21 April 2008
Presiden Minta Penjualan Krakatau Steel Diteliti

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar tawaran Lakshmi Mittal untuk membeli sebagian saham PT Krakatau Steel diteliti, dipelajari, dan dirumuskan. Lakshmi Mittal adalah Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Arcelor Mittal, produsen baja terbesar dunia.

"Nanti (setelah dirumuskan) akan dikembalikan kepada beliau (Presiden)," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris di Jakarta kemarin. Namun, kata Fahmi, Mittal tidak akan membeli saham Krakatau Steel lebih dari 40 persen. "Kalau lebih dari itu, namanya bukan BUMN lagi," kala Fahmi.

Pemerintah juga telah menekankan bahwa Mittal tidak akan menjadi pemegang saham mayoritas. "Krakatau Steel tetap menjadi milik Indonesia," kata Fahmi. Apalagi persoalan yang dihadapi Krakatau Steel saat ini bukan terletak pada modal.

Masalahnya, kata Fahmi, Krakatau Steel tidak dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan penguasaan pasar serta tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar. Selama 30 tahun, Krakatau Steel hanya memproduksi 2,5 juta ton baja. Padahal kebutuhan baja di dalam negeri 6-7 juta ton per tahun.

Karena itu, Krakatau Steel membutuhkan investor untuk menjadi mitra strategis. Bahkan, selain Mittal, kata Fahmi, ada sejumlah investor lain yang ingin berinvestasi di industri baja, seperti Tata dan Escar. Ada juga Posco dari Korea Selatan dan tiga perusahaan lain dari Cina.

"Tapi yang serius memang baru Mittal," kata Fahmi. Mittal memiliki dua opsi di kawasan industri Cilegon, Banten. Opsi pertama adalah menjadi rekan strategis Krakatau Steel dan opsi kedua membangun pabrik baja yang baru bersama Krakatau Steel.

Fahmi berharap pada pertengahan tahun ini pemerintah sudah dapat memutuskan investor yang akan membeli saham Krakatau Steel. Namun, keputusan pemerintah itu harus menunggu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Sumber : Koran Tempo, Page : B3 

 Dilihat : 3041 kali