17 April 2008
KS CenderungTunggu Putusan

Jakarta, Probisnis RM.Masuknya produsen baja terbesar dunia, Arcelor Mittal ke PT Krakatau Steel (KS) dipandang internal perusahaan tidak menjadi persoalan karena memang bagian dan program privatisasi pemerintah.

"KS belum bisa memastikan apakah menggunakan strategi sales (penjualan strategis) atau IPO. Itu ranahnya pemerintah dan DPR, bukan KS. Yang jelas,KS belum memutuskan hal itu,"tegas Direktur Utama PT Krakatau Steel, Fazwar Bujang kepada Probisnis usai Lokakarya Program Kerjasama Daerah dan Industri UI (KSDI-UI) Peranan UI Dalam Peningkatan Kualitas SDM Daerah di Balairung UI Depok, kemarin.

Ia juga membenarkan rencana penjualan KS oleh pemerintahyang masuk dalam program privatisasi. Sedangkan mengenai aturannya. Bujang menyarankan agar hal itu langsung ditanyakan pada pemerintah. "KS menyerahkan sepenuhnya pada pemerintah termasuk DPR mengenai nasib KS selanjutnya," tuturnya.

Mengenai kemampuan Mittal dalam berinventasi di KS, Bujang mengaku belum mengetahuinya.

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR, Lili Asdjudiredja menegaskan, sebelum privatisasi dilakukan, perusahaan baja terbesar se Asean itu harus dievaluasi khususnya di 10 anak perusahaannya.

Karena itu, ia meminta pemerintah lewat Menneg BUMN ofyan Djalil mengevaluasi seluruh anak perusahaan KS khususnya terkait tender barang, se kaligus menindak tegas direksi ang terbukti melakukan tindakan korupsi. "Peluang terjadinya penyimpangan dalam produksi bahn baku cukup besar. aka itu, perlu dievaluas dulu,"ucapnya.

Ia meminta pemerintah tidak egabah memutuskan persoalan ersebut. Ia khawatir, masuknya Mittal akan membahayakan bagi perusahaan negara.

"Harus ada standar yang jelas yang diterapkan pemerintah khususnya kepemilikan asing di BUMN. Jika tidak, asing akan menguasai semua BUMN yang ada. Ini sangat berbahaya," ungkap Lili.

Komisaris Utama PT KS Taufiequrachman Ruki sebelumnya mengatakan, untuk meningkatkan kapasitas produksi baja diperlukan investasi baru. Tujuannya, selain supaya pemenuhan kebutuhan baja nasional, tidak perlu melalui jalur impor lagi,perseroan juga menargetkan bisa memenuhi 60-70 persen kebutuhan baja tersebut. "Karena kebutuhan baja nasional ditahun 2012 diproyeksikan akan mencapai 10-12 juta ton," tutur nya. PIK

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 20 

 Dilihat : 3473 kali