16 April 2008
DPR MINTA PEMERINTAH TEGAS - IPO Krakatau Steel Tidak Menguntungkan

JAKARTA - Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil menilai, skema privatisasi PT Krakatau Steel melalui penawaran saham perdana (initial public offering/ IPO) tidak menguntungkan mengingat kondisi pasar saham global yang sedang bergejolak.

Seiring dengan itu, kalangan anggota DPR meminta pemerintah mempertegas kebijakan terkait dengan skema privatisasi BUMN produsen baja, PT Krakatau Steel, yang diminati raksasa baja dunia. Archellor Mittal.

Skema privatisasi yang tepat dinilai mampu mendongkrak kinerja produksi KS yang memprihatinkan karena stagnan selama 38 tahun terakhir. "PT KS tidak menguntungkan untuk dilepas sahamnya melalui IPO di bursa efek saat ini. Yang penting adalah mana yang paling menguntungkan dan paling bagus mencapai sasaran," Menneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta, Selasa (15/4).

Meski demikian, lanjut dia,pemerintah tetap akan mengkaji skema terbaik dari dua metode privatisasi KS yang sudah diajukan ke DPR. Manajemen KS harus terlebih dahulu mempelajari dan mengkaji secara detail proposal yang diajukan oleh Arcellor Mittal. "Saya minta kepada manajemen KS untuk melihat dulu proposalnya karena yang penting bagaimana meningkatkan kapasitas produksi KS," katanya.

Stagnan

Secara terpisah, anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Azwir Dainy Tara menjelaskan, sejak berdiri dari 1971, kapasitas produksi KS stagnan di kisaran 2,5 juta ton. "KS terbukti tidak kreatif mencari sumber bahan baku dalam negeri. Impor hanya mengindikasikan adanya perburuan rente. Kalau sudah seperti itu, bagaimana bersaing dengan perusahaan baja dunia," paparnya di Jakarta, Selasa (15/4).

Menurut dia, pemerintah harus memutuskan skema yang terbaik untuk privatisasi KS. "Harus dihitung betul untung dan ruginya jika strategic sale atau IPO," tuturnya

Secara terpisah, ekonom Econit Hendrie Saparini menilai, perlu ketegasan pemerintah untuk menyelesaikan kekisruhan terkait rencana privatisasi KS. Pemerintah dalam hal ini Menteri BUMN perlu memposisikan KS sebagai perusahaan strategis atau tidak. "Jika ketegasan itu sudah ditetapkan, barulah KS bisa didukung agar menjadi lebih efisien dalam hal pemilihan bahan baku dan manajemennya," paparnya.

Hendrie mengakui kinerja produksi KS saat ini masih buruk, sehingga perlu dievaluasi. Selain itu, perlu tujuan yang jelas terkait rencana Archellor Mittal yang berencana membeli hingga 40 saham KS. "Apakah asing masuk untuk mendorong manajemen agar terjadi transfer teknologi atau memasukkan profesional untuk mengembangkan KS. Itu perlu diperjelas," ucapnya.

Kepala BKPM M Luthfi sebelumnya menjelaskan, privatisasi KS merupakan upaya meningkatkan kapasita produksi BUMN itu yang stagnan sekitar 2,5 juta ton selama 38 tahun beroperasi. Sedangkan kebutuhan baja domestik terus meningkat.

Selama ini KS sulit berkembang karena BUMN itu bergantung pada bahan baku impor, sehingga produk akhirnya kalah bersaing. "Kelangsungan bisnis KS bisa dikatakan bergantung pada belas kasihan perusahaan baja dunia. Langkah menggandeng mitra strategis ini merupakan jalan bagi KS keluar dari lingkaran setan itu." tuturnya.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris menjelaskan, sungguh ironis KS selama ini justru mengimpor bahan baku dari Brasil dan Australia sebanyak 2,5 juta ton per tahun. "Padahal, perusahaan baja terbesar di Tiongkok, yakni Bao Steel, justru mengimpor dari Kalimantan Selatan sejak empat tahun terakhir," paparnya.

Fahmi menilai, alasan KS yang menyatakan kadar besi (FE) bijih besi di Kalimantan Selatan rendah bukanlah hambatan untuk mengganti bahan baku dari impor. "Mestinva teknologi KS yang ditingkatkan," ucapnya, (ci 17)

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 23 

 Dilihat : 3478 kali