13 April 2008
Mittal Masuk Krakatau Steel Bisa Berbahaya

Jakarta - Manajemen PT Krakatau Steel (Persero) langsung bereaksi setelah pemerintah melakukan pembicaraan dengan Arcelor-Mittal, produsen baja terbesar di dunia dari India yang menawarkan diri menjadi mitra strategis bagi KS.

Komisaris Utama KS, Taufiequrachman Ruki membeberkan bagaimana berbahanya privatisasi KS ke pengusaha India jika benar-benar dilakukan. Ruki membandingkannya dengan beberapa negara lain.

"Ini semua agar dicermati pola privatisasi KS melalui penjualan 40% saham kepada pengusaha baja India sebagimana yang disampikan beberapa media hari ini," kata Ruki dalam penjelasannya kepada detikFinance, Jumat (11/4/2008).

Menurut Ruki, di beberapa negara, privatisasi pabrik baja dengan pola seperti ini antara lain, Rumania, Aljazair, Prancis dan Nigeria yang juga dilakukan dengan pengusaha India malah menimbulkan masalah nasional dan telah terjadi denasionalisasi industri baja mereka.

Pemerintah Prancis, lanjut Ruki, terpaksa membayar 40 juta euro untuk membeli kembali pabrik baja mereka. Termasuk di Nigeria yang oleh Presiden Umaru Yaradua pada minggu lalu membatalkan penjualan pabrik baja mereka kepada pengusaha baja India.

Ruki menceritakan Presiden Aljazair didepan jajaran direksi dan komisaris KS tahun lalu juga menjelaskan pengalaman dan kondisi buruk pabrik baja mereka saat ini setelah dibeli perusahaan India.

"Jangan kita tergoda karena mereka mengaku kelahiran Pasuruan dan nantinya uang yang mereka pakai membeli akan dipinjamkan dari bank BUMN kita," ujarnya.

Ruki mengajak agar semua pihak juga menilai bagaimana track record pengusaha India itu. "Apa yang telah dan sedang lakukan dalam industri baja di Surabaya sudah 30 tahun mereka disana. Pabrik mereka tidak dikembangkan, pabrik paku di Surabaya collaps dan di Bekasi manager mereka malah di DPO oleh Polri," jelasnya.

Menurut Ruki, pengusaha India itu bukan mau memajukan industri baja tapi hanya mau mengusai pasar untuk kepentingan pabriknya yang ada di India.

Jangan sampai lanjut Ruki, privatisasi KS bernasib seperti Indosat atau Jakarta Container Terminal (JCT) yang justru dilakukan karena adanya kebohongan publik oleh pemerintah yang lampau.

Lakshmi Mittal pada Kamis kemarin (10/4/2008) melobi pemerintah sehubungan dengan rencana pembangunan pabrik baja terintegrasi berkapasitas 5 juta ton per tahun.

Mittal yang bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan tiga opsi pertama, Mittal akan mengembangkan sendiri usaha industri baja.

Kedua, Mittal ingin jadi mitra strategis KS. Ketiga, Mittal ingin mendirikan perusahaan patungan bersama KS. Mittal juga berencana menjalin kerja sama dengan Aneka Tambang untuk memasok bahan baku.

( ir / qom )

Sumber : Arry Anggadha - detikFinance

 Dilihat : 3561 kali