21 April 2008
Masuk Yes, Dipimpin Asing No - Investasi Mittal dI Industri Baja Nasional

Jakarta, Probisnis RM. - Tampaknya semakin terbuka peluang Arcelor-Mittal berinvestasi di PT Krakatau Steel (KS). Selasa depan, perusahaan asal Italia ini akan dipanggil Kementerian Negara BUMN terkait rencana investasi di PT KS.

"Kita akan minta Mittal menjelaskan keinginan berinvestasi ke KS. Jadi lihat saja nanti, layak atau tidaknya produsen baja terbesar itu masuk ke Indonesia," ujar Menneg BUMN Sofyan Djalil usai acara Business Dialogue bertema Increasing lndonesia Competitiveness Trough Corporate Performance Excellence di Jakarta, Sabtu (19/4).

Ada tiga opsi yang ditawarkan Mittal. Pertama, mengembangkan sendiri usaha penambangan yang berkaitan dengan industri baja. Kedua, menawarkan diri menjadi mitra strategis bagi PT Krakatau Steel (KS) dan ketiga membentuk perusahaan joint venture patungan dengan PT KS.

Sofyan mengatakan, pada intinya pihaknya menyambut baik keinginan Mittal sebagai produsen baja terbesar di dunia untuk investasi di Indonesia. Terlebih, Mittal menawarkan ide atau tiga opsi yang menurutnya sangat bagus.

"Agar tidak menimbulkan banyak persepsi, kita lihat saja bagaimana isi penjelasaan proposal Mittal soal investasinya di Indonesia. Di situ akan ketahuan," kata Sofyan.

Menurutnya, pihaknya tidak akan gegabah dalam mengambil putusan apakah itu IPO atau strategis sales (penjualan strategis). Baginya, KS adalah perusahaan baja terbesar di ASEAN yang patut dijaga, la tidak mau KS hanya menjadi importir saja. "KS harus menjadi industri baja terbesar di negeri sendiri. Itu harapan kami." ucapnya.

Ketika ditanya prioritas IPO untuk KS, pria asal Aceh ini belum bisa memastikan Yang jelas, industri baja tidak boleh dipimpin oleh asing.

Privatisasi PT KS sendiri, kata Sofyan bukanlah karena masalah keuangan perusahaan baja milik negara tersebut. Untuk itu, bila terjadi kerjasama antara KS dan Mittal pada intinya untuk masa depan KS yang lebih prospektif khususn dan industri baja dalam negeri pada umumnya.

"Bagaimana supaya industri baja di dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kalau tidak, nanti kita akan jadi importir," katanya.

Saat ini kapasitas industri baja nasional baru sekitar 2,5 juta ton dan pada 2011 ditargetkan mampu mencapai paling sedikit 10 juta ton.

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 20

 Dilihat : 2978 kali