07 April 2008
Struktur tarif bea masuk baja tidak berubah

JAKARTA: Depperin memutuskan tidak akan mengubah struktur tarif bea masuk baja berdasarkan MFN (mostfavorable narions/pola bea masuk umum), kendati kalangan produsen hilir baja mendesak agar pemerintah menurunkan sejumlah tarif yang dinilai tidak harmonis sehingga merugikan sektor hilir baja.
Desakan muncul dari Gabungan Produsen Seng Indonesia (Gapsi) dan Gabungan Asosiasi Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma).

Ketua III Gapsi Agus Salim mengatakan pemerintah harus menurunkan tarif BM baja canai dingin (cold rolled coils/ CRC) untuk meredam kerugian produsen yang semakin besar akibat gejolak harga komoditas.

Saat ini, katanya, harga CRC di pasar dunia (FOB/freight on board) menembus di atas US$1,100 per ton. "Kami harap pemerintah secepat mungkin menurunkan tarif BM CRC menjadi maksimal 5% [dari tarif berlaku 12,5%] pada tahun ini," katanya, kemarin.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menjelaskan kesulitan yang dihadapi industri hilir baja seperti kelompok baja lembaran, pipa, batang kawat hingga industri barang logam bukan disebabkan adanya ketentuan tarif saat ini, melainkan akibat pelemahan daya saing yang timbul dari sejumlah faktor nontarif. Sejumlah indikator eksternal seperti tingginya inflasi yang melemahkan daya beli konsumen, kenaikan harga sejumlah komoditas primer dan minyak mentah dunia yang mengakibatkan lonjakan biaya produksi dan transportasi, terbukti kian menyulitkan industri hilir baja, bukan akibat ketimpangan tarif yang ditetapkan pemerintah.

Industri hilir baja, kata Ansari, juga tidak siap menghadapi serbuan impor produk hilir di era pasar bebas sehingga pangsa pasar lokal terus terpangkas.

Pada saat yang sama, perusahaan baja tidak mampu menerapkan terobosan strategis di bidang pemasaran seperti penetrasi pasar-pasar baru.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 4563 kali