23 April 2008
KS dan Antam Kerja Sama Mengolah Bijih Besi

JAKARTA, KOMPAS - PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk sepakat membangun perusahaan patungan untuk mengolah bijih besi di Kalimantan Selatan. Proyek ini diharapkan menjadi tahap awal dari pengembangan industri baja yang terintegrasi, dari penambangan bijih besi hingga produksi besi batangan di kawasan tersebut.

Perjanjian usaha patungan kedua badan usaha milik negara ini ditandatangani Selasa (22/4) di Jakarta. Pada kesempatan tersebut. Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang menjelaskan, pada tahap awal, PT KS dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan membangun pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 315.000 ton per tahun.

Pabrik pengolahan bijih besi ini akan memproduksi besi spons. Hasil produksi perusahaan patungan ini akan diserap sebagai bahari baku pengolahan baja PT KS di Cilegon, Banten.

Investasi pada proyek ini diperkirakan bernilai sekitar 60 juta dollar AS, dengan porsi kepemilikan 65 persen oleh PT KS dan 35 persen oleh PT Antam. Kedua perusahaan mendanai sekitar 35 persen modal, sedangkan 65 persen sisanya merupakan dana pinjaman dari Bank Mandiri.

Fazwar mengatakan, konstruksi pabrik patungan yang diberi nama PT Meratus Jaya Iron Steel ini direncanakan mulai dilaksanakan November 2008. Pabrik ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2010.

"Pada tahap awal, pabrik patungan ini kan masih menggunakan buhan baku yang dikumpulkan dari para produsen bijih besi, belum punya penambangan sendiri," ujar Fazwar.

Komisaris Utama PT KS Taufiequrrahman Ruki menjelaskan, pabrik pengolahan bijih besi di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batulicin, Kalimantan Selatan, ini diharapkan menjadi cikal bakal pengembangan industri besi baja yang terintegrasi di kawasan tersebut.

Industri terintegrasi

Di sisi hulu, industri terintegrasi ini akan berupa penguasaan pertambangan bijih besi, sedangkan ekspansi ke hilir berupa pabrik yang memproduksi billet (baja kasar) hingga produk baja batangan. Untuk mencapai skala ekonomis, industri terintegrasi tersebut diharapkan berkapasitas sedikitnya 1 juta ton per tahun.

Pabrik baja yang terintegrasi ini diperkirakan membutuhkan investasi senilai 600 juta dollar. Pendanaan itu belum termasuk biaya pengembangan infrastruktur, seperti pelabuhan, penyuplai air, pembangkit listrik, hingga jalan darat yang dibutuhkan.

"Apa yang ingin dilakukan oleh PT KS di Kalimantan Selatan itu sama seperti apa yang dilakukan oleh negara ini 30 tahun lalu di Banten ketika mendirikan KS. Kalau hanya ingin menguasai pabrik baja yang sudah ada, itu gampang. Namun, membangun pabrik baja itu upaya bukan main," ujar Ruki.

Fazwar menegaskan, PT KS dan Antam akan menggandeng pihak ketiga untuk turut mengembangkan industri baja terintegrasi tersebut.

Saat ini PT KS masih melakukan studi kelayakan, terutama mengkaji ketersediaan bijih besi di kawasan itu. Studi ini diharapkan selesai tahun 2009.

Untuk mengembangkan proyek ini, PT KS diharuskan membentuk perusahaan patungan karena anggaran dasar dan anggaran rumah tangga pendiriannya melarang BUMN ini beroperasi di sektor hulu. (DAY)

Sumber : Kompas, Page : 21

 Dilihat : 4479 kali