11 April 2008
Mittal Incar Joint Venture Antam-Krakatau

JAKARTA. Produsen baja terbe­sar di dunia, Arcellor Mittal ternyata kepincut untuk melaku­kan ekspansi di Indonesia. Per­usahaan asal India itu ingin bergabung dalam proyek pem­bangunan pabrik baja di Kali­mantan Selatan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Krakatau Steel.

Menurut Muhammad Lutfi, Kepala Badan Koordinasi Pena­naman Modal (BKPM), Mittal telah siap menyalurkan dana hingga US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27,6 triliun untuk membiayai proyek ini Mereka akan mem­bantu Antam menyediakan bahan baku dan Krakatau Steel dalam studi kelayakan," katanya di Jakarta, Kamis (10/4).

Ironisnya, Damba Ambiar, Di­rektur Pengembangan Antam mengaku belum mengetahui kesediaan Mittal tersebut. "Kami belum pernah melakukan nego­siasi apa pun dengan Mittal. Tapi semua orang boleh bilang berminat," katanya kepada KONTAN, tadi malam.

Bahkan, kata dia. Antam dan Krakatau baru akan meneken perjanjian pembentukan joint venture itu pada bulan ini. Alhasil Antam belum menentukan sumber dana proyek tersebut.

Ia juga enggan memastikan apakah Antam akan membicara­kan pembiayaan proyek itu de­ngan perusahaan milik Lakshmi Mittal Itu. Sebab, Antam dan Krakatau Steel baru akan membahas sumber dana proyek setelah meneken pembentukan perusahaan patungan.


Sebagai catatan, kedua per­usahaan pelat merah itu beren­cana membentuk sebuah perusahaan patungan  pabrik baja. Diperusahaan itu Krakatau akan 65% dan sisanya dikuasai Antam.Selanjutnya perusahaan baru itu akan mendirikan pabrik baja.  Pembuatan pabrik berkapasitas 300.000 ton baja pertahun itu akan menelan biaya US$ 160 juta Rencananya, pembangunan pabrik ini baru akan ramipung tahun depan.

Fazwar Bujang, Direktur Uta­ma Kiakatau Steel, pernah me­nyatakan bahwa Antam akan membantu Krakatau dalam mengolali bijih besi yang meru­pakan bahan baku baja. Mak­lum, dengan kapasitas sebesar itu, pabrik baru itu membutuh­kan pasokan bijih besi antara 480.000-510.000 ton per tahun. Nah, dari jumlah itu, sekitar 60% akan berasal dari dalam negeri dan 40% sisanya diimpor.

Sumber : Harian Kontan, Page : 4 

 

 Dilihat : 2719 kali