23 April 2008
Krakatau Kembangkan Proyek Billet USD600 juta

JAKARTA (SINDO) - PT Krakatau Steel (KS) (persero) akan mengembangkan pabrik Billet (produk semi finished) berkapasitas 1 juta ton senilai USD600 juta pada 2009 mendatang. Pembangunan pabrik tersebut merupakan kelanjutan dari proyek pembangunan pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 315.000 ton senilai USD60 juta di kawasan ekonomi terpadu (kapet) Batulicin, Kalimantan Selatan (Kalsel) yang merupakan kerja sama KS dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

"Indonesia membutuhkan produksi baja yang seimbang antara flat product dan long product, sehingga tercetus untuk melanjutkan proyek Kalsel yang bisa dikembangkan menjadi pabrik billet," kata Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang kepada pers di sela-sela Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara KS dan Antam untuk Proyek Industri Besi Baja di Jakarta kemarin

Fazwar mengungkapkan, konsumsi kelompok long product terutama baja batangan  di negara berkembang masih sangat besar untuk pengembangan infrastruktur Sementara sebagian besar produksi KS berupa flaf product (baja lembaran) hanya untuk mendukung sektor industri pengolahan (manufacturing) seperti perkapalan.

Terkait dengan proyek tersebut. Komisaris Utama KS Taufik Ruki menambahkan, pihaknya membuka diri untuk bermitra dengan pihak lain termasuk perusahaan baja asing "Tentu dengan senang hati kami menerima semua pihak yang akan mengembangkan industri hulu baja di Kalsel," katanya.

Saat ini, sejumlah investor baja strategis seperti Posco Steel, Arcelor Mittal Essar, dan Nanjing berminat mengembangkan industri baja di Kalsel. Sementara, papar Fazwar, sejumlah produsen pengolahan Mef seperti pabrik kawat baja beroperasi di bawah 60% dari total kapasitas terpasang akibat kekurangan pasok Billet.

Dengan nilai investasi USD 600juta, kebutuhan infrastruktur dan teknologi pengolahan billet dapat tersedia sehingga pabrik billet baru dapat beroperasi sekitar tahun 2012. Sebagai tahap awal, KS dan Antam akan melakukan studi geologis untuk mengetahui stok bahan baku bijih besi yang digunakan sebagai bahan baku.

Pabrik billet tersebut sedikitnya membutuhkan pasok bijih besi kasar 3juta-4juta ton atau besi spons (direct reduced iron) 1,5 juta ton." Pembangunan pabrik akan diselesaikan dalam tempo 30 bulan sejak ditandatanganinya MoU ini," ucapnya.

Saat ini, katanya, KS dan Antam telah mencapai persetujuan akhir dalam mengembangkan pabrik pengolahan bijih besi berbahan baku lokal berskala 315.000 ton. Dalam perjanjian, KS mengendalikan porsi kepemilikan saham sebesar 66%, sementara Antam 34%.

Kedua perusahaan BUMN itu membentuk perusahaan bersama joint venture bernama PT Meratus Jaya Iron Steel. Dalam jangka panjang, kedua perusahaan berencana membangun pabrik billet. Menurut Ruki, pengembangan industri baja di Kalsel bertujuan untuk memeratakan pertumbuhan ekonomi di luarJawa (agung kurniawan)

Sumber :  Harian Seputar Indonesia, Page : 15 

 Dilihat : 3654 kali