan tenaga saja. Kalau mau menyampaikan aspirasi kan bisa kirim delegasi saja." ujarnya.

Menurut Fahmi, adanya reaksi yang berlebihan dari jajaran karyawan, komisaris maupun direksi KS itu sendiri justru bisa membuat proses produksi dan kinerja KS akan terganggu.

Ia juga meminta kepada jajaran direksi, komisaris dan serikat pekerja untuk tidak berprasangka buruk terhadap rencana privatisasi perusahaan baja plat merah itu.

"Usulan karyawan KS agar proses kemitraan strategis itu dilakukan dengan IPO. saya pikir bisa dimengerti dan sah-sah saja. Tapi saya imbau kepada mereka agar mengikuti dulu proses yang tengah dirumuskan pemerintah," kata Fahmi.

Berbahaya

Memang keinginan Arcelor-Mittal berinvestasi di indonesia patut disambut gembira. Namun, masuknya raksasa baja itu ke KS dalam jangka panjang bisa sangat berbahaya.

"Pemerintah harus berhati-hati dalam menyikapi proposal investasi Mittal." kata Komisi VI DPR RI dari FPKS. Zulklenimansyah.

Menurutnya, investasi Arcelor-Mittal itu sebenarnya diharapkan bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pengangguran dan kemiskinan diharapkan bisa dikurangi.

"Karenanya keinginan Arcelor-Mittal. produsen baja terbesar di dunia untuk berinvestasi di Indonesia tentu sangat kita sambut gembira," katanya.

Ia menambahkan ada tiga opsi yg ditawarkan Arcelor-Mittal. Pertama, mengembangkan sendiri usaha pertambangan yg berkaitan dgn industri baja. Kedua, menawarkan diri menjadi mitra strategis bagi KS. Ketiga, membentuk perusahaan joint venture dengan KS.

Pemerintah karena target-target Jangka pendek, kata Zulkiefli. kemungkinan lebih memilih opsi kedua. "Opsi ini dalam jangka pendek memang menarik tapi dalam jangka panjang sangat berbahaya, dimana terbuka kesempatan untuk asing menguasai KS yang merupakan jantung industrialisasi kita.

Dan adanya kemungkinan ketergantungan kita pada asing dalam waktu yang sangat panjang." tuturnya.  Karenanya, dia meminta agar pemerintah lebih berhati-hati dalam membuat keputusan yang sangat strategis ini dan tidak mengorbankan kepentingan bangsa dalam jangka panjang.

"Kinerja KS sekarang sangat baik dan menyerahkan sebagian kepemilikannya pada asing akan sangat mengorbankan pembelajaran dan kemampuan teknologi yang realitasnya sangat sulit, bahkan tidak mungkin ketika perusahaan asing bermitra dengan perusahaan lokal." Jelasnya.

Namun, lanjut Menperin Fahmi, pemerintah hingga kini belum memutuskan tiga opsi yang ditawarkan oleh Arcelor-Mittal terkait rencana investasi Raja Baja India di Indonesia. Ia menyayangkan reaksi awal dari manajemen KS yang mengambil kesimpulan sendiri.  "Saya tegaskan sejauh ini belum ada keputusan final terhadap tawaran Lakshmi Mittal tersebut. Saya Juga menyayangkan reaksi dari komisaris dan direktur utama KS yang mengambil kesimpulan sendiri dengan menyatakan pemerintah berniat menjual KS." tandasnya.

Padahal, menurut Fahmi, usulan privatisasi KS sudah lama dibicarakan pemerintah sebelum produsen Arcelor-Mittal berniat berinvestasi di Indonesia menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, tim privatisasi yang terdiri dari para menteri terkait memang telah merekomendasikan agar segera dilakukan kemitraan stategis terhadap 15-20 BUMN termasuk KS. dengan komposisi kepemilikan saham pihak luar maksimal sebesar 40 persen. Tapi Itu baru wacana." ungkap Fahmi. (Iz)

Sumber: Pelita, Page : 2 

 Dilihat : 3233 kali