14 April 2008
DPR: Waspadai Privatisasi KS - Mengakuisisi KS harus melalui mekanisme IPO.

JAKARTA Kalangan anggota DPR meminta mewaspadai privatisasi Krakatau Steel (KS). Proses privatisasi BUMN satu-satunya yang bergerak di industri baja itu dinilai lebih menguntungkan jika melalui mekanisme penawaran saham ke publik (IPO), bukan menggandeng mitra strategis.

"Tujuan dari privatisasi kan supaya publik (masyarakat umum) bisa ikut serta memiliki saham KS," ujar anggota Komisi VI DPR yang membawahi sektor BUMN, Hasto Kristiyanto, akhir pekan kemarin.

Pada Kamis (10/4) lalu, CEO Arcelor Mittal, Lakshmi Mittal, mengungkapkan rencananya berinvestasi lima miliar dolar AS di Indonesia saat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan, Jakarta Ada tiga opsi yang diajukan Mittal Pertama, Mittal mengembangkan sendiri usaha pertambangan berkaitan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri menjadi mitra strategis KS. Ketiga, Mittal akan mendirikan perusahaan patungan bersama KS. Mittal juga akan menjalin kerja sama dengan Antam untuk memasok bahan baku.

Pemerintah, lanjut Hasto, seharusnya meminta Mittal mengembangkan sendiri industri baja di Indonesia, bukan mengakuisisi KS. Investor swasta dalam industri baja nasional, diperlukan terkait rantai pasokan bahari baku. "Dalam konteks value chain, industri baja kita kan belum terintegrasi dari hulu hingga hilir."

Seandainya produsen baja asal India itu tetap berniat menggandeng KS, mekanismenya harus melalui IPO. "Mittal harus masuk melalui pasar saham."

Menneg BUMN, Sofyan Djalil, memberi sinyal positif rencana Mittal menjadi mitra strategis KS. Bahkan, Menneg menganggap itu tawaran menarik dan segera akan menindaklanjuti. "Perusahaan itu teruji dilihat dari produksi bajanya lg sudah 110 juta ton,' kata Sofyan, akhir pekan lalu.

Untuk mendalami proposal Mittal, Menneg BUMN mengaku akan melibatkan direksi KS. "Saya akan mengundang untuk mendengarkan pandangan mereka," imbuhnya.

Sofyan menyatakan masih konsisten dengan keputusan komite privatisasi tentang KS. "Pilihannya antara melakukan IPO atau menggandeng mitra strategis," katanya.

Anggota Komisi XI, Dradjad Wibowo, menyambut baik rencana investasi Mittal. Ini menunjukkan Indonesia punya potensi besar di bidang tambang mineral untuk bahan baja, industri hulu baja, dan industri hilir baja.

Namun, katanya, dengan catatan, investasi Mittal merupakan penanaman modal baru, bukan akuisisi. Kerja sama strategis dengan KS, dalam pandangan Drajad, merupakan langkah awal akuisisi terhadap BUMN.

"Pada tahap awal, kendali teknologi dan bahan baku dipegang Mittal. Setelah itu, kendali manajemen, dan akhirnya kendali kepemilikan." sesal Dradjad.

Jika itu terjadi, Indonesia akan rugi besar. "Kita sudah telanjur investasi dana, teknologi dan sumber daya manusia yang sangat besar di KS dan Antam. Mittal nanti akan mendapatkan KS dan Antam dengan harga di bawah true value," paparnya.

Jika Mittal hendak investasi, "Silakan buka PMA di Indonesia atau kerja sama dengan BUMN untuk menghidupkan kembali Texmaco yang sulit dijual PPA. Itu akan lebih besar nilai tambahnya bagi Indonesia."

Hal serupa dikatakan Wakil Ketua FPKS, Zulkifliemansyah. Zul meminta pemerintah berhati-hati menyikapi proposal investasi Mittal.

Sumber : Republika, Page : 13 

 Dilihat : 3793 kali