24 September 2007
Tingkatkan Daya Saing Industri Baja Butuh Dukungan

JAKARTA: Industri baja di dalam negeri membutuhkan dukungan pemerintah dan perbankan untuk ekspansi dan meningkatkan daya saing menghadapi pasar global.  "Pengembangan industri baja di dalam negeri harus didukung pemerintah dan kredit perbankan yang murah agar bisa ekspansi dan meningkatkan daya saing," ujar Dirut PT Bakrie & Brothers Tbk (BB) Bobby Gafur S Umar di Jakarta, akhir pekan ini.

Ia menilai industri baja di dalam negeri relatif lamban perkembangannya dibandingkan negara lain, seperti Korea Selatan (Korsel) dan Cina, yang memulai pembangunan industri baja relatif sama dengan Indonesia. Namun kini Korsel dan Cina menjadi pemain baja kelas dunia dengan kapasitas yang besar, terutama Cina yang memiliki kapasitas produksi baja sekitar 460 juta ton per tahun, sedangkan Indonesia masih sekitar empat juta ton per tahun. "Industri baja di Cina mampu berkembang sangat cepat karena mendapat dukungan pemerintahnya, baik dalam pendanaan investasi, kredit ekspor, dan infrastruktur, di samping permintaan domestiknya yang besar sehingga industrinya menjadi efisien," kata Bobby.

Ia mengatakan saat ini dengan kapasitas produksi baja yang besar, Cina menjadi ancaman bagi industri baja di Indonesia, karena bila pertumbuhan negara itu mengalami perlambatan dan pembangunan dalam rangka persiapan Olimpiade 2008 usai, maka negara itu akan mengalami kelebihan produksi. "Kalau 10 persen saja produksi baja Cina dilempar ke Indonesia, bisa menjadi ancaman bagi industri baja kita. Karena itu industri baja nasional harus disiapkan agar mampu bersaing," ujar Bobby.

Menurut dia, mempersiapkan industri baja nasional agar mampu bersaing dengan berbagai dukungan seperti kredit murah untuk industri pendukung infrastruktur termasuk baja, serta fasilitas lainnya sangat penting dibandingkan pemerintah melindungi industri itu dengan tarif bea masuk (BM) tinggi. "Sudah tidak saatnya lagi industri baja kita dimanjakan dengan tarif BM, tapi dukungan pemerintah harus diarahkan pada fasilitas untuk meningkatkan daya saing menghadapi pasar bebas yang perangkat tarifnya cenderung menurun," katanya.

Karena itu, ia mendukung rencana pemerintah mengembangkan bahan baku baja yaitu bijih besi (iron ore) di Kalimantan Selatan, sehingga kelak bisa membuat industri baja lebih efisien dan bersaing mengingat selama ini bahan baku masih diimpor, seperti dari Brasil yang biayanya tinggi. "Industri baja seperti Krakatau Steel (KS) harus didukung untuk berkembang dan ekspansi sehingga industri hilirnya seperti pipa juga bisa bersaing," ujar Bobby yang dalam Grup Bakrie juga ada tiga perusahaan pipa baja.

Sementara itu, Perusahaan baja Cina, China Nickel Resources Holding Company Ltd, siap membangun pabrik baja di Kalimantan Selatan. Pabrik baja ini nantinya memiliki kapasitas produksi 1 juta ton per tahun.
Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Deperin, Ansari Bukhari, menuturkan perusahaan baja Cina ini akan bekerja sama dengan perusahaan pertambangan bijih besi lokal, PT Yiwan Mining. "Mereka akan ikut memanfaatkan sumber bahan baku bijih besi yang ada di Kalsel."  Sebelumnya, kata Ansari, produsen baja Cina tersebut berencana membangun pabrik baja di Batam.

(Sumber: Republika - 24 September 2007)

 Dilihat : 4592 kali