19 April 2008
Pemerintah hanya pilih satu opsi

Bisnis Indonesia JAKARTA PT Krakatau Steel (KS) butuh dana US$400 juta untuk mengembangkan teknologi yang lebih efisien guna menekan biaya produksi.

Dana sekitar Rp3,6 triliun tersebut diharapkan dapat diperoleh dari privatisasi KS melalui penawaran umum perdana (initial public offering/lPO) 30% saham BUMN itu atau menerima tawaran mitra strategis dari Arcelor-Mittal.

Menurut Meneg BUMN Sofyan Abdul Djalil, KS perlu meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan teknologi yang mampu menekan penggunaan energi.

Untuk itu, perusahaan baja pelat merah tersebut membutuhkan dana sekitar USS300 juta sampai USS400 juta. "Selama ini proses produksi KS tidak efisien karena pemanasan lembaran baja berlangsung dua kali, sehingga menyerap penggunaan energi yang berlebihan," ujar Sofyan kemarin.

Berkaitan dengan kebutuhan itu,Kementerian BUMN meminta manajemen KS mempelajari paparan Arcelor-Mittal yang dijadwalkan berlangsung Selasa atau Rabu pekan depan.

Arcelor-Mirtal telah menawarkan kepada pemerintah tiga opsi.Pertama, akuisisi sampai maksimal 40% saham KS dan sisanya 60%tetap dimiliki pemerintah. Kedua,Arcelor-Mittal membentuk perusahaan patungan bersama KS untuk membangun pabrik baja berkapasitas 6 juta ton. Mittal akan menguasai 60% saham patungan. Ketiga, Mittal membentuk perusahaan patungan bersama KS dan PT Aneka Tambang Tbk untuk membangun pabrik baja dan membeli pertambangan bijih besi.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk Dedi Aditya Sumanagara juga membenarkan perseroan sedang menjajaki berbagai kemungkinan kerja sama dengan Arcellor-Mittal."Kami sudah bertemu beberapa kali guna membicarakan berbagai kemungkinan kerja sama."Sofyan menambahkan, dua opsi terakhir yang ditawarkan Mittal tidak akan mengubah struktur kepemilikan di KS.

Oleh karena itu, dia meminta manajemen KS mendengarkan paparan proposal Arcelor-Mittal. "Setelah itu baru putuskan apakah menerima atau menolak," kata Sofyan.Pemerintah, lanjutnya, hanya akan memilih satu opsi. "Kalau opsi akuisisi oleh Mittal yang dipilih,opsi IPO tidak akan dipilih," dia menegaskan. Pasalnya, jika opsi IPO tetap dipakai, Mittal bisa memperbesar porsi kepemilikan melalui pasar modal.

Opsi IPO

Namun, lanjutnya, bisa saja setelah lima hingga enam tahun ke depan setelah masuknya Mittal, opsi IPO KS dimunculkan lagi asalkan kapasitas produksinya sudah mencapai 12 juta ton.Saat ini, kapasitas produksi baja nasional sekitar7,02 juta ton.

Jika proposal Mittal diterima,Sofyan mengingatkan agar manajemen KS berhati-hati menyusun klausul perjanjian jual-beli guna memastikan tidak ada klausul yang mendilusi kepemilikan pemerintah di BUMN itu.

Mittal, menurut Sofyan,telah menerima syarat pemerintah memiliki maksimal 40% saham Krakatau."Dalam presentasinya di depan Presiden, mereka setuju hanya membeli maksimal 40% saham. Mittal bahkan mau 30%."

Sofyan berharap perjanjian jual beli saham antara KS dan Mittal dapat diatur secara detail,dan akan lebih bagus dari penjualan saham BUMN lain seperti PT Indosat Tbk dan PT Semen Gresik Tbk.

"Yang penting kita buat perjanjian jual beli yang bagus. Mereka harus investasi berapa, lalu juga mengenai kebijakan SDM, dan pemasaran. Semua kami atur."

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 1

 Dilihat : 3376 kali