17 April 2008
Penundaan IPO belum Ganggu Kinerja BUMN

JAKARTA (Ml) Pemerintah op­timistis mundurnya pelaksanaan penawaran saham perdana (IPO) atau penerbitan berbagai obligasi oleh BUMN tidak mengganggu kinerja perusahaan. Pasalnya, pe­nundaan itu terkait dengan kon­disi pasaryang tidak kondusif saat ini.

"Intinya, IPO itu untuk menda­patkan dana pengembangan secara optimal. Jadi kami menunggu harga penjualan saham yang terbaik saat kondisi pasar baik," ung­kap Sekretaris Menteri Negara BUMN Muhammad Said Didu saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Pasca krisis keuangan di AS, kondisi pasar uang global meng­alami ketidakpastian. Kondisi berbagai indeks saham ataupun pasar obligasi mengalami volati­litas tinggi. Akibatnya, berbagai perusahaan yang membutuhkan dana segar tidak bisa lagi meng­andalkan pasar keuangan sebagai sumber.

Namun, pada pelaksanaannya, pelepasan obligasi berbagai BU­MN mundur hingga waktu yang tidak ditentukan. Salah satunya. Pupuk Sriwijaya yang saat ini mengalami kesulitan dana dalam melanjutkan investasi di Iran.

Meski begitu, Dirut Pemering­kat Efek Indonesia (Petindo) Khalil Rowter menilai kondisi tersebut belum akan mengganggu kinerja korporat, khususnya di Indonesia.

Ia melihat pengunduran berba­gai penerbitan obligasi ataupun IPO belum mengganggu kinerja perusahaan. Pasalnya, alternatif pembiayaan seperti bank masih cukup besar.

Pada kesempatan terpisah. Di­rektur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang mengatakan pihaknya saat ini masih menung­gu keputusan pemerintah dan DPR apakah dalam proses priva­tisasi KS akan memakai pola strategic sales (penjualan strategis) atau IPO.

Untuk BUMN, sebelumnya pe­merintah telah mengagendakan privatisasi melalui mekanisme ini­tial public offering/IPO (penawar­an saham perdana). Akan tetapi, agenda itu hingga kini terus ter­tunda karena kondisi pasar ke­uangan yang buruk. Beberapa rencana privatisasi diperkirakan akan mundur ke semester II 2008 sampai dengan tahun depan. Hal itu terjadi pada rencana IPO Kra­katau Steel dan Bank Tabungan Negara.

Selain rencana privatisasi, bebe­rapa BUMN terpaksa mengun­durkan rencana penerbitan obli­gasi. Hal itu disebabkan kondisi pasar yang juga tidak kondusif. Padahal, kebutuhan dana segar bagi pengembangan usaha saat ini sudah mendesak.

sumber : Media Indonesia, Page : 13 

 Dilihat : 3438 kali