07 April 2008
Terlipat Biaya Masuk

Tingginya harga baja canai dingin di pasaran membuat industri seng nasional terancam gulung tikar. Pemerintah belum mau menurunkan bea masuk impor produk CRC.

Dikky Setiawan, Dian Pitaloka Saraswati, dan Teddy Unggik AGUS Salim tak bisa lagi menutupi rasa gundahnya. Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) itu harus menerima kenyataan: 17 perusahaan di industri baja lapis seng (bjls) anggota asosiasinya terancam gulung tikar. "Hampir seluruh pabrik seng telah mengurangi produksinya. Bahkan, sebagian sudah berhenti produksi," katanya. Menurut Agus, petaka yang bakal mengancam nasib sekitar 5.000 orang karyawan yang bekerja di industri seng itu terjadi akibat naiknya biaya produksi perusahaan.

Petaka itu terjadi karena harga bahan baku seng baja berupa baja canai dingin (CRC/cold rolled coils) di pasaran terus melambung. Pada Januari lalu, harga CRC telah mencapai USS 830 per ton. Padahal,
pada akhir 2007, banderolnya baru sekitar US$ 790 per ton.

Celakanya, harga CRC terus menunjukkan "ototnya". Pada Februari silam, harga CRC melonjak lagi menjadi US$ 920 per ton, Bahkan, harga CRC untuk pengiriman bulan Maret lalu telah menembus ke level US$ 1.100 per ton. Tak ayal, produksi seng baja nasional selama tiga bulan di tahun ini hanya mencapai 50.000 ton, atau anjlok 50% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Untuk mengolah CRC menjadi seng (finishedproduct), produsen harus mengolahnya lagi menjadi lembaran setebal 0,2 milimeter (ukuran SNI). "Gara-gara kenaikan harga bahan baku itu, biaya produksi kami membengkak sebesar US$ 84 per ton," kata Agus. Ia menambahkan, lazimnya harga normal CRC hanya berkisar antara US$ 500 hingga US$ 600 per ton.

Agus mengaku, di tengah naiknya harga CRC, biasanya produsen seng ikut menaikkan harga jual produk. Masalahnya, jika harga dinaikkan, seng akan tidak laku di pasaran. "Itu juga bisa memukul usaha kami," katanya. Itu sebabnya, lanjut Agus, dengan harga jual yang sudah tidak ekonomis lagi, produsen seng memilih untuk mengurangi atau menghentikan kegiatan produksi.

Agus menuturkan, daya serap pasar untuk seng dengan ketebalan 0,2 milimeter, paling banter, hanya Rp 39 ribu per lembar. Padahal, biaya produksinya sudah mencapai Rp 37 ribu per lembar. Biaya produksi sebesar itu, sekitar 90%-nya adalah untuk pembelian CRC. Sedangkan 10%-nya untuk menunjang kegiatan operasional pabrik, seperti gaji karyawan, listrik, dan gas. "Harga seng eceran yang ekonomis adalah Rp 45.000 per lembar, Ini bisa menutupi biaya produksi dan/ee untuk pengecer," tambah Agus.

Saat ini, lanjutnya, harga yang diterima produsen bisa di bawah Rp 34,000. Wajar, jika akhirnya produsen seng kesulitan membeli bahan baku produksi. Makanya, Agus berharap pemerintah mau membebaskan bea masuk (BM) CRC yang saat ini sebesar 10%. Soalnya, perbedaan BM CRC dengan seng impor hanya sekitar 2,5%. Saat ini BM seng (bjls) impor sebesar 12,5%. "Perbedaan BM yang tipis itu membuat kami sulit bersaing dengan produk impor, apalagi banyak impor seng ilegal," kata Agus. Lantas, berapa BM CRC yang ideal untuk industri seng? Agus menunjuk angka 5%.

Ia bilang, di tengah tingginya harga CRC di pasaran, selisih harga CRC buatan produsen dalam negeri dan harga CRC impor yang sudah kena bea masuk juga sangat tipis. "Jadi kalau kami beli CRC dari produsen lokal juga tidak ada untungnya," kata Agus. Selama ini, kebutuhan bahan baku CRC industri seng nasional, sekitar 50% dipasok dari produsen baja lokal. Sisanya diimpor dari berbagai negara di ka
wasan Asia, seperti India, Cina, Korea, Taiwan, Thailand, dan Filipina.

Berdasarkan catatan Gapsi, kapasitas produksi industri seng nasional sekitar 900 ribu ton per tahun. Namun, produksinya hanya sekitar 300 ribu ton per tahun. Sementara skala kebutuhannya mencapai 400 ribu ton hingga 500 ribu ton. Jadi, untuk menutupi kebutuhan seng di Tanah Air, negeri ini harus mengimpor seng 100 ribu-200 ribu ton per tahun. Selama ini, konsumsi seng di dalam negeri, 80%-nya digunakan untuk kebutuhan atap rumah sangat sederhana dan permukiman warga di kawasan perkampungan.

Sayang, permintaan Agus Salim agar pemerintah menurunkan BM produk CRC, tampaknya, masih bertepuk sebelah tangan. I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Industri Logam Ditjen Industri Logam, Mesin Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian, menegaskan, problem utama yang dihadapi industri seng nasional bukan masalah besaran BM CRC. Tapi, kata Putu, hal tersehut dilatari adanya miskomunikasi antara industri hulu (produsen CRC) dan industri hilir baja (produsen seng).

TIDAK MAU MENANGGUNG RISIKO Menurut Putu, jika komunikasi antara pelaku usaha di kedua industri tadi sudah berjalan dengan baik, maka masalah yang ada bisa teratasi. Soal tingginya harga bahan baku produk, tambah Putu, memang suatu hambatan yang acap menimpa kalangan industri di negeri ini. Masalahnya, ketika harga bahan baku melambung, siapa yang harus menanggung risiko tersebut? "Sebab, kalau sudah begini, biasanya industri hulu tidak mau tanggung risiko sendiri. Sementara industri hilir juga tidak mau tahu," kata Putu.

Makanya, Putu menyarankan supaya kedua sektor incjustfi tersebut mau menjalin komunikasi menyangkut tingginya harga produk CRC. "Kalau komunikasinya sudah baik, baru bicara bea masuk ke pemerintah," tambah Putu, ta menambahkan, kebijakan bea masuk itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, kebijakan itu bisa menyelamatkan industri hilir, di sisi lain justru akan membunuh industri hulunya. Sebaliknya pun demikian. "Jadi, pemerintah harus pilih yang mana?" tanya Putu.

Putu mengakui, produsen baja lokal belum mampu memenuhi pasokan CRC untuk kebutuhan industri hilir baja di dalam negeri. Contohnya pada tahun 2007. Dari kebutuhan CRC sebesar 1,4 juta ton, produsen baja lokal hanya sanggup memproduksi sekitar 800 ribu ton per tahun.

Pasokan CRC sebanyak itu diproduksi oJeh PT Krakatau Steel, PT ESAR Indonesia, PT Little Giant, dan PT Gunung Raja Paksi, Nah, untuk menutupi defisit pasokan CRC, industri hilir baja harus mengimpor sekitar 600 ribu ton.

Impor CRC itu berasal dari 120 pabrik baja yang ada di dunia. Antara lain dari Malaysia, Filipina, Cina, Taiwan, Thailand, dan Rusia. "Jadi kebutuhan CRC tinggi, tapi produksinya kurang. Ini juga salah satu masalah," ujar Putu. Namun, Putu yakin, pengurangan produksi yang dilakukan oleh produsen seng nasional bukan semata dipicu naiknya harga CRC. Ada sederet faktor penyebab lain. Di antaranya, masalah pasokan listrik ke industri seng yang sangat terbatas.

Industri berbahan baku baja kerap beroperasi hanya separuh hari. Padahal, untuk meningkatkan kapasitas produksi, pabrik harus beroperasi selama 24 jam penuh. Kendala lainnya adalah infrastruktur jalan. Siapa pun paham, jalan-jalan di negeri ini banyak yang rusak. Sudah begitu, tingkat kepadatan jalan juga terjadi di mana-mana. Akibatnya, produksi dan pengiriman barang menjadi terganggu.

Selesai? Belum. Masih ada masalah lain berupa penguasaan teknologi, Dulu, seng banyak digunakan konsumen sebagai penutup atap bangunan. Maklum, harganya terbilang ekonomis. Tapi sekarang seng mendapat banyak saingan, Kini, ada yang namanya singalum (seng campuran aluminium) buatan impor yang lebih awet. Produsen seng kita belum sampai ke sana teknologinya. Lalu Putu menyarankan agar produsen seng mau mendiversifikasi produknya. O, ya, untuk soal komunikasi antara produsen hilir dan hulu tadi, Putu berjanji akan segera memfasilitasi masalah tersebut. Ya kita lihat saja.
?

Sumber :  Trust Magazine, Page : 28 

 Dilihat : 2976 kali