19 April 2008
Lindungi Kepentingan Nasional Terkait, Pemerintah Perketat "SPA

Jakarta, SENTANA Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, segera menyusun dan memperketat "Sale and Purchase Agreement" (SPA) untuk melindungi kepentingan nasional terkait rencana investasi raksasa baja internasional, Arcelor-Mittal di PT Krakatau Steel.

"Kita akan buat SPA yang memungkinkan kita tetap mayoritas dan selama investor mau maksimal 40 persen, saya pikir itu tidak masalah," kata Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, di Jakarta. Jumat.

Ia mengatakan, dengan kepemilikan saham yang tetap mayoritas di PT KS, maka keputusan tetap ada di tangan BUMN tersebut, dengan begitu diharapkan kepentingan nasional tetap terlindungi.

Pihaknya akan memperketat ketentuan-ketentuan dalam SPA yang di dalamnya memuat di antaranya besaran investasi, sumber daya, dan market.

"Selama investor minoritas (kepemilikan sahamnya), maka term and condition tetap kila yang tentukan," katanya.

Menteri menekankan, saat ini industri baja nasional terutama di PT KS masih memerlukan investasi sekitar 200-400 juta dolar AS. Investasi tambahan tersebut diharapkan mampu mendongkrak produktivitas baja nasional menjadi di atas 5 juta ton dari saat ini yang hanya 2,5 juta ton.

Investasi sebesar itu rencananya akan didapatkan melalui privatisasi PT KS yang saat ini sudah ditentukan dengan dua pilihan yang belum diputuskan yaitu strategic sale atau IPO (Inilian Public Offering/penawaran saham perdana).

"Kalau KS IPO misalnya 30 persen, kita bisa untung Rp1 triliun tapi dengan kondisi pasar sekarang, sepertinya tidak mungkin," katanya.

Sementara dengan opsi kedua, yaitu strategic sale 30-40 persen, katanya, akan lebih menguntungkan terlebih sudah ada Mittal yang menawarkan proposal kerjasama sebelumnya.

"Kalau kita lepas saham di atas 51 persen, kila baru khawatir, tapi kalau kita hanya jual maksimal 40 persen, tidak perlu takut karena 60 persennya masih milik kita," katanya.

Ia menekankan, dengan kepemilikan saham yang masih mayoritas di KS, maka semua hak untuk menentukan kebijakan masih ada di tangan KS.

Untuk itu, maka ketentuan-ketentuan dalam SPA-lah yang harus disusun dan semenguntungkan mungkin bagi kepentingan nasional Indonesia.

"Ide membawa Mittal ke Indonesia tidak ada ruginya, sebab kita perlu baja sekitar 11 sampai 12 juta ton dalam tempo beberapa tahun ke depan ini." katanya.

Saat ini, produktivitas baja Mittal mencapai 114 iuta ton sedangkan KS baru 2,5 juta ton per tahun. Padahal, kebutuhan baja nasional terus meningkat seiring semakin tumbuhnya perekonomian bangsa.

Sofyan mengatakan, bila Indonesia tidak bersegera meningkatkan produksi baja nasional, salah satunya dengan membeli dan menemukan "iron ore" baru, maka pasar baja dalam negeri akan diserbu negara lain seperti Malaysia, Vietnam, dan China.

Apalagi, menurut dia, konsep atau tiga opsi yang ditawarkan Arcelor-Mittal tergolong ideal yaitu joint venture KS-Mitltl dengan persentase 40-60, joint venture KS-Mittal dengan membentuk perusahaan baru, dan joint venture KS-Mittal ditambah perusahaan tambang dalam atau luar negeri.

Menteri mengatakan, meningkatkan produksi baja nasional investor siapapun termasuk Mittal sah-sah saja agar kebutuhan baja Indonesia sebesar 10-11 juta ton setahun dapal terpenuhi.

Selain itu, pasar baja di tingkat internasional juga terbilang menjanjikan, misalnya hingga kini China saja membutuhkan 200-300 juta ton baja setahun. Terlebih sejumlah daerah misalnya di Kalimantan masih menyimpan cadangan tambang biji besi sekitar 600.000 ton yang cukup untuk memasok kebutuhan selama 20 tahun meskipun kualitasnya di bawah 50 persen.

Singkatnya, secara umum kila perlu investasi baja nasional, Mittal masuk tidak masalah selama kita masih mayoritas," katanya.

Pihaknya meminta manaie-men KS untuk mendengar dan mempelajari terlebih dahulu proposal yang diajukan Mitlal. Pemerintah sendiri akan mendukung keputusan terbaik bagi KS demi mengembangkan produksi baja nasional.

Millal segera mempresentasikan proposal kerjasamanya di depan manajemen KS dan pemerintah di Kantor Kementerian Negara BUMN pada Selasa (22/4)ANT

Sumber : Sentana, Page : 4 

 Dilihat : 4251 kali