08 April 2008
AS cabut BMAD Krakatau Steel

JAKARTA: Pemerintah Ame­rika Serikat diketahui telah men­cabut pengenaan bea masuk antidumping dan bea masuk antisubsidi yang dikenakan kepada PT Krakatau Steel terhadap pro­duk hot rolled carbon steel flat (HRCybaja canai panas).

Terhadap kebijakan itu, PT Krakatau Steel menilai pen­cabutan bea masuk antidum­ping (BMAD) dan bea masuk antisubsidi (BMAS) oleh AS ti­dak signifikan memengaruhi kineija perseroan.

Amerika Serikat (AS) menge­nakan BMAD dan BMAS untuk produk baja canai panas sejak 2002. Kebijakan itu diambil pleh pemerintah AS berdasar­kan tuntutan Asosiasi Industri dan Pekerja Baja AS (pihak peti­sioner) yang menuduh impor HRC dari Indonesia dan negara lainnya mengakibatkan keru­gian materi industri baja AS.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari mengatakan meski departemen perdagangan AS (US-DOQ tak memberitahukan secara resmi, pengenaan BMAD dan BMAS tersebut efektifberiaku selama lima tahun sejak tanggal ditetapkan sehingga secara natu­ral, penalti tersebut telah dihapus.

"Pengenaan itu diberlakukan mulai awal 2002 dan selama lima tahun. Artinya, pada akhir 2007 saya rasa sudah dicabut," ujar Ansari, kemarin.

Sebelumnya US-DOC mene­tapkan BMAD 47,86% dan BMAS 10,21% kepada KS, hal itu didasarkan pada total ekspor produk HRC Indonesia ke AS yang mencapai 189.200 ton (USSS2,08 juta) selama perio­de investigasi. Baja dumping dari Indonesia juga menguasai pasar AS sebesar 3.98%.
Dirut KS Fazwar Bujang me­ngatakan pencabutan BMAD dan BMAS oleh AS tidak ber

dampak signifikan terhadap penjualan dan kinerja industri baja nasional menyusul lon­jakan harga baja dan sentimen kenaikan harga minyak mentah yang telah mendongkrak biaya angkut {freightcost).

Atas dasar itu, KS akan meng­optimalkan penyerapan di pasar domestik karena lebih menguntungkaa Saat ini, ongkos ang­kut baja ke Australia, India, Ma­laysia, Singapura, Vietnam, Je­pang, menjadi US$65 per toa Pada 2007, ekspor b^ KS sem­pat mencapai 20"/o dari total prodiiksi. Tahun ini, perseroan beren­cana memangkas ekspor sekitar 5%-7% menjadi 13%-15%.

"Ekspor ke AS pun saat ini saya rasa sudcih tidak ada gu­nanya karena ongkos trans­portasi ke sana sudah sangat mahal. Apalagi, KS tidak membutuhkcin pasar AS. Kami tidak melihat adanya manfaat apa­pun dari pencabutan [BMAD dan BMAS] ini," ujar Fazwar.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 2692 kali