23 April 2008
KS-Antam Bangun Pabrik di Kalsel

JAKARTA (Ml) PT Krakatau Steel (KS) dan PT Aneka Tambang (Antam) membentuk perusahaan patungan untuk mengolah bijih besi di Kalimantan Selatan dengan investasi sekitar US$60 juta.

"Dalam kesepakatan itu KS menguasai saham perusahaan patungan sebesar 65% dan Antam 35%," kata Direktur Utama KS, Fazwar Bujang, seusai menandatangani nota kesepahaman (MoU) pembentukan perusahaan patungan yang diberi nama PT Meratus Jaya Iron Steel itu di Jakarta, kemarin.

Fazwar menjelaskan perusahaan tersebut akan mengelola pabrik pengolahan bijih besi yang akan dibangun mulai November 2007 dan ditargetkan beroperasi pada 2010.

"Pabrik yang akan kami bangun ini diharapkan mampu menghasilkan 315 ribu ton bijih besi per tahun," katanya. Perusahaan itu akan menjadi perusahaan baja pertama yang menggunakan sumber daya alam lokal.

Lebih jauh ia menjelaskan, selain menggunakan modal dari KS dan Antam, pembiayaan proyek pembangunan pabrik bijih besi tersebut juga menggunakan pinjaman bank nasional yaitu Bank Mandiri.

Komposisi pembiayaan terdiri dari 35% dari KS dan Antam, sisanya 65% dari Bank Mandiri.Produksi bijih besi yang dihasilkan, lanjut dia, akan dikonsumsi sepenuhnya oleh pabrik pengolahan baja KS yang berada di Cilegon, Banten.

Dalam jangka panjang, KS juga berencana mengembangkan proyek tersebut sebagai industri besi baja terintegrasi dengan kapasitas satu juta ton per tahun, mulai dari penguasaan penambangan bijih besi, pabrik baja (steel making), sampai ke rolling (produk baja hilir).

"Studi kelayakan proyek itu (pabrik baja terintegrasi dari hulu ke hilir) akan selesai pada 2009. Pembangunan pabrik baja terintegrasi itu sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku," kata Fazwar.

Ia mengatakan KS juga menunggu investor strategis untuk berinvestasi membangun pabrik baja terintegrasi di Kalimantan Selatan itu, diperkirakan membutuhkan investasi sebesar US$600 juta.

Investasi sebesar itu di luar biaya pembangunan infrastruktur yang harus dilakukan di pabrik baja Kalimantan Selatan. Pasalnya, daerah belum memiliki infrastruktur, baik berupa jalan, pelabuhan, sarana air bersih, maupun pembangkit listrik.

Membuka diri

Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama KS Taufiequrrahman Ruki menegaskan, pihaknya membuka diri untuk bermitra dengan pihak lain termasuk perusahaan baja asing. Pernyataan itu secara implisit menegaskan sikap KS atas tawaran produsen baja dunia Arcellor-Mittal.

"Tentu dengan senang hati kami menerima semua pihak yang akan mengembangkan industri hulu baja di Kalsel. Kita sambut dengan tangan terbuka," katanya.

Selain KS, sejumlah investor baja strategis seperti Posco Steel, Arcelor-Mittal, Essar, dan Nanjing telah menyatakan minatnya untuk mengembangkan industri baja di Kalsel.

Terkait rencana privatisasi KS, ekonom Indef Imam Sugema mengingatkan pemerintah untuk belajar dari kasus penjualan Indosat, beberapa tahun lalu. "Menteri-menteri yang memang ingin menjual KS ke partner strategis harus belajar dari pahitnya kasus penjualan Indosat," kata dia.

Sumber : Media Indonesia, Page : 15 

 Dilihat : 3324 kali