21 September 2007
Pengusaha Baja Tulang Beton Bantah Temuan BSN

JAKARTA - Pengusaha Industri baja tulang beton membantah hasil temuan Badan Standardisasi Nasional, (BSN) yang mencatat sebanyak 98,2% produk baja tulang beton dalam negeri tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Temuan BSN itu diperkirakan karena survei dilakukan atas produk pengusaha asal China yang hengkang ke Indonesia.

"Dari 32 anggota saya, seluruhnya lolos SNI. Anda bisa lihat dari proyek-proyek gedung bertingkat yang dikerjakan, semua bahan bakunya lolos SNI," kata Ketua Umum Asosiasi Pabrik Billet Besi Beton Batang Kawat Seluruh Indonesia (APB4KSI) Ismail Mandiri di Jakarta, kemarin.
Ismail mengatakan di luar APB4KSI, banyak pengusaha asal China yang menjual produknya di Indonesia. Sebagian besar, kata dia, tersebar di wilayah Jakarta, Medan,dan Surabaya. "Mereka memang pengusaha yang memproduksi dalam skala kecil dan tidak jelas," katanya. Selain itu kata dia, hasil temuan BSN juga disinyalir mengacu pada produk impor, asal China yang mencapai pangsa pasar dalam negeri sebesar 15-20%.
Ismail menegaskan, pihaknya mendukung upaya BSN untuk melakukan notifikasi kepada Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). Langkah ini penting untuk membuat regulasi teknis yang jelas. "Biar jelas ada aturan wajibnya," imbuh dia.

Sementara itu, Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Daenulhay mengatakan, temuan BSN berdampak buruk pada kondisi pasar baja dalam negeri sekaligus berimplikasi kepada perusahaan-perusahaan dalam negeri yang telah mengantongi SNI. "Jelas merusak pasar dan mematikan perusahaan yang taat SNI," katanya. Berdasarkan catatannya, produk hasil KS Group meraih pangsa pasar 11% dari total industri baja di dalam negeri, dimana keseluruhan produk KS telah memenuhi SNI.

Sementara itu, Direktur Logam Departemen Perindustrian (Depperin) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, standardisasi mengikuti SNI secara regulasi teknis belum diwajibkan untuk produk tersebut. Namun, Departemen Perindustrian (Depperin) mengimbau agar kalangan industri baja tulang beton segera mengonversi acuan standarnya, dari Standar Industri Indonesia (SH) ke SNI. Langkah ini dilakukan agar produk itu berdaya saing di pasar global.
"Kita meminta kepada para produsen baja tulang beton segera menyesuaikan ke sana," katanya. Untuk mendapatkan SNI, lanjut Putu, kalangan industri juga sebaiknya bersikap proaktif pada Lembaga Sertifikasi Produk.

(Sumber: Harian Seputar Indonesia - 21 September 2007)

 Dilihat : 3973 kali