20 April 2008
Krakatau Steel Butuh Dana US$ 400 Juta dari Penjualan Saham

JAKARTA. Niat pemerintah menjual saham PT Krakatau Steel sudah bulat. Apalagi, produsen baja terbesar di Indonesia ini sangat membutuhkan suntikan dana segar sekitar USS 300 juta - US -100 juta atau sekitar Rp 3,68 triliun untuk ekspansi usaha. Skema penjualannya sangat tergantung kepada kondisi pasar pada tahun ini.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan, saat ini kapasitas produksi Krakatau Steel  baru sebesar 2,5 juta ton per tahun. Padahal, jumlah permintaan pasar jauh lebih besar.

"Sudah 36 tahun berdiri, Krakatau Steel berjalan di tempat," kata Sofyan di Jakarta, kemarin.  Pemerintah ingin menggenjot kapasitas produksi perusahaan pelat merah  menjadi 5 juta ton pertahun dalam lima tahun ke depan

Selain itu, teknologi pengolahan baja milik Krakatau Steel sudah ketinggalan zaman. Sofyan memaparkan, pabrik tersebut hanya mampu mengolah pelet atau produk lanjutan dari bijih besi menjadi plat baja.

Memang, Krakatau memiliki dua pabrik pengolahan, yaitu mengubah pelet menjadi plat, dan mengubah plat menjadi produk akhir. "Tapi harus didinginkan dulu, dan di pabrik kedua dipanaskan lagi," ujamya.

Ini tidak efisien dan membutuhkan biaya tambahan di tengah melonjaknya harga minyak dan gas bumi sekarang. "Kalau dulu tidak masalah karena harga gas murah," ucap Sofyan.

Karena itulah Krakatau membutuhkan teknologi baru untuk menekan biaya produksi. Sehingga, pabrik bisa mengolah bijih besi langsung menjadi produk akhir.

Kalau perusahaan ingin menggunakan teknologi tersebut maka butuh dana investasi sekitar US 300 juta - USS 400 juta. Sumber pendanaannya adalah menjual sebagian saham Krakatau melalui skema penawaran umum saham perdana ke publik alias initial public offering(IPO) atau penjualan kepada investor strategis alias strategic sale.

Sebelumnya, pemerintah hanya punya satu opsi, yaitu IPO. Namun, saat ini kondisi pasar saham tidak bagus, sehingga memunculkan opsi penjualan kepada investor strategis. "IPO sangat tergantung harga pasar, kalau strategic sale tidak," ujar Sofyan.

Kendati begitu, pemerintah hanya melakukan salah satu dari dua opsi itu. Kalau strategic sale, pemerintah hanya menjual maksimal 40% saham Krakatau kepada satu investor strategis. Menurut Sofyan, raksasa baja dunia Arcellor-Mittal sudah setuju membeli maksimal 40% saham Krakatau. "Dia setuju hanya minoritas," imbuhnya.

Selanjutnya, Krakatau akan , merancang perjanjian jual-beli  yang juga mengatur soal investasi, pemasaran, dan karyawan. Sedangkan Mittal membuat proposal investasi berupa pembangunan pabrik dengan menerapkan teknologi baru.

Mittal akan melakukan presentasi di Kementerian BUMN, Selasa pekan depan. "Lalu akan kami kaji," kata Sofyan.

Angga Aliya, Yura Syahrul.

Sumber : Harian Kontan, Page : 5

 Dilihat : 4163 kali