17 April 2008
RI jaga mayoritas saham di KS

JAKARTA Pemerintah akan mempertahankan kepemilikan mayoritas terhadap PT Krakatau Steel pada saat harus melepas sebagian sahamnya melalui penjualan strategis ataupun penawaran umum perdana (initial public offering/lPO).

Meneg BUMN Sofyan A. Djalil menegaskan kementerian itu sampai saat ini dia belum menetapkan jumlah saham yang akan dilego dalam rangka privatisasi perusahaan baja itu.

Dia membantah potensi tergerusnya kepemilikan pemerintah pada Krakatau Steel menjadi minoritassetelah penjualan saham perusahaan baja itu kepada pembeli strategis dan masyarakat melalui IPO.

"Tergantung kebutuhannya saja nanti, artinya privatisasi kalau IPO [atau penjualan strategis] berapa persen. Kalaupun strategic sales kami tetap mayoritas. Jadi kalau sudah strategic sales kami tidak melakukan IPO terhadap Krakatau Steel. Tetapi kalau IPO barangkali...Kami akan lihat nanti eh." tuturnya saat ditemui wartawan di kantornya, kemarin.

Sofyan mengatakan opsi IPO atau penjualan strategis dalam rangka privatisasi bukan hanya diberikan kepada Krakatau Steel, melainkan juga ke-pada BUMN lain yang masuk dalam daftar.

Dia menambahkan apa pun proses privatisasi yang ditempuh nanti, tujuannya tak lain untuk meningkatkan kapasitas produksi Krakatau Steel dan industri baja nasional secara umum menjadi 10 juta ton pada 2011-2012. Saat ini, kapasitas produksi BUMN baja itu baru mencapai 2juta-2,5 juta ton.

Sofyan mengatakan perusahaan baja raksasa Arcelor Mirtal tertarik mengakuisisi 30%-40% saham Krakatau Steel. Namun, sejauh ini dia mengaku belum mengetahui proposal bisnis yang ditawarkan perusahaan baja raksasa yang telah mencatatkan sahamnya di sejumlah bursa itu.Menurut rencana, Arcelor Mittal baru akan memaparkan proposal bisnisnya pada pekan depan.

Dengan memiliki sedikitnya 30% saham di Krakatau Steel, maka Arcelor Mittal berhak menempatkan seorang direktur dan komisaris di perusahaan baja nasional ini.

Secara terpisah, analis Trimegah Securities Stanley Tjiandra setuju saham Krakatau Steel dijual ke pembeli strategis sebelum kemudian dicatat-kan di bursa.

"Ini akan memberikan nilai tambah sekaligus memberi keyakinan bagi pasar ketika pemodal sudah masuk ke perusahaan baja itu. Setidaknya pemodal akan memberikan sumbangsih dalam hal teknologi dan akses terhadap pasar global, serta management knowledge."

Pasalnya, dia menilai pasar baja dunia cenderung dikuasai kartel. Produsen baja bisa untung besar kalau mempunyai jaringan pemasaran yang luas dan juga terintegrasi darihulu ke hilir. Jika Krakatau Steel tidak mendapat sokongan dana yang besar akan sulit baginya untuk ikut bersaing di pasar global.

Menurut Stanley, setelah dilego kepemodal strategis Krakatau Steel dapat langsung mencatatkan sahamnya di bursa. "Pasar akan antusias ter-hadap IPO Krakatau Steel setelah melihat potensinya di masa datang dan yang penting adalah sentimennya ketika pemodal masuk."

Industri baja merupakan industri padat modal, dimana kualitas produk baja yang dihasilkan akan bergantung pada kemampuan teknologi pabrik.Di samping itu, manajemen inventori juga berperanan penting dalam menyikapi pergerakan harga baja dunia.

KS merupakan BUMN penghasil baja terpadu yang memiliki fasilitas produksi dari pabrik pembuat besi baja (sponge iron, slab baja, dan billet baja) hingga pabrik lembaran danbatangan baja.

Kuasai pasar

Di pasar lokal, KS menguasai 53%-69% pasar baja lembaran dan 30%-40% pasar baja batangan. Tahun lalu,KS memproduksi 1,76 juta ton lem-baran baja canai panas dan 566.744 lembaran baja canai dingin. BUMN itu mempunyai kapasitas produksi lembaran baja canai panas 2,4 juta ton dan baja canai dingin 950.000 ton.

Dari produksi itu, sebanyak 85% dijual di pasar domestik dan selebihnya diekspor. Di dalam negeri, KS menguasai 53%-69% pangsa pasar produk baja lembaran dan 30%-40% pasar produk baja batangan.

Pendapatan KS tahun lalu menca-pai Rp14,93 triliun di mana Rp14,22 triliun berasal dari penjualan produk baja.

Komut KS Taufikurahman Ruki belum lama ini menambahkan sepanjang 34 tahun, KS hanya menderita rugi bersih selama dua kali pada 2001 dan 2006. KS merugi Rp256,16 miliar pada 2001 karena adanya krisis di industri baja, sedangkan rugi Rp135,07 miliar dua tahun lalu karena misman-agement.

Menurut dia, KS diperkirakan membukukan laba bersih Rp320 miliar pada triwulan I tahun ini, hampir menyamai laba bersih setahun lalu Rp363,45 miliar. Lonjakan laba itu bisa dicapai karena tekad karyawan dan manajemen KS untuk menggenjot efisiensi.

"Kalau kondisi eksternal stabil sampai akhir 2008, laba bersih KS bisa mencapai Rpl triliun. Jika kinerja dan nilai perusahaan bagus, KS hanya cukup IPO 20% saham dan bisa menggunakan hasilnya untukmembiayai revitalisasi." (Bisnis, 14 April Kapasitas produksi KS tahun ini ditargetkan mencapai 2,5 juta ton dan melonjak menjadi 5 juta ton pada 2011.

Dia menambahkan KS tetap mengedepankan IPO. Melalui penjualan 20% saham melalui IPO, KSbisa menggunakan hasilnya untukmembiayai revitalisasi pabrik untukmengejar target produksi baja 5 jutaton pada 2011 dari posisi 2,5 juta ton tahun ini.

Menurut dia, kebutuhan baja didalam negeri pada 2012 diperkirakan melonjak menjadi 10 juta-12 juta ton.Untuk mengantisipasi lonjakan itu,KS harus menggenjot volume produksi.

"Dengan produksi 5 juta ton pada 2011, KS hanya bisa mencukupi 57%-60% dari total kebutuhan nasional."katanya.

Berdasarkan Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia, kebutuhan baja nasional per tahun diperkirakan 8 juta-9juta ton, sedangkan produksi baja domestik hanya 6 juta ton.

"Untuk menggenjot produksi,kami memerlukan investasi baru dan ada tawaran dari beberapa perusahaan India untuk strategic sale. Itu bagus Untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan dan produksi, tetapi KS tidak diam. Kami melaksanakan serangkaian revitalisasi, efisiensi, dan memperbaiki mesin," katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : F1 

 Dilihat : 4184 kali