14 April 2008
Muncul opsi KS dijual ke investor

JAKARTA: Sebagian anggota Komisi XI DPR mengisyaratkan lebih memilih langkah privatisasi terhadap PT Krakatau Steel (KS) melalui penjualan 40% saham kepada investor strategis daripada opsi penawaran umum perdana.

Isyarat itu terungkap dalam rapat tertutup Panja Privatisasi Komisi XI DPR dengan manajemen KS yang diselenggarakan pada awal pekan lalu.

Sikap Komisi XI DPR itu berbeda dengan Kementerian Negara BUMN yang lebih memprioritaskan privatisasi KS lewat IPO pada tahun ini dengan tetap memperhatikan kondisi bursa saham.

Sumber Bisnis yang mengetahui pembahasan dalam rapat tertutup itu mengatakan beberapa anggota Panja Privatisasi cenderung mendorong skema penjualan kepada investor strategis (strategic sale) dalam privatisasi KS, meskipun BUMN penghasil baja itu masih melaksanakan restrukturisasi internal.

"Upaya itu mengindikasikan adanya lobi tingkat tinggi. Di sisi lain, KS dan Kementerian Negara BUMN cenderung memilih IPO dibandingkan dengan strategic sale. Dari IPO 30% saham saja, KS diperkirakan meraup dana Rp2.5 triliun hingga Rp3 triliun," tuturnya, pekan lalu.

Penjualan saham lewat penawaran saham perdana (IPO), menurut sumber itu, lebih berdampak positif dibandingkan dengan strategic sale. Jika KS dijual melalui strategic sale, hasilnya tidak akan optimal, karena BUMN itu masih menjalani restrukturisasi.

Menurut dia, setelah menguasai 40% saham KS, investor strategis secara tidak langsung memiliki sebagian saham dari 10 anak perusahaan BUMN itu.

Berdasarkan data, pada tahun lalu KS memproduksi 1.76 juta ton lembaran baja canai panas Vioi rolledcoUs) dan 566.744 lembaran baja canai dingin (cold roll coil). BUMN itu memiliki kapasitas produksi lemliaran HRC 2,4 juta ton dan CRC 950.000 ton.

Tak bisa dibocorkan

Kendati muncul opsi KS ditawarkan ke investor, perkembangan itu belum mencapai titik akhir. Ketua Panja Privatisasi Komisi XI Asman Abnur mengatakan hasil rapat tertutup soal KS tidak bisa dibocorkan.

"Kami masih mendalami soal itu, sehingga tidak bisa dibahas secara sepenggal. Semua aspek seperti teknologi, pemasaran, pasok bahan baku, dan kemampuan mencetak laba dalam 5 tahun hingga 10 tahun ke depan masih dibahas."

Komisaris Utama FT KS Taufikurahman Ruki membenarkan adanya indikasi untuk mendorong strategic sale terhadap BUMN itu. "Ada indikasi DPR mendorong privatisasi KS melalui penjualan strategis. Namun, kami sependapat dengan pemerintah untuk menempuh opsi IPO. Beri kami [manajemen baru] kesempatan menjadikan KS lebih baik."

Sepanjang 34 tahun, menurutnya, KS hanya menderita rugi bersih dua kali, yakni pada 2001 dan 2006. KS merugi Rp256,16 miliar pada 2001, akibat krisis di industri baja, sedangkan rugi Rp 135,07 milliar pada 2006 karena mismanagement. "Kalau kondisi eksternal stabil sampai akhir 2008, laba bersih KS bisa mencapai Rp1 triliun. Jika kinerja dan nilai perusahaan bagus, KS cukup IPO 20% saham untuk membiayai revitalisasi."

Meneg BUMN Sofyan A. Djalil mengaku tidak mengetahui adanya indikasi untuk menjual KS kepada pemodal strategis. Dia bahkan mengaku tidak mengetahui soal tawaran dari produsen raksasa Arcelor-Mittal yang ingin membeli 40% saham KS. Tawaran dari Lhaksmi Mittal itu muncul setelah bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pekan lalu.

Namun, Sofyan menilai positif rencana raksasa baja Arcelor-Mittal untuk berinvestasi di Indonesia. "Idenya bagus sekali. Mereka [Arcelor-Mittal] sudah teruji."

Isu privatisasi KS meresahkan karyawannya Sekitar 700 orang karyawran KS hari ini akan berunjuk rasa di kantor pusat, di Wisma Baja. Jakarta Aksi karyawan KS yang diorganisasi oleh Serikat Karyawan Krakatau Steel (SKKS) menolak rencana privatisasi BUMN itu seiring dengan tawaran kerja sama dari Arcelor-Mittal.

Ketua Umum SKKS Budi Santoso mengatakan karyawan setuju opsi privatisasi asalkan lewat IPO yang transparan dengan memberikan kesempatan kepada karyawan memiliki saham.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 1 

 

 Dilihat : 3160 kali