15 April 2008
Tabung Gas Diperbanyak - Tabung gas diupayakan diproduksi di dalam negeri.

Jakarta | Jumal Nasional SEJUMLAH daerah di Indonesia melaporkan terjadinya kelangkaan tabung gas elpiji ukuran 12 kilogram dalam beberapa hari terakhir.Akibatnya, jika pun ada harga tabung gas isi yang dijual melonjak tinggi sekitar Rp6.000 hingga Rp 8.000 dari harga normal sebesar Rp 57.000,-

Menanggapi kelangkaan tabung gas elpiji di sejumlah kawasan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, mengatakan hal tersebut terjadi karena saat ini Pertamina selaku operator dan penyedia tabung gas elpiji tengah kekurangan suplai tabung gas.
Untuk menangani kelangkaan tersebut, pemerintah berupaya memperbanyak produksi tabung gas. Pemerintah tengah melakukan negosiasi dengan sejumlah pihak termasuk di antaranya Krakatau Steel.

"Saat ini sudah rapat koordinasi dengan Krakatau Steel dan Succofindo untuk upaya pemenuhan kekurangan tersebut," kata Purnomo. Terkait dengan pengawasan kualitas (quality control, pemerintah menyerahkan kepada SNI (Standar Nasional Indonesia) selaku badan standar nasional untuk menentukannya. Akan tetapi, Purnomo menambahkan, jika upaya tersebut dinilai tidak berhasil maka pilihan terakhir yang harus dilakukan pemerintah adalah kembali mengimpor tabung gas. "Tetapi, saya berharap agar bisa segera terpenuhi, sehingga masyarakat tidak merasa kesulitan lagi menemukan tabung gas elpiji," ujar Purnomo.

Bersamaan dengan itu, Purnomo juga menjelaskan, selain kelangkaan tabung gas elpiji, pemerintah juga menyadari bahwa di sejumlah kawasan telah terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Akibatnya, masyarakat semakin terjepit dengan kondisi dua kelangkaan tersebut, sehingga memancing terjadinya kerusuhan di sejumlah tempat.

Purnomo meminta agar masyarakat tidak usah khawatir dan panik, karena sesungguhnya stok BBM subsidi masih cukup besar. "Kelangkaan tersebut akibat teknis operasional. Sebab, hingga saat ini stok masih cukup besar," ujarnya.

Purnomo mengaku khawatir bila kondisi kepanikan ini terus meluas, bisa menyebabkan kelangkaan BBM benar-benar terjadi. Bisa dibayangkan akibat kepanikan di satu lokasi dan pemberitaan yang terlalu berlebihan, masyarakat di kawasan lain ikut panik dan akhirnya membeli dalam jumlah yang besar untuk disimpan.

Meski demikian ia tidak menampik bahwa kepanikan tersebut disebabkan kesalahpahaman masyarakat berkait peluncuran program kartu kendali minyak tanah yang berlangsung di Semarang. "Mereka khawatir kartu kendali ini akan dilakukan dengan cepat. Padahal program ini akan dilakukan sosialisasi dahulu," kata Purnomo.
* Sud Dian H

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 9 

 

 Dilihat : 2745 kali