21 April 2008
Privatisasi PT KS Belum Putus - Pemerintah Diminta Tidak Menjual kepada Mitra Strategis

JAKARTA, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla telah meminta Menteri Perindustrian Fahmi Idris untuk meneliti dan mengkaji sejumlah aspek terkait dengan rencana privatisasi PT Krakatau Steel bagi peningkatan produksi BUMN baja tersebut.

Sambil menunggu persetujuan DPR terhadap rencana privatisasi PT Krakatau Steel (KS), pemerintah akan merumuskan hasil kajian Departemen Perindustrian, Kementerian Negara BUMN, dan PT KS.

Sejauh ini, dari sejumlah investor asal India. China, dan Korea Selatan yang menyatakan minat, baru Arcelor-Mittal yang mengajukan opsi-opsi pengembangan KS.

Demikian diungkapkan Fahmi saat ditanya pers seusai menghadiri acara pencanangan pekan nasional ke-2 keselamatan transportasi jalan oleh Wapres Jusuf Kalla di Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (20/4).

Berdasarkan catatan Kompas, awal April lalu, Presiden Yudhoyono menerima CEO Arcelor Mittal. Lakshmi Mittal, dan anaknya, Aditya Mittal, yang menjabat Chief Financial Officer, di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta.

Kedatangan raja baja asal India, yang didampingi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi, menyatakan minatnya untuk berinvestasi senilai 3 miliar dollar AS dalam bentuk kerja sama dengan Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang.

Selain Arcelor-Mittal, kata Fahmi, ada dua perusahaan India lainnya, yaitu Tata dan Ershad. "Juga investor Korsel, Poscow,dan Uga perusahaan China. Dari sekian investor itu, yang serius mengajukan opsi yang jelas bagi Krakatau Steel adalah Arcelor Mittal," "Kita tunggu DPK sampai waktunya menyetujui. Kita harapkan pertengahan semester ini bisa disetujui. Akan tetapi, memang Presiden dan Wapres minta di-teliti, dipelajari, dan dirumuskan. Hasil rumusannya juga diminta disampaikan kembali ke beliau," kata Fahmi menambahkan.

Fahmi Idris tolak IPO

Menurut Fahmi, rencana pengembangan yang akan dilakukan kepada KS adalah penjualan kepada mitra strategis dengan pelepasan saham pemerintah sebesar maksimum 40 persen.

"Jadi, bukan penjualan saham perdana (initial public offering/ IPO). Karena, kalau IPO. KS bukan lagi BUMN, tetapi punya swasta Karena. IPO kan bisa lebih dari 50 persen," kata Fahmi menambahkan.

Fahmi menyatakan, selama 30 tahun ini, kinerja KS masih belum optimal. Sebagai BUMN penghasil besi dan pelat baja, KS hanya mempunyai kemampuan berproduksi sebesar 2,5 juta ton besi baja. Padahal, kebutuhan nasional akan besi dan pelat baja mencapai 6-7 juta ton per tahun.

"Yang kita butuhkan adalah peningkatan produksi sehingga bisa menguasai pasar, peningkatan efisiensi, dan bisa memenuhi semua kebutuhan nasional. Sekarang ini, untuk besi dan pelat baja bagi pembuatan mobil kita masih ekspor. Padahalkan, besi dan pelat baja untuk kebutuhan otomotif itu captive market," jelas Fahmi.

Sementara itu. Ketua BUMN Watch Naldy Nazar Haroen, sebagaimana dikutip Antara, meminta pemerintah untuk tidak tidak melanjutkan rencana privatisasi PT KS melalui penjualan strategis kepada Arcelor-Mittal

Langkah tersebut untuk mencegah terulangnya kasus penguasaan asing atas sejumlah BUMN strategis di Indonesia, seperti Indosat oleh Temasek Singapura dan Semen Gresik oleh Cemex

Meksiko.

Apabila pemerintah ingin melakukan privatisasi PT KS, Naldy menyarankan agar memilih metode IPO. Metode ini selain menghindari kemungkinan penguasaan saham PT KS juga bisa mencegah terjadinya gejolak di internal PT KS.

Menurut Naldy, penguasaan asing atas aset BUMN strategis di Indonesia terbukti tidak hanya merugikan bangsa dan negara, tetapi juga menimbulkan gejolak di lingkungan PT KS.

Apalagi investor yang akan menguasai saham PT KS melalui penjualan strategis itu adalah Arcelor-Mittal, yang investasinya di Jawa Timur tidak jelas implementasinya.

"Rekam jejak Lakshmi Mittal (pemilik Arcelor-Mittal) di Surabaya tidak cukup baik Telah lebih dari 30 tahun berada di Surabaya, tetapi tidak ada perkembangan signifikan, bahkan pabrik paku-nya di Surabaya ambruk." ungkap Naldy. Keluarga Mittal mendirikan PT Ispatindo di Sidoarjo, Jawa Timur, tahun 1976.

Sumber ; Kompas, Page : 19 

 Dilihat : 2935 kali