23 April 2008
Krakatau Steel Gandeng ANTAM Bentuk Joint Venture

Jakarta - PT Krakatau Steel (KS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menandatangani perjanjian perusahaan patungan (joint venture agreement) untuk membangun pabrik pengolahan bijih besi di Batu Licin Kalimantan Selatan.

Dari joint venture ini akan dibentuk perusahaan baru yang diberi nama PT Meratus jaya Iron and Steel, dengan komposisi kepemilikan yaitu KS 66 persen dan Antam 34 persen.

"Pada tahap awal dibangun pabrik pengolahan biji besi dengan kapasitas 315.000 ton per tahun," kata Direktur Utama KS Fazwar Bujang di lakarta, Selasa (22/4).

Diperkirakan biaya investasi yang diperlukan mencapai 60 juta dolar AS. Dari dana sebesar itu, 35 persen akan diperoleh dari dua perusahaan sedangkan sisanya sebesar 65 persen akan diferoleh dari pinjaman bank dalam negeri.

"Untuk tahap selanjutnya supaya memenuhi ekonomisnya tercapai maka akan diproduksi 1 juta ton per tahun dalam bentuk produk billet baja," tambahnya.

Rencananya feasibility study akan dirampungkain pada tahun 2009, sehingga pada tahun 2010 pabrik mulai beroperasi pada tahun 2010.

Sementara itu, untuk jangka panjang, apabila disetujui kedua belah pihak dan terjaminnya ketersediaan bahan baku, proyek di kalsel ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi industri besi baja yang terintegrasi. Dengan demikian, dapat diproduksi biji besi hingga satu juta ton pertahun. "Untuk investasinya diperkirakan mencapai 600 juta dolar AS, tidak termasuk biaya pengembangan infrastruktur," tutur Fazwar.

Untuk tahun ini KS, menargetkan laba bersih di 2008 ini lebih dari 100 persen. Peningkatan ini didorong oleh naiknya harga baja di tingkat nasional. "Kami menargetkan laba bersih 2008 ini naik menjadi Rp 850 miliar," ujar Direktur Keuangan KS Sukandar

Pada 2007 lalu, laba bersih KS senilai Rp367 miliar, dan pada kuartal 1-2008 sudah mencapai Rp297 miliar Sedangkan untuk target pendapatan 2008 diproyeksikan bisa mencapai Rp 19 triliun.

"Saat ini untuk kuartal pertama revenue sudah mencapai Rp4 triliun," tambahnya.

Selain itu, Fazwar menambahkan, secara umum kinerja KS sendiri bagus, dari sisi cash flow operatingnya sudah cukup positif sehingga dapat menjaga likuiditas yang cukup tinggi, di mana setiap bulannya bisa mencapai sekira Rp1 triliun.

"Dengan output yang menghasilkan laba cukup besar, kita dimungkinkan untuk memproduksi utilisasi yang cukup tinggi," jelasnya.

Privatisasi KS

Sementara itu terkait rencana privatisasi KS, Fazwar mengatakan masih akan menunggu putusan pemerintah dan DPR. Penantian itu termasuk, rencana strategic sale dengan perusahaan baja dari India, Arcelor Mittal, dan IPO.

Diakui Bujang, perwakilan Mittal akan melakukan pertemuan dengan Menteri Negara (Menneg) BUMN Sofyan Djalil dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris dua-tiga hari mendatang. "Nanti akan dibahas strategic sales KS. Kami juga akan ikut membicarakan hal itu," katanya.

Namun Fazwar mengaku, belum membaca proposal yang diajukan Mittal tersebut. "Memang dalam RAKP hanya IPO saja, bukan privatisasi. Namun tidak menutup kemungkinan itu. Semua tergantung pemerintah dan DPR," katanya.* pph

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 2

 Dilihat : 3787 kali