22 April 2008
Nasib Industri Baja, di Tangan Sendiri atau Asing

Industri baja Indonesia bak sebutir kacang di tengah kancah persaingan global. Pasalnya, produksi baja Indonesia, melalui BUMN PT Krakatau Steel, hanya sekitar 1 juta-3juta ton/tahun, sementara kebutuhan dalam negeri 6 juta-7 juta ton/tahun. Karena itu, harus ada upaya khusus untuk mendongkrak industri vital dalam perkembangan sebuah negara itu. Pilihannya, apakah menerima investasi "Si Raja Baja" dari India, Lakshmi Mittal, atau menghimpun dana melalui pasar saham untuk memperkuat PT Krakatau Steel? Wartawan SP Christin Nababan menuliskan masalah industri baja Indonesia berikut ini.

Baja mungkin bukan barang mewah seperti emas. Tetapi, tanpa baja, sulit bagi suatu negara untuk dapat maju dan berkembang. Bahkan, ada pameo yang mengatakan, suatu negara jika ingin maju, harus juga mengembangkan industri bajanya. Apalagi harganya seperti harga energi, terus naik dari tahun ke tahun.

Dengan demikian, tidak salah jika banyak orang mengatakan, suatu negara dapat maju dan berkembang bergantung pada industri bajanya. Sebab, baja merupakan salah satu produk industri yang cukup penting untuk mendukung proses pembangunan di dalam negeri.

Industri ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini dikarenakan kebutuhan baja yang terus meningkat di dunia. Baja dan besi sampai saat ini menduduki peringkat pertama logam yang paling banyak digunakan di dunia. Penggunaan baja dan besi sangat luas, mulai dari jarum, peniti, alat rumah tangga, seperti panci, penggorengan, sampai dengan alat-alat dan mesin berat.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia. Pertumbuhan baja di negeri ini hanya berkisar 1 juta-2,5 juta ton/tahun. Untuk otomotif, setiap tahun Indonesia mengimpor 1 juta ton, sedangkan 2 juta ton diimpor untuk kebutuhan konstruksi. "Kita masih mengimpor 2 juta sampai 3 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negari sebesar 6 juta-7 juta ton," ujar Direktur Logam Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian (Ditjen ILMTA Depperin) Putu Suryawirawan. kepada SP, Minggu (20/4) malam.

Sementara itu. menurut Direktur Jenderal ILMTA Depperin. Anshari Bukhari, pertumbuhan industri baja di Indonesia setiap tahun hanya berada di angka satu sampai dua persen. Hal ini terjadi karena ketimpang yang cukup besar antara persediaan dan permintaan.

"Terjadi perbedaan yang signifikan antara demand dan supply. Saat ini, industri baja dalam negeri hanya mampu memproduksi enam juta, sementara kebutuhan domestiknya mencapai delapan juta. Artinya, masih ada kekurangan dua juta, dan ini ditutupi dengan impor," tutur Anshari ditemui SP akhir pekan lalu di Bandung, Jawa Barat.

Padahal, tahun 2011 mendatang, diperkirakan kebutuhan domestik akan meningkat menjadi 10 juta ton. Oleh karena itu, pemerintah kini tengah menggenjot industri baja dalam negeri, dalam hal ini PT Krakatau Steel (KS) agar dapat meningkatkan produksinya. "Hanya itu satu-satunya cara mengurangi impor baja," katanya.

Investor Baru

Namun, ada angin baru dalam perkembangan baja di Indonesia. Kehadiran "raja baja" dari India, Lakshmi Mittal, yang ingin berinvestasi kembali ke Indonesia, mungkin saja bisa mengubah peta baja nasional di masa depan.

Pasalnya, orang terkaya nomor empat dunia, versi majalah Forbes itu, kembali ke Indonesia bukan untuk bermukim kembali, seperti ketika berimigrasi tahun 1976 dulu, melainkan untuk menanamkan dolarnya di Tanah Air.

Dia berencana membangun pabrik baja dengan skala produksi tiga sampai lima juta ton, atau bernilai sekitar US$ 5 miliar. Kabar terakhir menyebut, Lakshmi akan menggandeng KS untuk melancarkan usahanya memproduksi baja.

Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan investasi macam apa yang akan dia terapkan di Indonesia. Saya belum tahu perkembangannya sampai mana, tetapi yang jelas, kami mendukung tujuan Lakshmi untuk investasi di Indonesia. Hanya saja, investasi ini perlu dicermati. Lakshmi Mittal bukanlah seorang yang mengerti betul soal teknologi, dia hanya pandai dalam mengelola manajemen keuangan perusahaan," kata Ditjen ILMTA Depperin, Putu Suryawirawan.

Selain itu, sambung Putu, yang diperlukan industri baja dalam negeri saat ini adalah pembenahan di sektor hulu. Lakshmi, bagi Putu hanya "jago" dalam pengelolaan dana perusahaan. Produksi Ispat Tindo, yang hanya mencapai 600.000 ton, menjadi bukti ketidak pahaman Lakshmi dalam mengelola teknologi baja.

Sebelumnya, Lakshmi disebut-sebut akan melakukan strategic sale. Tetapi, upaya ini ditentang keras banyak kalangan di dalam negeri. Saat ini. Laksmi dihadapkan pada dua opsi, yakni investasi di sektor pertambangan biji besi untuk mengembangkan industri hulu baja, atau memperkuat industri hilir dengan mendirikan pabrik pengolahan besi ton.

Sementara itu, pihak Arcelor Mittal mempunyai tawaran lain, Pertama, mereka akan mengakuisisi saham KS sebanyak 40 persen sedangkan sisanya 60 persen tetap dimiliki pemerintah. Kedua, Arcelor Mittal membentuk perusahaan patungan (Joint venture) bersama KS untuk membangun pabrik baja dan Lakshmi berkuasa atas 60 persen sahamnya.

Terakhir, Mittal bersama-sama KS dan PT Aneka Tambang (Antam) membentuk joint venture membangun pabrik baja dan membeli pertambangan biji besi. Rencananya, kedua belah pihak akan mengadakan pertemuan dalam waktu dekat. Bagaimanapun, baik pemerintah maupun Lakshmi, sebenarnya sama-sama tengah mencari cara menggali ladang "emas" melalui industri baja.

Memang, bicara soal baja, tak lengkap jika tak membicarakan kiprah Laksmi. Namanya dikenal setelah sukses mengubah pabrik baja rongsokan di Surabaya, Jawa Timur, menjadi ladangnya untuk mengisi pundi-pundinya dengan jutaan dolar.

Sejumlah kalangan menilai, strategi akuisisi yang penuh perhitungan dan disiapkan dengan sangat matang sebagai kunci sukses Lakshmi dalam mengelola pabrik-pabrik bajanya.

Namun, di mata lawan bisnis Mittal. seperti Guy Dolle, Lakshmi hanya menspesialisasikan diri membeli perusahaan-perusahaan rongsokan dengan harga murah. Dolle bahkan menyebut, Mittal Steel sebagai kelompok bisnis di bawah rata-rata.

Pandangan rendah itu terus bergema, walaupun hanya perlu waktu lima bulan bagi Lakshmi untuk membeli paksa Arcelor, yang menjadi simbol supremasi Eropa di industri baja dunia.

Apa pun kata lawan bisnisnya, orang akan melihat sejarah kesuksesan Lakshmi, yang berawal ketika dia mengakuisisi pabrik baja di Sidoarjo, Surabaya. Jawa Timur. Tak disangka, pabrik ini menjadi pabrik perdananya yang mengantar Lakshmi pada pabrik-pabrik baja berikutnya.

Kesuksesannya semakin terlihat ketika Lakshmi berhasil menyulap pabrik baja Trinidad-Tobago yang merugi, menjadi perusahaan yang sangat menguntungkannya pada akhir tahun 1980-an.

Lakshmi kemudian mengakuisisi sebuah perusahaan baja Amerika Serikat (AS), International Steel Group, dan mengawinkannya dengan dua perusahaan miliknya, Ispat International dan LMN Holdings, menjadi Mittal Steel yang bermarkas di Rotterdam, LMN Holdings sebelumnya sudah memiliki pijakan kuat di pasar AS, Kanada, Meksiko, Trinidad, Jennan, Perancis, Kazakhstan. Aljazair, Polandia, Romania, Ceko, Afrika Selatan, dan Indonesia. Hal ini semakin memudahkan langkah Lakshmi menguasai pabrik baja dunia.

Untuk mengukuhkan dominasinya di pasar internasional, Mittal pun bersikukuh mendapatkan Arcelor, milik Dolle, yang merupakan pesaing beratnya. Ambisi mengakuisisi Arcelor terbukti menjadi pergulatan panjang dan melelahkan bagi Lakshmi.

Proses akuisisi yang berlangsung alot selama lima bulan menjadi pembicaraan hangat media bisnis selama berbulan- bulan. Tetapi, tawaran USS 33,6 miliar, dari sebelumnya USS 22,6 miliar, yang diberikan Lakshmi jauh lebih menggiurkan, dan akhirnya mampu melelehkan manajemen Arcelor dibandingkan dengan proposal merger dari Severstal, perusahaan baja dari Rusia. Kehadirannya kembali ke Indonesia pim tak semulus yang dibayangkan orang. Tak sedikit suarayang menentang rencana privatisasi PT KS melalui penjualan strategis, yang berarti menolak kehadiran Arcelor Mittal.

"Kami meragukan Arcelor Mittal, investor yang akan menguasai saham PT KS melalui privatisasi, sebab investasinya di Jawa Timur saja tidak jelas imple-mentasinya." ungkap Ketua BUMN Watch, H Naldy Nazar Haroen, (SP, 21/A).

Jika pemerintah ingin memperkuat indusrtri baja di dalam negeri, dengan melakukan privatisasi PT KS, BUMN Watch menyarankan agar dipilih metode pencatatan saham perdana (initial public offering//VPO.

"Saya yakin, metode ini aman. Kemungkinan penguasaan saham PT KS oleh asing dapat dihindari, gejolak yang akan terjadi di internal pr KS juga dapat dicegah," katanya.

Dia menjelaskan, penguasaan asing atas aset BUMN strategis di Indonesia, terbukti tidak hanya merugikan bangsa dan negara, juga menimbulkan instabilitas di lingkungan BUMN yang bersangkutan. Bahkan, bisa memicu instabilitas perekonomian nasional.

Menneg BUMN Sofyan Djalil sendiri menjamin bahwa privatisasi KS akan sangat membantu BUMN itu untuk memperbaiki diri. Krakatau Steel, kata Djalil, memiliki produksi sebesar 2,5 juta ton, bak sebuah kacang di tengah kancah persaingan global.

Padahal, saat ini, pabrik baja global sudah sangat besar produksinya. "Produksi Arcelor Mittal itu sudah 110 juta ton, sedangkan KS hanya 2,5 juta ton, kecil sekali dibanding banyaknya persaingan global," kata Djalil.

Namun, Komisaris Utama PT KS, Taufiequrachman Ruki menganggap, rencana pemerintah melakukan privatisasi melalui strategic sales itu mengabaikan kemampuan industribaja milik negara yang bersejarah itu. Seperti diketahui, pabrik baja itu dibangun zaman kejayaan pemerintahan Ir Soekarno.

Dia menjamin produksi baja KS bisa naik dari 2,5 juta ton meryjadi 5 juta ton pada tahun 2011. Mantan Ketua KPK itu tak yakin Lakshmi Mittal, pemilik Mittal, sanggup memosisikan diri sebagai investor yang andal dan adil bagi pekerja Krakatau Steel. Bahkan, dia memprediksi. KS akan menjadi perusahaan baja India, bukan lagi milik Merah Putih.

Dia mencontohkan privatisasi serupa di Rumania, Aljazair, Prancis, dan Nigeria, yang juga dilcikukan dengan pengusaha India. "Semuanya berakhir menyedihkan. Porsi pemerintah dalam saham industri tersebut hilang karena semua dicaplok India," katanya.

Banyak kalangan berharap, pemerintah melalui empat tahapan sebelum memutuskan metode privatisasi PT KS, apakah akan melalui IPO atau penjualan strategis. Dengan begitu, tidak ada kebijakan yang buru-buru, yang kelak akan merugikan negara ini.

Sumber : Suara Pembaruan, Page : 11 

 Dilihat : 5146 kali