19 September 2007
4 Pabrik Baja Hulu Akan Pangkas Produksi

JAKARTA: Harga baja canai panas (hot rolled coils) di pasar domestik diperkirakan menembus US$660 per ton pada bulan depan menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyentuh US$81 per barel.  Kenaikan harga baja tersebut merupakan rekor tertinggi di dalam negeri sepanjang dua tahun terakhir.

Prediksi kenaikan harga baja itu dikeluarkan Gapbesi menyusul rencana Pertamina yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk industri pada 1 Oktober sebagai dampak langsung dari lonjakan harga minyak dunia.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Indonesia (Gapbesi) Daenulhay menjelaskan kenaikan harga BBM industri oleh Pertamina dipastikan akan mengganggu kinerja produksi sektor pengolahan baja hulu (steel making) dan rolling mill (pengolahan HRC, CRC, dan wire rod) yang sebagian besar masih menggunakan energi fosil untuk proses produksi.

Pada 2004, total penggunaan BBM di sektor pengolahan baja mencapai 233.698 kiloliter dengan kebutuhan listrik 1.320 megawatt (MW). Penggunaan BBM di sektor pengolahan baja mengalami peningkatan rerata 10%-15% per tahun.

Kalau terjadi kenaikan biaya produksi di sektor hulu, maka harga HRC yang dihasilkan industri dalam negeri akan ikut meningkat. "Saya prediksikan kenaikannya berkisar 5% hingga 10% dari plafon harga saat ini yang mencapai US$600 per ton," kata Daenulhay kepada Bisnis, kemarin.

Terhadap kenaikan tersebut, sedikitnya empat perusahaan pengolahan baja hulu al PT Krakatau Steel, PT Gunung Garuda, PT Ispatindo, dan PT Little Giant mulai berancang-ancang memangkas volume produksi slab dan billet sekitar 5%-10% dari total kapasitas 6 juta ton per tahun.

"Sebenarnya kami akan mempertahankan utilisasi pada posisi 60%. Tapi, kalau situasi pasar tidak mendukung karena daya beli masyarakat belum pulih, mau bagaimana lagi. Ya terpaksa kami akan memangkas produksi, dan mungkin saja ada sebagian Uni produksi PT KS yang berhenti produksi."
Tragisnya lagi, kata dia, kenaikan harga tersebut bukan saja kian memberatkan industri pengolahan HRC, namun juga memicu terjadinya sejumlah masalah baru (multiplier effect) di pasar domestik seperti membanjirnya impor HRC, peningkatan penyelundupan, dan peredaran baja non standar.

Lebih Tinggi

Menurut dia, harga baru pasca kenaikan harga BBM itu membuat harga HRC domestik jauh lebih tinggi dibandingkan harga internasional, yang sejak Juli 2006 stabil di kisaran US$570 US$580 per ton.

"Harga US$600 per ton saat ini saja sudah memicu banjir impor HRC, apalagi dengan kenaikan harga BBM tentu akan memperparah keadaan," katanya.

Para pelaku industri baja, ujar dia, sangat mengkhawatirkan terjadinya serbuan impor besar-besaran dari China dan Korea Selatan mengingat HRC ukuran 2 mm ke bawah hanya dikenai tarif bea masuk (BM) 5%. "Padahal industri baja nasional pada umumnya memproduksi HRC dengan ukuran 2 mm".

Dia mengusulkan tarif BM baja ukuran 2 mm ke bawah dikembalikan ke posisi semula yakni sekitar 7,5%-12% guna membendung arus impor.

Dia mengatakan kalau produk impor dari negara-negara tadi masuk secara besar-besaran ke Indonesia, maka industri baja canai dingin (CRC) dalam negeri hampir dipastikan akan beralih menggunakan bahan baku HRC impor yang lebih murah.

"Kalau konsumen kami yang sebagian besar dari industri seng [baja lapis seng/BjLS], pipa, dan CRC, beralih ke produk impor, kami akan tambah babak belur," katanya.

Untuk itu, dia meminta pemerintah agar merevisi ketentuan tarif BM tersebut. Dalam hal ini, pemerintah tak perlu khawatir akan melanggar aturan WTO karena BM produk HRC Indonesia masihjauh lebih rendah dibandingkan negaranegara Asean lainnya. "Kalau tidak, maka 4 produsen HRC tadi terancam produksinya".

(Sumber: Bisnis Indonesia - 19 September 2007)

 Dilihat : 2713 kali