14 April 2008
Krakatau Steel Ragukan Rencana Investasi Mittal

JAKARTA (Ml): Produsen baja nasional PT Krakatau Steel (KS) meragukan rencana akuisisi senilai US$5 miliar produsen baja terbesar di dunia, Arcelor-Mittal. Rencana akuisisi itu mencuat seusai pertemuan pihak Mittal dengan pemerintah Indonesia pekan lalu.

Dirut KS Fazwar Bujang mengatakan, pihaknya masih melakukan kajian bersama jajaran direksi dan komisaris. "Saya belum bisa menangkap maksud Mittal apakah masuk dengan joint venture baru, beli saham, atau akuisisi KS," ucap Fazwar, di Jakarta, pekan lalu.

Meski begitu. Fazwar meragukan komitmen investasi US$5 miliar yang dikatakan Mittal. "Untuk investasi green grass project (investasi baru) sebesar itu saya meragukan. Meski Mittal punya uang banyak, sumber pendanaan investasinya harus dari berbagai pintu. Tidak mungkin diambil seluruhnya dari perusahaan hanya untuk ambisi rencana tersebut," tutur dia.

KS, kata Fazwar, tidak meragukan sepak terjang bisnis Arcelor-Mittal di tingkat internasional. Saat ini ia memang mampu menjadi produsen terbesar dengan total produksi 125 juta ton per tahun. Namun, menurut Fazwar, kebutuhan investasi perusahaan berbasis di Luksemburg senilai US$5 miliar atau setara dengan Rp45,5 triliun itu bukanlah angka yang kecil. Sebab, berdasarkan fakta yang KS peroleh, Arcelor-Mittal tidak pernah mengeluarkan investasi sebesar itu di negara mana pun.

"Uang banyak, tapi uang pasti tidak mungkin diambil seluruhnya hanya untuk ambisi rencana investasinya. Rumus umumnya 30% maksimal ekuitas dan 70% perbankan. Pengusaha kan meminimalkan risiko juga."

Karena itu, dia yakin Mittal tidak akan bersungguh-sungguh membangun pabrik baru karena terlalu berisiko. Arcelor-Mittal diperkirakan akan mencari upaya lain yang lebih mudah dan tidak menimbulkan risiko bisnis besar. Salah satunya dengan mengakuisisi perusahaan yang telah eksis.

Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris, dalam pertemuan dengan Presiden Mittal menyampaikan tiga opsi. Salah satunya, penawaran Mittal sebagai mitra strategis bagi KS.

Pengamat industri dan anggota Tim Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Mudrajat Kuncoro meyakini, rencana Mittal tersebut akan mengubah peta persaingan pasar baja di dalam negeri. Sebab, untuk saat ini KS masih menjadi pemasok yang memonopoli suplai baja domestik. Sebagai pemonopoli, KS selalu menjadi penentu harga dan terkesan antipersaingan, sehingga menciptakan barrier to entry.

"Pemerintah perlu menjelaskan apakah barrier to entry itu akan dicabut dengan mengizinkan Arcelor-Mittal masuk ke Indonesia yang padat modal dan berisiko tinggi atau sebaliknya." Pemerintah kaji Sementara itu, pemerintah sendiri menyambut minat perusahaan baja Arcelor-Mittal yang ingin mengembangkan investasinya di Indonesia. Termasuk, bila ia dianggap menguntungkan untuk bermitra dengan KS.

"Kita sambut baik sebab orang yang melakukan investasi di Indonesia. Perusahaan itu sudah teruji betul dilihat dari produksinya yang sudah mencapai 110 juta ton. Saya pikir itu kesempatan bagus mengundang dia," ungkap Menteri BUMN Sofyan Djalil saat ditemui wartawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sofyan menganggap, Mittal bukanlah perusahaan asing bagi Indonesia. Pasalnya, perusahaan baja tersebut pernah memiliki satu pabrik hilir di Sidoarjo, Jawa Timur. Selain itu, tawaran yang diajukan Mittal menurutnya cukup menarik meski dia mengaku belum memahami detailnya.

Terkait salah satu opsi yang diajukan Mittal untuk menggandeng KS, Sofyan menyatakan, akan menindaklanjutinya. Salah satunya dengan mengkaji opsi terbaik, yang memberikan hasil paling maksimum bagi negara. Bisa saja Mittal berinvestasi sendiri di Indonesia atau bekerja sama dengan KS. Akan tetapi, keputusan itu harus juga melibatkan direksi KS.

Sumber : Media Indonesia, Page : 15 

 

 Dilihat : 2867 kali