24 April 2008
Mittal Siapkan US$ 10 Miliar

JAKARTA - Raksasa baja terbesar di dunia, Arcelor Mittal, menyiapkan investasi sekitar US$ 5-10 miliar untuk masuk ke Indonesia dengan tiga opsi, yakni membeli saham PT Krakatau Steel (KS), membentuk perusahaan patungan dengan KS di Cilegon, serta menggandeng PT Aneka Tambang Tbk.

Untuk itu, CEO Arcelor Mittal Lakshmi Mittal memberi tenggat waktu dua-tiga minggu kepada manajemen KS untuk memberikan keputusan terkait dengan tawaran pembelian saham di BUMN baja RI itu sebagai langkah memodernisasi pabrik.

Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris menjelaskan, rencana Mittal itu dijelaskan secara rinci dalam surat Lakshmi Mittal tertanggal 17 April 2008 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, dan Menteri Perindustrian Indonesia. "Mr Fahmi, Arcelor Mittal ingin menjalin strategic partner kepada pemerintah Indonesia dengan berinvestasi serta memodernisasi perusahaan baja dan pertambangan Indonesia," kata Fahmi saat membacakan surat dari Lakshmi Mittal di depan pers di Jakarta, Rabu (23/4).

Dalam surat yang diterima Menperin pada 21 April itu disebutkan, teknologi permesinan KS sangat membutuhkan peremajaan, modernisasi, dan optimalisasi. Perusahaan baja terbesar di dunia itu mengklaim berpengalaman mengembangkan teknologi pabrik serupa di di Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. "Kami ingin informasi secepatnya. Dalam dua-tiga minggu mendatang kami ingin mengetahui keputusan manajemen KS terkait dengan tawaran kami membeli saham di KS sebagai langkah memodernisasi pabrik," kata Fahmi mengutip surat tersebut.

Menanggapi rencana pembelian saham KS oleh Arcelor Mittal, Fahmi Idris menerangkan, pemerintah Indonesia menawarkan saham KS maksimum 40% kepada investor strategis.

"Di kalangan pemerintah, strategic partner sudah jelas, di DPR juga jelas. Tapi, belum ada keputusan final. Presiden dan Wapres meminta ini dibahas secara seksama, dipelajari semua aspek, dan melibatkan semua pihak agar tidak salah tafsir," katanya.

Pemerintah, kata Fahmi, kemungkinan besar akan menolak opsi penawaran saham perdana (initial public offering/lPO) dalam privatisasi KS. Sebab, dengan opsi IPO saham pemerintah di KS yang akan dijual bisa melebihi 50%. "Pahami Undang-Undang BUMN yang menyebutkan kalau saham non pemerintah lebih dari 50%, dia tidak jadi BUMN lagi," ucapnya.

Selain itu, Menperin menerangkan, pemerintah menilai ada tiga alasan IPO KS tidak diprioritaskan.

Pertama, jika menempuh opsi IPO, KS hanya mendapat uang. Sedangkan di mata pemerintah, problem KS bukanlah terkait dengan keuangan tapi tingkat produktivitas, karena selama beroperasi 30 tahun hanya berproduksi 2,5 juta ton.

Kedua, KS tidak mampu memasok baja jenis khusus selama 30 tahun berproduksi. "Contohnya baja untuk pelat mobil masih diimpor selama 30 tahun. Padahal, itu gampang bin gampang dibuat KS," tuturnya.

Alasan ketiga, lanjut Fahmi, biaya operasional KS tinggi sekali karena bergantung impor bijih besi dari Brasil dan Australia. "Padahal, pabrik baja terbesar di Tiongkok, Bao Steel, justru impor bijih besi dari Kalimantan Selatan. Artinya, pabrik baja Tiongkok bisa mengembangkan teknologi dengan bijih besi yang dikatakan KS berkadar ferro rendah," ucapnya.

Tolak Mittal

Namun, Dirut KS Fazwar Bujang menjelaskan, hingga kini manajemen KS masih berkukuh untuk tetap melaksanakan privatisasi melalui proses IPO. Jika IPO tidak menjadi pilihan tahun ini karena kondisi pasar saham yang masih bergejolak, tidak perlu dipaksakan. "Awal tahun depan juga tidak apa-apa. Toh keterlambatan di pasar modal juga tidak berpengaruh besar," ucapnya, Selasa (23/4).

Komisaris Utama KS Taufiequrachman Ruki menambahkan, komisaris dan manajemen KS tetap akan menolak proposal akuisisi Mittal karena kondisi keuangan perseroan saat ini sangat baik. Pada kuartal I tahun ini, keuntungan konsolidasi KS mencapai Rp 350 miliar, dengan perincian stand alone Rp 211 miliar dan sisanya anak perusahaan. Sedangkan arus kas KS per Maret mencapai Rp 1 triliun.

Mittal Masuk 30%

Meski demikian, Fahmi Idris menjelaskan, kemungkinan besar Mittal akan membeli saham KS sekitar 30%. Apalagi, dalam surat Lakshmi Mittal kepada Presiden dan Wapres, Arcelor Mittal berencana membentuk perusahaan patungan dengan KS untuk membangun pabrik baru yang disebut greenfield steel complex di Cilegon. "Dalam perusahaan joint venture itu, Mittal ingin jadi pemegang saham mayoritas," tuturnya.

Pabrik baru di Cilegon itu, lanjut dia, direncanakan berkapasitas 2,5 juta ton per tahun pada tahap awal. Kompleks pabrik baru tersebut dibangun beserta fasilitas pabrik hulu dan hilir serta infrastruktur dan logistik, termasuk teknologi perlindungan lingkungan. "Arcelor Mittal juga menerapkan teknologi ini di India, Saudi, Nigeria, Turki, Rusia, dah Mozambik," paparnya.

Selain berinvestasi di sektor baja, kata dia, Mittal berencana membentuk perusahaan patungan dengan PT Aneka Tambang Tbk untuk penambangan batu bara, bijih besi, nikel, mangan. Dalam perusahaan tersebut, Mittal juga menginginkan posisi mayoritas.

Menurut Fahmi Idris, semua proposal Mittal itu akan dipelajari dan belum ada keputusan akhir baik tertulis maupun lisan. Pemerintah akan menentukan opsi yang terbaik sesuai dengan visi progrowth

"Artinya pemerintah meningkatkan investasi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi. Kalau tiba-tiba kita berpikir curiga, tidak akan terjadi," paparnya, (dry)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 1 

 Dilihat : 2890 kali