12 April 2008
Monopoli KS Terancam

JAKARTA (SINDO): Jika jadi menanamkan modalnya di Indonesia, Arcelor Mittal akan mengubah peta persaingan industri baja nasional.

Jika selama ini PT Krakatau Steel (KS) merupakan pemain tunggal dan pemasok utama industri hilir baja nasional, maka masuknya produsen baja terbesar dunia asal Inggris itu akan menjadi pesaing KS. "kalau investasi sebesar itu terealisasi pemonopoli lama akan tergeser," ujar Anggota Tim Ekonomi Kadin Indonesia Mudrajad Kuncoro saat dihubungi kemarin.

Mudrajad mengatakan, secara teoritis pemonopoli selalu menjadi penentu harga (price sener) dan sangat anti persaingan, sehingga akan selalu menciptakan halangan (barrier to entry). "Pemerintah perlu menjelaskan apakah barrier to entry itu akan dicabut dengan mengizinkan Arcelor Mittal masuk ke Indonesia yang padat modal dan high risk atau sebaliknya (menerapkan barrier)," kata dia.

Seperti diberitakan, Arcelor Mittal, berminat membangun pabrik di Indonesia dengan investasi USD3 miliar. Keinginan tersebut langsung disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Arcelor Mittal Lakshmi Mittal kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.Untuk memuluskan niatnya tersebut. Mittal akan menggandeng perusahaan lokal PT AnekaTambang (Tbk) dan PT Krakatau Steel.

Wakil Ketua Umum Gabungan Produsen Pipa Baja Indonesia (Gapipa) Untung Yusuf mengatakan, industri hilir dalam negeri menyambut baik rencana Arcelor Mittal membangun pabrik baja terintegrasi di Indonesia. Persoalannya, selama ini pasokan bahan baku pipa berupa baja canai panas (hot rolled coils/HRC) dalam negeri tak mampu mengimbangi kebutuhan industri.

Untung menyarankan agar KS mau bermitra dengan Arcelor Mittal demi meningkatkan kapasitas produksi nasional. Hal ini mengingat perusahaan baja tersebut memiliki kemampuan teknologi yang sangat efisien.

"Kalau perusahaan baja terbesar di dunia itu dibiarkan bergerak sendiri dalam membangun perusahaan baja berkapasitas dua kali lipat dari KS,BUMN baja kita pasti akan panas dingin. KS harus bekerja sama kalau tidak ingin tergerus,"katanya.

Ragukan Mittal

Sementara itu, manajemen KS merespons negatif atas rencana investasi Arcelor Minal tersebut. Direktur Utama KS Fazwar Bujangg mengatakan, di satu sisi KS tidak meragukan ketangguhan Arcelor Mittal sebagai produsen baja terbesar dunia. Namum, dalam perhitungan bisnis, keinginan  Mittal justru akan merugikan KS sebagai BUMN.

"Coba silakan browsing (mencari informasi) di internet dan berbagai keluhan dari perusahaan-perusahaan di negara lain yang pernah diakuisisinya. Mulainya janji-janji manis, belakangan mereka akan patuk tangan dan kepala kita," kata Fazwar saat dikonfirmasi, kemarin.

Fazwar meragukan komitmen investasi perusahaan tersebut sebesar USD3 miliar di Indonesia. Sebab, berdasarkan fakta yang dia peroleh, Arcelor Mittal tidak pernah mau mengeluarkan investasi sebesar itu di negara manapun.

"Untuk investasi green grass project  (investasi baru) sebesar itu, saya meragukan. Meski Mittal punya uang banyak, sumber pendanaan investasinya harus dari berbagai pintu.

Tidak mungkin diambil seluruhnya dari perusahaan hanya untuk ambisi rencana tersebut. Pengusaha pasti meminimalisasi risiko," paparnya.

Di tengah situasi saat ini. Fazwar menambahkan, langkah paling realistis yang akan ditempuh KS adalah melanjutkan rencana perseroan yang akan memperbesar kapasitas produksi menjadi 5 juta ton dengan penguasaan pasar hingga 57%. Diperkirakan, total nilai investasi yang dikucurkan KS akan mencapai di atas USD500 juta.

Berdasarkan rencana itu, perseroan sedang merampungkan pembangunan blasr fumace  peleburan baja dan plate min (pengolahan pelat baja) berbahan bakar batu bara. Selain itu, perseroan akan membangun pelabuhan yang dekat dengan akses pasar berkapasitas muat hingga 160.000 DWT dekat  kawasan industri Cilegon, Banten.

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 15 

 

 Dilihat : 3583 kali