21 April 2008
Lakshmi Datang, Krakatau Guncang

Setelah hampir dua dekade melanglang buana, triliuner Lakshmi Mittal berniat kembali berinvestasi di Indonesia. Ada kasak-kusuk yang mendorong penjualan Krakatau Steel ke mitra strategis.

PESAWAT jet Gulfstream G550 itu mendarat mulus di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis dini hari dua pekan lalu. Terbang dari Bangkok, pesawat yang dibanderol paling murah US$ 36 juta (Rp 330 miliar) itu membawa tamu istimewa. Itulah jet pribadi milik Lakshmi Niwas Mittal, manusia terkaya nomor empat dunia.

Lakshmi tidak sendirian. Chief Executive Officer Arcelor Mittal itu turun dari pesawat bersama putranya, Aditya Mittal, 32 tahun. Mereka ditemani Roland Verstappen dan Ondra Otradovec. Di perusahaan raksasa baja dunia itu, Aditya memangku jabatan chief financiai officer. Adapun Roland dan Ondra adalah vice president international affairs dan vice president mergers and acquisitions.

Datang ke Jakarta bersama jajaran terasnya, Lakshmi punya agenda besar. Pria yang menurut majalah Forbes memiliki pundi-pundi US$ 45 miliar (Rp 412 triliun) itu berikhtiar bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Ia ingin kulo nuwun untuk berinvestasi kembali di Indonesia," kata Maxi Gunawan, Co-Chairman Indonesian British Business Council, pekan lalu.

Sumber Tempo mengungkapkan, setelah menyapa beberapa stafnya yang sudah lebih dulu menunggu di Halim, Lakshmi meluncur ke Hotel Four Seasons, yang terletak di ujung Jalan Rasuna Said, Kuningan. Di situ, ia dan Aditya beristirahat di presidential suite, kamar paling mewah bertarif US$ 4.200 (Rp 38 juta) per malam. Kamar seluas 550 meter persegi yang menempati seluruh areal lantai enam itu dilengkapi lift khusus menuju lahan parkir bawah tanah.

Pagi harinya, Lakshmi dan jajaran eksekutifnya sarapan di ruang makan presidential suite. Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Ansari Bukhari, serta Maxi Gunawan ikut makan bersama. Sambil menyantap omelet, buah-buahan, dan jus semangka, Lakshmi dan Fahmi membahas industri baja nasional hingga situasi makro ekonomi. "Tapi belum bicara tentang investasi," kata Maxi. "Ia belum mau ngomong kalau belum bertemu langsung Presiden."

Dijadwalkan bertemu pukul dua siang, rombongan Lakshmi baru bertemu Presiden Yudhoyono di Istana Negara menjelang senja. Bertemu selama setengah jam, Lakshmi mulanya bercerita tentang Ispat Indo, pabrik baja pertamanya yang dibangun di Kedung Turi, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 1976. Hampir 14 tahun, Lakshmi mencurahkan hidupnya di sana, sebelum akhirnya banyak mencaplok perusahaan baja di berbagai belahan dunia. Ia lalu bercerita tentang pabriknya yang kini menyebar di 61 negara.

Baru setelah itu, pria 57 tahun kelahiran Desa Sadulpur, Rajasthan, India itu mengungkapkan niatnya. "Ini saatnya bagi saya kembali dan membantu mengembangkan industri baja Indonesia dengan membangun pabrik baja terpadu," kata Lakshmi kepada Presiden Yudhoyono, seperti ditirukan Maxi. Itu sebabnya Lakshmi berikhtiar menggandeng dua perusahaan pelat merah demi memperkuat industri baja di hulu dan hilir.

Menurut Maxi, di sektor hilir, Lakshmi akan menggandeng Krakatau Steel membuat pabrik baja baru.Tapi, "Kalau Krakatau tidak berminat, ArcelorMittal akan jalan sendiri," kata Maxi, yang juga menjabat Direktur Kamar Dagang dan Industri Indonesia komite Inggris.

Adapun di sektor hulu, Lakshmi berencana menggandeng PT Aneka Tambang untuk mengembangkan pertambangan di Kalimantan, yang masih ada kaitan dengan industri baja. Rencana itu bagian dari upaya Lakshmi mengamankan pasokan bahan baku bijih besi, mangan, dan nikel. Seluruh rencana itu paling sedikit menelan biaya US$ 3 miliar, bahkan bisa hingga US$ 5-8 miliar. "Dana itu untuk investasi pabrik baja terpadu jangka panjang," kata Maxi.

Dalam pertemuan dengan Presiden, Maxi menambahkan, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari Lakshmi terang-terangan untuk membeli saham Krakatau Steel. "Apalagi sampai menyebut angka sekian persen." Lakshmi memang mendengar kabar tentang rencana privatisasi Krakatau Steel. Ihwal rencana itu, ia hanya akan ambil bagian bila diperkenankan. "Bila tidak, ia tidak akan ambil," kata Maxi.

Setelah bersua Presiden, rombongan Lakshmi langsung ke Halim Perdana-kusuma. Sementara anaknya dengan jet pribadi yang lain terbang ke Kuala Lumpur, Lakshmi lepas landas ke Surabaya. Turun dari pesawat, ia langsung meluncur ke Sidoarjo, melihat pabrik pertamanya. Setibanya di Ispat Indo, Lakshmi berdoa 15 menit di kuil yang ada di dalam pabrik, sebelum berputar-putar melihat pabrik berkapasitas 650 ribu ton yang dulunya bekas areal sawah seluas 16,5 hektare itu.

Besok paginya, Lakshmi kembali ke Ispat Indo. Ia berkeliling pabrik,  menggelar rapat, dan mengumpulkan manajer senior. "Ia sempat bernostalgia  mencari karyawan yang bekerja sejak era 1970-1980-an," kata sumber Tempo. Demi mengenang masa lalu, beberapa album foto lawas diboyongnya. Siang itu ia meninggalkan Surabaya, terbang menuju Cina.

KEDATANGAN Lakshmi Mittal diawali surat elektronik seorang eksekutif ArcelorMittal pada pertengahan I Maret lalu. Surat itu, atas saran Indonesian British Business Council yang  ada di London, ditujukan ke Maxi Gunawan. Isinya menjelaskan soal keinginan Lakshmi berinvestasi di sektor pertambangan bijih besi, nikel, dan mangan. Juga untuk membangun pabrik baja baru.

Surat itu berbalas. Maxi meminta Arcelor Mittal datang ke Indonesia. Oleh Maxi, para eksekutif Arcelor Mittal yang terdiri dari Roland Verstappen, Ondra Otradovec, dan Aditya Mehra (head of mergers and acquisitions) dipertemukan dengan tiga menteri, akhir Maret lalu. "Tugas saya menjembatani mereka yang ingin berinvestasi ke Indonesia," kata Maxi.

Selama dua hari, mereka bertemu Menteri Energi Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Mari Pangestu, dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Sebelum pulang ke London, mereka juga sowan ke Dedy Aditya Soemanegara, Direktur Utama Aneka Tambang.

Dari Menteri Purnomo, eksekutif ArcelorMittal itu memperoleh peta bumi pertambangan Indonesia. Mereka mendapatkan informasi tentang situasi industri baja nasional ketika berbincang dengan Fahmi. Adapun dengan Mari khusus bicara mengenai ekspor-impor bahan baku dan produk baja.

Pulang dari Indonesia, hasil kunjungan itu menjadi bahan rapat manajemen Arcelor Mittal di London, kota tempat Lakshmi menetap selama ini. Hasilnya, Aditya Mittal meminta kepada jajaran terasnya agar mengatur pertemuan dengan Presiden Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, atau menteri terkait. "Dua vice president itu bertanya ke saya apakah bisa bertemu dengan Presiden bila Lakshmi datang ke Jakarta pada 10 April," kata Maxi.

Setelah itu Maxi melayangkan surat ke Badan Koordinasi dan Penanaman Modal ihwal permohonan itu. Selain berkoordinasi dengan M. Lutfi, Kepala Badan Koordinasi, Maxi juga mengirim surat ke Presiden dan Wakil Presiden, atas nama Indonesian British Business Council, dua hari sebelum rombongan Lakshmi tiba.

Meski jadwalnya mepet, Presiden Yudhoyono bersedia menerima Lakshmi dan Aditya. Sepulang menemui Habib Lutfi di Pekalongan, Jawa Tengah, Yudhoyono menerima Lakshmi. Selain Fahmi Idris dan M. Lutfi, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono hadir dalam pertemuan itu.

KUNJUNGAN Lakshmi itu belakangan memercikkan keriuhan. Komisaris, manajemen, dan karyawan Krakatau Steel kompak menentang bila Lakshmi hendak merengkuh saham  perusahaan baja pelat merah itu. Ratusan serikat pekerja Krakatau menggelar unjuk rasa di depan kantor Departemen Perindustrian, Senin pekan lalu.

Kekhawatiran Krakatau bukan tanpa sebab. Satu dekade silam, ketika Kementerian Badan Usaha Milik Negara dipimpin Tanri Abeng, Lakshmi pernah berniat membeli saham Krakatau. Ia saat itu sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Tanri. Tapi rencana itu buyar karena ditentang Dewan Perwakilan Rakyat dan manajemen.

Kecemasan Krakatau kini menumpuk karena setelah kunjungan Lakshmi berembus kabar bahwa ArcelorMittal hendak membeli saham Krakatau 30 persen. Tetapi niat membeli saham Krakatau itu baru penjajakan. "Ya, masih sebatas say hello, kok sudah ditolak," kata M. Lutfi.

Entah kebetulan atau tidak, beberapa anggota panitia kerja privatisasi di Dewan juga getol mendorong pendirian Pabrlk Baja PT Ispat Indo di Sidoarjo jualan Krakatau ke mitra strategis. Desakan penjualan dari anggota Dewan itu bahkan muncul bersamaan dengan kedatangan eksekutif ArcelorMittal pada akhir Maret lalu. "Tapi yang mendorong orangnya itu-itu saja," kata Komisaris Utama Krakatau Taufiequrachman Ruki, seperti dikutip Koran Tempo.

Itu sebabnya, anggota Komisi Keuangan Dradjad H. Wibowo meminta Komisi Pemberantasan Korupsi mengawasi proses privatisasi Krakatau. Kekhawatiran itu muncul setelah ia melihat ada kasak-kusuk di kalangan Dewan yang rajin mendorong penjualan Krakatau ke mitra strategis. Beberapa anggota Dewan itu, kata dia, memiliki peran sebagai calo. "Mereka ingin memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi," katanya.

Komite privatisasi memang sudah menyiapkan dua opsi buat Krakatau, yakni penawaran saham perdana atau penjualan ke mitra stratregis. Besarnya saham yang akan dilego dengan dua cara itu sama, yakni 30 persen.

Dua pilihan yang diajukan pemerintah itu, kata ketua panitia kerja privatisasi Komisi Keuangan Asman Abnur, belum diputuskan oleh Dewan. Dua opsi itu masih harus didalami dan mendapat persetujuan Komisi Keuangan. Ia membantah tudingan ada anggota panitia kerja yang bergerak sebagai calo dalam pembahasan privatisasi Krakatau.

Namun Fahmi Idris mengatakan, opsi penawaran saham perdana sudah dibatalkan pemerintah. Penawaran saham itu, kata dia, tak akan efektif mendongkrak produksi baja nasional. Penawaran saham perdana ini hanya akan menambah dana. "Tapi langkah itu tak berdampak besar bagi upaya peningkatan produksi Krakatau, yang cuma 2,5 juta ton meski sudah berusia 30 tahun," kata Fahmi Idris kepada Wahyudin Fahmi dari Tempo. Fahmi Idris menganggap penjualan ke mitra strategis lebih efisien karena produksi Krakatau bisa digenjot menjadi 8-10 juta ton pada 2011.

Lepas dari pro dan kontra opsi mana yang nantinya akan dipilih buat Krakatau, Maxi memastikan, Lakshmi tidak pernah menyebut besarnya persentase saham yang akan dibidik. Detail rencana investasi ArcelorMittal pun, kata dia, baru akan dikonkretkan lewat sepucuk surat yang akan dikirim Lakshmi kepada Presiden Yudhoyono. "Surat itu sudah diteken pada Kamis malam, dan sedang dalam perjalanan," kata Maxi. Ia berharap semua pihak bersabar menunggu kepastian rencana investasi itu.

Yandhrie Arvian, Venny Melyanl.

Sumber : Tempo Mag - Indonesian, Page : 101 

 Dilihat : 3569 kali