14 April 2008
Lakshmi Mittal, Sang "Burung Nasar" Incar KS

Jakarta - Ada sebuah ungkapan, seting­gi-tingginya burung bangau terbang, suatu saat ia akan kembali ke kandangnya. Lakshmi N Mittal (56), pendiri konglo­merasi baja Mittal Steel Inc. dan merupakan orang keempat terkaya di dunia versi ma­jalah Forbes, bukan burung bangau. Ia jus­tru disebut lawan bisnisnya, Guy Dolle, mantan CEO Arcelor, sebagai burung nasar, yang menspesialisasikan diri mengincar perusahaan dengan harga murah.

Siapa nyana, Mittal kemudian menjel­ma jadi penguasa baja dunia dan hanya butuh lima bulan untuk membeli paksa Arcelor yang menjadi simbol supremasi Eropa di industri baja dunia. Sukses Mittal mengakuisisi Arcelor sekaligus menandai mulai runtuhnya hegemoni dunia Barat. Secara perlahan dan pasti, kemapanan dan dominasi negara-negara maju tergusur oleh kehadiran ekonnomi i baru seperti China dan India yang tidak lagi bisa dibendung.

Kini, sang burung nasar itu diberitakan tengah mengincar PT Krakatau Steel (KS), produsen baja nomor satu di Indonesia. Jika Mittal jadi masuk ke KS, maka bisa dikata­kan Mittal "pulang ke kandang" karena di negeri inilah Mittal disebut-sebut pertama kali membuka peruntungan. Tepatnya di Surabaya, tahun 1976, di mana ia memban­gun perusanaan pertamanya yang di Kemu­dian hari menjadi cikal bakal Mittal Steel, Ispat Indo. Dari Indonesia inilah Mittal, yang kini mempekerjakan 224.000 kar­yawan dan memiliki ratusan perusahaan yang tersebar di empat benua ini, kemudian melanglang buana menjadi raja bisnis baja dunia.

Produsen baja terbesar di dunia ini berencana menanamkan minimal 3 miliar dolar AS dalam bentuk kerja sama Antam atau dengan KS. CEO Arcellor Mittal, Lakhsmi Mittal pun sudah bertemu dengan Pre­siden Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Perin­dustrian Fahmi Idris, dan Kepala BKPM, Muhammad Luthfi di Kantor Presiden, pada akhir pekan lalu.

Dalam pertemuan itu, menurut Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Mittal menga­jukan tiga tawaran. Pertama, Mittal akan mengembangkan mining pertambangan yang berkaitan dengan steel. Kedua, Mittal akan mengusulkan menjadi strategic part­ner KS. Ketiga, dia mengusulkan membuat joint venture company bersama KS.

Menurut Fahmi, saat ini kebutuhan Indonesia sebesar 6 juta ton per tahun. Se­dangkan, produksi kita hanya 4 juta jadi, masih kurang 2 juta ton lagi yang selama ini dipenuhi dari impor.

Nah, diharapkan masuknya Mittal ini bisa memberikan nilai tambah bagi KS. Sebagai produsen baja terbesar di dunia den­gan produski 114 juta ton per tahun, sungguh seperti gajah dengan semut jika diband­ingkan produksi KS yang hanya 2,5 juta ton per tahun, Mittal diharapkan bisa menular­kan ilmunya untuk membantu mening­katkan kapasitas produksi baja nasional.

Pernyataan senada juga diungkapkan Menneg BUMN Sofyan Djalil. Ia menilai kehadiran Mittal sebagai kesempatan yang bagus. Tinggal bagaimana memanfaatkan untuk win-win situation,' ujarnya sambil mengakui proposal yang diajukan Mittal saat bertemu dengan Presiden SBY, menarik.

Tetapi benarkah begitu? Komisaris Utama KS, Taufiequrachman Ruki, malah melihat sebaliknya. Menurutnya, rencana masuknya Mittal ke KS justru sama saja dengan mengundang mara bahaya.

Ruki lantas membandingkannya de­ngan beberapa negara lain. Menurut Ruki, di beberapa negara, seperti Rumania, Aljazair, Prancis dan Nigeria privatisasi pabrik baja yang seperti ditawarkan Mittal Itu, jus­tru menimbulkan masalah nasional dan ter­jadi denasionalisasi industri baja mereka Pemerintah Prancis, lanjut Ruki, terpaksa membayar 40 juta euro untuk membeli kembali pabrik baja mereka. "Jangan sam­pai nantinya uang yang mereka pakai mem­beli KS itu justru dipinjamkan dari bank BUMN kita," ujarnya mewanti-wanti.

Hal senada diungkapkan anggota Ko­misi VH sekaligus Wakil Kelua lPKS DPR-RI Zulkiflimansyah justru meminta pemerintah mewaspadai rencana Mittal ini. Sebab, dalam langka panjang, kerja sama Itu bisa berubah menjadi penguasaan asing terhadap Industri nasional.  "Opsi ini dalam jangka pendek memang menarik, tapi dalam langka panjang sangat berbahaya dimana terbuka kesempatan untuk asing menguasai KS, padahal KS merupakan jantung Industrialisasi kita," katanya.

Sumber :  Harian Ekonomi Neraca, Page : 1

 

 Dilihat : 3108 kali