27 September 2007
KS Bangun PLTU 320 MW

JAKARTA: PT Krakatau Daya Listrik, anak perusahaan PT Krakatau Steel, segera membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 320 megawatt (MW).

Pembangunan pembangkit senilai USD320 juta ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik perusahaan agar mampu memproduksi baja dengan harga kompetitif. "Sekarang lagi ditenderkan. Yang mengerjakan power plant-nya PT Krakatau Daya Listrik, nantinya pembangkit listrik ini untuk menyuplai listrik ke KS," kata Direktur Utama (Dirut) PT Krakatau Steel (KS) Daenulhay di Jakarta, kemarin.

Daenulhay mengatakan, pembangunan pembangkit listrik baru ini dirasakan cukup mendesak untuk menjamin pasokan kebutuhan dalam upaya mendukung proses produksi. Pasalnya, kata dia, saat ini pasokan gas untuk pembangkit listrik yang telah ada di KS tersendat. "Selama ini KS hanya bergantung dari power plant sebesar 400 MW yang menggunakan bahan bakar gas. Tapi itu bermasalah, dan untuk itu digantikan dengan batu bara," katanya.

Menurut dia, pembangkit listrik baru itu akan dibangun di Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). Dengan tambahan pasokan listrik baru itu, diharapkan ongkos produksi KS bisa lebih murah karena mensubstitusi pasokan listrik dari bahan baku gas. "Mudah-mudahan tender dapat selesai tahun ini sehingga pembangunannya dapat dilaksanakan tahun depan," katanya.

Daenulhay menuturkan, pembangunan proyek ini merupakan salah satu program untuk meningkatkan daya saing produk menyusul serbuan produk impor murah asal China yang mendistorsi pasar baja di dalam negeri. Dengan mengefisiensikan pasokan listrik, diharapkan ongkos produksi dapat menurun.

Selain membangun pembangkit listrik baru, jelas Daenulhay, KS berencana membangun pabrik pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Pabrik berkapasitas 300.000 ton itu mulai konstruksi awal tahun depan dengan investasi sekitar USD65 juta. "Kami terikat dengan kerahasiaan dalam nota kesepakatan kerja bersama partner, jadi proyek itu belum bisa dijelaskan panjang lebar," tuturnya.

Dua proyek yang direncanakan dibangun awal 2008 itu diharapkan mampu mendongkrak keterpurukan KS di tengah produk baja impor murah. Daenulhay menegaskan, serbuan produk baja impor asal China dapat mematikan industri baja nasional. Pangsa pasar industri baja dalam negeri mulai tergerus dan digantikan maraknya produk asal China tersebut.

"Pangsa pasar KS untuk baja long product turun dari 30% pada tahun lalu menjadi hanya 20% dari total realisasi produksi sekitar 2,45 juta ton per tahun," tuturnya. Penurunan pangsa pasar ini, menurut dia, dialami seluruh industri baja nasional. Jika tidak diatasi, kondisi tersebut mengancam keberlangsungan usaha sektor strategis ini.

Menanggapi permasalahan yang dihadapi industri tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan sejauh ini kebijakan pemerintah memang masih mengedepankan parameter-parameter ekonomi makro tanpa memperhatikan sektor riil. Pemerintah, lanjut dia, seolah-olah menyerahkan sepenuhnya kondisi manufaktur domestik kepada para pelaku industri, termasuk persoalan pasokan energi. Dia berharap pemerintah segera merevisi kebijakannya agar lebih berpihak pada sektor riil. "Sekarang pemerintah kan masih masa bodoh," imbuhnya.

(Sumber: Harian Seputar Indonesia - 27 September 2007)

 Dilihat : 3641 kali