02 April 2008
BM 0% baja di bawah 2 mm disetop

JAKARTA: Pemerintah menghentikan pembebasan tarif bea masuk (BM) baja canai panas (hot rolled coils/HRC) berketebalan di bawah 2 milimeter, karena produsen HRC di dalam negeri dinilai telah mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan baja canai dingin [cold rolled coils/CRC).

Baja canai panas berketebalan di bawah 2 mm merupakan subkomodiias baja yang digunakan industri pengolahan CRC untuk memproduksi beberapa komoditas hilir seperti seng baja hingga beberapa produk galvanized (GI).

Kebijakan penghentian pembebasan BM dilakukan untuk mereduksi ketimpangan perdagangan baja canai panas di pasar dalam negeri. Berdasarkan temuan PT Krakatau Steel (KS) importir produsen yang mendapatkan Fasilitas diketahui telah memperdagangkan HRC.

Pemeritah sebelumnya membebaskan BM komoditas tersebut selama enam bulan terhitung dari 7 Agustus 2007 hingga 7 Februari 2008, yang tertuang dalam Peraturan Menkeu No. 85/PMK.011/2007.

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan menjelaskan penghentian kebijakan pembebasan tarif tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa produksi baja di bawah 2 mm dari KS sudah bisa memenuhi kebu

tuhan industri pengolahan CRC domestik. "KS bisa memproduksi 600.000 ton HRC. Kalau konsumen membutuhkan HRC berketebalan 2 mm ke bawah tinggal disetting saja mesinnya," ujarnya kemarin.

Tidak usulkan Depperin, lanjut Putu, tidak mengusulkan perpanjangan BM selama enam bulan ke Tim Tarif Depkeu. Dengan demikian, produsen pengolahan HRC di bawah 2 mm terhitung sejak berakhirnya Permenkeu tersebut, dikenakan BM baja canai panas normal yaitu 5%.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengerjaan Mesin dan Logam Indonesia (Gamma) A. Safiun mengatakan kebijakan pemerintah tidak jelas dan tegas dalam mengatasi krisis pasokan dan harga baja yang terus melambung, sehingga sejumlah industri hilir baja seperti pengecoran logam dan seng baja terancam tutup.

"Seharusnya pemerintah mengutamakan kebijakan yang mendukung pengembangan industri hilir baja, karena produk hilir langsung dipakai masyarakat seperti baja konstruksi sampai peralatan rumah tangga," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, perlu menurunkan tarif BM baja canai panas dan dingin agar industri hilir baja bisa berkembang, apalagi kemampuan produksi HRC dan CRC nasional belum mencukupi. (Rahayuningseh) tyusufMvliyo@bisnis.mid)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 3571 kali