10 April 2008
Pasokan HRC terbatas, impor naik 15%

JAKARTA; Departemen Perindustrian memprediksi industri liilir baja nasional masih membutuhkan impor bahan baku berupa baja canal panas (hot rolled coils/HRC) hingga 1 juta ton atau naik 14,68% dibandingkan dengan realisasi impor 2007 sebesar 872.000 ton, menyusul keterbatasan pasokan HRC dari dalam negeri.

Diijen Indusiri Uigam. Mesin, Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari mengakui ke-bumhan baja berupa HRC di pasar lokal sebagian besar dipasok dari impor. "Pasalnya, produksi industri baja nasional masih terbatas. Kami terus mendorong produsen lokal memperbesar kapasitasnya," paparnya kemarin.

Sumber bisnis di Depperin mengatakan devisa yang diperlukan untuk mengimpor HRC tahun ini diperkirakan mendekati USSl miliar. "Kalau harga HRC di pasar intemasionai sudah menyentuh US$1,000 per ton, itu berarti devisa yang keluar sangat besar," katanya.

Di tengah lonjakan harga bahan baku di pasar intemasionai. indusnl hilir baja kian kesulitan mendapat pasokan karena haiga di pasar internasional sudah di atas USS1.000 per ton, atau mencapai rekor tertinggi sepanjang sejaiah.

Sumber itu mengungkapkan, produsen hilir baja nasiona] seperti pipa saat ini kesulitan mendapatkan pasokan HRC dari PT Krakatau Steel (KS) yang memadai. Selain itu, prosedur mendapatkan bahan baku melalui impor semakin rumit sejak Indonesia menerapkan sanksi BM antidumping kepada lima negara.

"PT Spindo [produsen pipa las PMDN di Surabaya berkapasitas 36.000 ton] menyatakan KS ndak sanggup memenuhi kebutuhan HRC bagi perusahaannya sampai dengan Mei ini. Jika mau impor, persyaratannya cukup rumit."

Menurut dia, pasokan baja impor bisa dikirim oleh pengelcspor produsen, tetapi mereka meminta agar produsen tiilir baja lokal memberikan surat pernyataan resmi bahwa produsen baja domestik (PT KS) sudah tidak sanggup memasok bahan baku sesuai dengan kebutuhan.
"Suratnya [dari Spindo] sudah kami terima, dan dalam waknj dekat masalah ini akan dibahas," kata sumber itu.

Menurut dia, dana yang dikeluarkan untuk impor sebaiknya digunakan untuk membangun pabrik HRC baru berkapasitas 500.000 ron. "Baja merupakan bahan baku yang sangat penting dalam menunjang perekonomian. Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya.

Direkcur Pemasaran KS Irvan Kamal Hakim tidak mau berkomentar tentang tial ini. layanan pesan singkat (SMS) 6t5nis juga tidak direspons.

Meningkat Berdasarkan data Depperin. tahun lalu impor HRC naik 53.4% dibandingkan dengan impor 2006, dari 578.000 ton menjadi 872.000 ton. Kenaikan konsumsi itu seiring dengan peningkatan . pasar konstruksi, dan infrastruktur.

Volume impor kelompok produk baja lembaran seperti seng baja dan seng baja lapis timah juga meningkat hampir 70% pada 2007 terhadap realiasi impor pada 2006. Untuk seng baja, volume impor melonjak 67.44% dari 119.000 ton menjadi 199.000 ton, sementara baja lembaran lapis timah naik tipis 8% dari 99.733 ton menjadi 107693 ton pada 2007.

Namun, akibat resesi ekonomi dunia dan lonjakan harga minyak dunia yang sempat menyentuh US$n2 per barel, konsumsi baja dalam negeri pada tahun ini diperkirakan melambat atau meningkat tipis dibandingkan dengan tahun lalu.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 3250 kali