24 April 2008
Krakatau Tetap Inginkan IPO - Tawaran Strategic Sales Pemerintah Dipertanyakan

JAKARTA (SINDO) - PT Krakatau Steel (KS) tetap menolak masuknya produsen baja terbesar dunia Arcelor Mittal melalui skema kemitraan strategis (strategic sales).

Perusahaan pelat merah tersebut tetap ngotot meminta pemerintah melakukan privatisasi melalui pasar dengan cara penerbitan saham perdana (Initial Public Offering! IPO). Adapun maksimal saham yang dilepas adalah sebesar 20%.

"Menurut saya, nggak ada kuncinya kalau dilepas sampai 40%. Uang itu pun nggak akan bisa kita pakai. Silakan ditanamkan saja diinvestasi lain, seperti pertambangan dan pengolahan yang lain," tutur Komisaris Utama PT Krakatau Steel Taufiequrrachman Ruki di Jakarta kemarin.

Menurut dia, dengan tambahan dana IPO, peningkatan produksi baja dari 2,5 juta ton menjadi 5 juta ton bisa dilakukan. "Dana itu cukup untuk merevitalisasi perusahaan," kata Ruki.

Direktur Utama KS Fazwar Bujang mengatakan, pihaknya masih menganalisa langkah yang bisa dilakukan menanggapi minat Arcelor Mittal memiliki saham KS. "Kami ini tunduk kepada pemegang saham. Kewajiban kami memberikan analisis. Masukan karyawan diharapkan dapat komprehensif untuk meyakinkan pemerintah,bahwa apa yang terbaik bagi KS akan menjadi yang terbaik bagi bangsa ini,"ujar Fazwar.

Mittal Ingin Mayoritas

Sementara itu, seperti dikutip ANTARA, CEO Arcelor Mittal Lakhsmi Mittal telah mengirimkan surat kepada Menteri Perindustrian Fahmi Idris pada 17 April lalu. Dalam suratnya, Mittal menyampaikan tiga rencana investasi pada industri baja Indonesia dengan nilai investasi antara USD5-10 miliar.

Menurut Fahmi, dalam surat tersebut Mittal menawarkan kemitraan strategis dengan KS un tuk memodernisasi dan mengoptimalisasi pabrik baja BUMN tersebut. Selain itu, dia juga menyatakan  keinginannya untuk patungan dengan KS untuk membangun pabrik baja baru dengan kapasitas antara 2-3 juta ton yang berlokasi di Cilegon, Banten. Adapun Mittal nantinya sebagai pemegang saham mayoritas.

Di samping investasi di sektor industri baja, Mittal juga menawarkan patungan dengan BUMN lainnya, yakni PT Aneka Tambang Tbk untuk penambangan batu bara, bijih besi, nikel, dan mangan. Dalam kerja sama itu, Mittal menginginkan posisi pengendali. "Semua proposal Mittal tersebut masih kami pelajari, belum ada keputusan akhir baik lisan maupun tertulis," ujar Fahmi.

Fahmi menjelaskan, opsi kemitraan strategis dalam privatisasi KS diambil pemerintah untuk mengoptimalisasi kemampuan produsen baja dalam negeri itu dalam rangka memasok kebutuhan berbagai jenis baja di Indonesia. "Masalah KS yang dilihat pemerintah adalah tingkat produktivitas yang rendah selama 30 tahun,hanya dua juta ton per tahun," katanya.

Sementara itu. Ketua Umum Kadin MS Hidayat mengatakan,sebaiknya KS memberi kesempatan kepada Mittal untuk menjadi mitra strategis dalam usahanya.Menurut dia, jika ditolak, maka ada peluang bagi Mittal untuk mendirikan perusahaan sendiri. "Lebih baik bersinergi daripada bersaing,"ujar dia.

Sikap Pemerintah Dipertanyakan

Ekonom Indef Iman Sugema berharap agar pemerintah berhati-hati dalam memutuskan skema privatisasi KS.Lebih lanjut,dia mempertanyakan sikap pemerintah yang bersikeras melakukan penjualan strategis KS kepada Mittal. "Menteri-menteri yang memang ingin menjual KS ke partner strategis, harus belajar dari pahitnya kasus penjualan Indosat," kata dia.

Menurut dia, pasca penjualan Indosat beberapa tahun lalu, tidak ada satu bukti pun yang memperlihatkan bahwa skema penjualan strategis itu dapat memperbaiki kinerja perusa-haan. "Lihat saja penerimaan pajak Indosat yang malah jeblok. Bukannya naik tapi turun. Begitu juga bank-bank yang dijual ke asing, tidak lebih baik dgan bank nasional yang ada," tuturnya.

Terkait tawaran Mittal, Iman juga mempertanyakan komitmen Mittal yang malah terkesan ingin mencaplok kaveling lain dari pada mengembangkan perusahaan bajanya sendiri di Indonesia. Mittal memiliki saham di salah satu perusahaan baja PT Ispatindo yang berdiri sejak 30 tahun lalu dengan kapasitas produksi 600.000 ton. "Kenapa Mittal tidak memfokuskan pengembangan Ispatindo yang sudah dimiliki di Indonesia. Malah ingin caplok yang lain?," ujarnya.

Menurut Iman, sebagai satu-satunya produsen baja terbesar di Indonesia,KS membutuhkan pesaing untuk dapat memacu kinerjanya. "Kalau KS mendapat pesaing, maka pengguna produk baja di tingkat hilir bisa memperoleh harga yang lebih kompetitif,"tandasiiya.

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 15 

 

 

 Dilihat : 2864 kali