22 April 2008
Investasi Arcelor-Mittal Nggak Jelas - Tolak Rencana Strategic Sales Krakatau Steel

Jakarta, Probisnis RM - Rencana privatisasi PT Kraka­tau Steel (KS) melalui strategic sales (penjualan strategis) diper­tanyakan Lembaga Swadaya Ma­syarakat BUMN Watch dan Fe­derasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketua BUMN Watch. Naldy Nazar Haroen menegaskan, ren­cana privatisasi PT KS ini harus ditolak. "Penolakan ini perlu dilakukan agar kasus penguasaan asing atas BUMN strategis di In­donesia seperti kasus PT Indosat oleh Temasek Singapura atau Semen Gresik Grup oleh Cemex Mexico tidak terulang kembali." tegas Naldy di Jakarta, kemarin.

Dia menyarankan, apabila pemerintah ingin melakukan pri­vatisasi PT KS, pemerintah agar memilih metode Initial Public Of­fering (Pencatatan Saham Perdana/ IPO). Metode ini diyakini aman, selain kemungkinan penguasaan saham PT KS dapat dihindari, ge­jolak yang akan terjadi di intemal PT KS juga dapat dicegah.

"Apalagi investor yang akan menguasai saham PT KS melalui privatisasi itu adalah Arcelor-Mittal yang investasinya di Jawa Timur saja tidak jelas implemen­tasinya. Rekam jejak Lakshmi Mittal di Surabaya tidak cukup baik, telah lebih 30 tahun berada di Surabaya lapi tak ada perkem­bangan signifikan bahkan pabrik pakunya di Surabaya collaps," ucapnya.

Pendapat ini disampaikan Nal­dy menanggapi jaminan Menneg BUMN Sofyan Djalil yang me­ngatakan privatisasi PT KS akan sangat membantu BUMN itu untuk memperbaiki diri.

Rencananya, hari ini atau Rabu besok, perusahaan asal Italia ini sendiri akan dipanggil Kementerian Negara BUMN terkait ren­cana investasi di PT KS. "Saat ini pabrik baja global sudah sangat besar produksinya. Arcelor-Mittal itu sudah 110 juta ton. sedangkan KS hanya 2,5 juta ton, kecil sekali dibanding banyak­nya persaingan global," katanya.

Sementara itu Komisaris Utama KS, Taufiequrachman Ruki menganggap rencana pemerintah melakukan privatisasi melalui siraiegic sales itu mengabaikan kemampuan industri baja milik negara yang bersejarah itu.

Bekas Ketua KPK itu tak yakin Lakshmi Mittal, empunya Mittal sanggup memposisikan diri sebagai investor yang andal dan adil bagi pekerja PT KS. Bahkan dia memprediksi. KS akan menjadi perusahaan baja In­dia, bukan lagi milik Merah Putih.

"Seharusnya semua melihat pola privatisasi KS ini paling tidak menjual 40 persen saham kepada pengusaha baja India itu, lama-lama akan menimbulkan asingisasi di industri baja," ujar Ruki. MAF

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 20 

 Dilihat : 3223 kali