17 April 2008
Fahmi Krakatau Dijual ke Mitra Strategis - Krakatau yang Diincar

Krakatau Steel adalah produsen baja terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 2.5 juta ton per tahun. Pembangun-an badan usaha milik negara strategis ini dirintis ketika masa pemerintahan Soeharto pada1 970-an. Tujuannya, mengembangkan industri nasional guna menggantikan pasokan barang impor.

Sekarang produsen baja yang berlokasi di Cilegon, Banten, itu menjadi satu-satunya perusahaan negara yang bergerak di industri hulubaja. Krakatau menjadi pemain utama di industri baja nasional. Ia menguasai 40 persen pangsa pasar Indonesia dari total produksi 4-5juta ton per tahun.

Sebagai penguasa pasar nasional, Krakatau pun diincar raksasa baja dunia. Arcelor Mittal. Apalagi BUMN ini juga mempunyai banyak keunggulan. Selain memiliki infrastruktur memadai. Krakatau mempunyai pasar domestik besar dan dekat dengan pusat bahan baku bijih besi di Australia.

Krakatau berambisi meningkatkan produksi menjadi 10 juta ton per tahun pada 2013. Untuk mengejar target tersebut, Krakatau berduet dengan PT Aneka Tambang. Keduanya akan membangun pabrik baja di Kalimantan Selatand engan kapasitas 1 juta ton per tahun.

JAKARTA - Menteri Perindustrian Fahmi Idris memastikan pemerintah hanya akan memilih opsi penjualan kepada mitra strategis dalam privatisasi PT Krakatau Steel. Namun, putusan akhir soal opsi privatisasi Krakatau ini akan ditetapkan bersama Dewan Perwakilan Rakyat.

"Opsi penawaran saham perdana (IPO) sudah didrop oleh pemerintah," ujar Fahmi kepada Tempo di ruang kerjanya kemarin. Menurut dia, keputusan membatalkan rencana IPO sudah ditetapkan pemerintah pada satu-dua bulan lalu.

Menurut dia, IPO tak akan efektif mendongkrak produksi baja nasional. Penawaran saham perdana ini hanya akan menambah dana. Tapi langkah itu tak berdampak besar untuk meningkatkan produksi Krakatau,yang cuma 2,5 juta ton di usia 30 tahun.

Fahmi mengingatkan. Krakatau perlu mengejar sasaran peningkatan produksi dengan cara bermitra dengan Arcelor Mittal, produsen baja terbesar dunia. Cara ini dianggap lebih efisien dan bermanfaat. Bahkan produksi Krakatau bisa digenjot menjadi 8-10 juta ton pada 2011. "Mittal sangat serius," katanya.

Ia mengakui pemerintah memang telah melakukan penjajakan ke luar negeri dan membuka pintu masuk bagi investor. Salah satunya mengundang Mittal ke Indonesia. Undangan itu berbuah tiga opsi tawaran investasi yang telah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pekan lalu.

Opsi pertama, dengan cara menggandeng PT Aneka Tambang Tbk. Kedua, bermitra strategis dengan Krakatau Steel lewat restrukturisasi saham perusahaan. Dan ketiga,mendirikan perusahaan patungan bersama Krakatau.

Fahmi membantah tudingan sejumlah kalangan bahwa dirinya yang membawa Mittal ke Indonesia. Namun, pengakuan datang dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi. Menurut dia, kedatangan Mittal adalah tindak lanjut dari surat Kamar Dagang dan Industri Inggris yang ditujukan ke BKPM "Jadi saya yang membawa Mittal ke Jakarta," kata Lutfi.

Meski Fahmi berkeyakinan opsi penjualan strategis akan dipilih, pendapat berbeda disampaikan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil Dia menyebutkan sampai saat ini belum ada putusan soal opsi privatisasi Krakatau Steel. Opsinya masih terbuka antara strategic sale dan IPO."Opsi mana yang akan dipilih, nanti diputuskan bersama DPR." kata Sofyan kemarin.

Meski jalan menuju akuisisi mulai terbuka,sejumlah kalangan tetap menentang rencana tersebut. Pengamat industri baja. Sudarto,mengkhawatirkan jika Krakatau diakuisisi oleh produsen baja dunia, potensi BUMN itu akan meredup karena Mittal bertahap akan mengakumulasi saham hingga mayoritas.

Ekonom Dradjad Wibowo juga berpendapat sebaiknya Krakatau dikembangkan bangsa sendiri. Soal dana, bisa dari IPO dan rekayasa keuangan. "Banyak orang Indonesia yang jago rekayasa keuangan." MnuanmiruuMiniia

Sumber : Koran Tempo, Page : B1 

 Dilihat : 3086 kali