11 April 2008
Tawaran Kerja Sama Arcellor Mittal Dipertimbangkan

Jakarta-Pemerintah menanggapi positif tawaran kerja sama dengan perusahaan baja terbesar di dunia, Arcellor Mittal, untuk meningkatkan produksi dan produktivitas baja di Indonesia.

Presiden memerintahkan Menko Perekonomian Boediono untuk merumuskan secara detail sikap pemerintah terhadap tawaran Mittal tersebut."Tiga hal yang disampaikan Presiden, pertama di bidang pertambangan yang berkaitan dengan industri baja, kedua menjadi rekanan strategis dari Krakatau Steel (KS) di mana tujuan dia adalah meningkatkan produktivitas dan produksi dari KS yang sekarang, dan yang ketiga, membuat semacam joint venture company untuk industri baja yang baru," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris seusai mendampingi Presiden bertemu dengan CEO Arcellor Mittal, Lakshmi Mittal, di Kantor Presiden, Kamis (10/4).

Pemerintah menilai usulan Mittal ini logis, sepanjang Mittal dapat mengembangkan teknologi ramah lingkungan, sedangkan dari sisi Mittal sendiri, teknologi pembuatan baja di KS perlu ditingkatkan.

Menurut Fahmi, tawaran Mittal memang positif karena bisa meningkatkan produksi KS. Selama ini KS hanya mampu memproduksi 2,5 juta ton, di mana perusahaan lainnya 1,5 juta ton per tahun. Jadi total produksi baja di Indonesia empat juta ton per tahun.

Konsumsi baja untuk dalam negeri padahal mencapai enam juta ton per tahun, sedangkan yang dua ton diimpor. Soal privatisasi ini, batas kepemilikan yang disetujui pemerintah adalah 40 persen.

Investasi USS 3 Miliar Ketua BKPM Muhammad Lutfi memperkirakan jumlah investasi yang ingin ditanamkan Mittal sedikitnya mencapai US$ 3 miliar, dalam bentuk kerja sama dengan PT Aneka Tambang (Antam) dan PT KS.

Setelah kunjungan ini, BKPM akan memfasilitasi pertemuan Arcellor Mittal untuk kerja sama dengan PT Antam terkait penyediaan bahan baku biji besi, nikel, dan mangaan, serta dengan PT KS untuk joint feasibility study pendirian pabrik baja di Indonesia.

"Menurut kalkulasi kami, totalnya paling sedikit mencapai US$ 3 miliar," kata Kepala BKPM Muhammad Lutfi, seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menemui CEO Arcellor Mittal, Lakshmi Mittal di Kantor Presiden, Kamis (10/4).

Lutfi mengatakan Mittal secara serius menyampaikan kebutuhannya untuk mengamankan pasokan biji besi, nikel, dan mangan dari Indonesia. Oleh karena itu, Arcellor Mittal akan bekerja sama dengan PT Antam serta dengan Krakatau Steel untuk meningkatkan kapasitas produksi PT Ispatindo.

Keluarga Mittal mulai mendirikan PT Ispat Indo di Sidoarjo, Jawa Timur pada 1976 yang merupakan investasi pertama Grup Mittal di luar India. PT Ispat Indo saat ini total memproduksi 700.000 ton per tahun, meningkat jauh 60.000 saat pertama kali didirikan.
Menurut majalah Forbes, Mittal merupakan orang terkaya nomor empat dunia dengan nilai kekayaan USS 45 miliar.

Saat ini, total produksi baja nasional masih sedikit di bawah kebutuhan nasional. Hambatan utama yang dihadapi antara lain ketergantungan atas bahan baku dan teknologi impor, peningkatan biaya energi untuk produksi baja, serta hambatan regulasi.

Sumber : Sinar Harapan, Page : 14 

 

 Dilihat : 3064 kali