02 April 2008
Konversi Elpiji Diperkirakan Meleset

JAKARTA. KOMPAS-PT Pertamina memperkirakan target konversi elpiji tahun 2008 akan meleset karena keterlambatan pasokan bahari baku untuk tabung elpiji.

"Keterlambatan bahan baku membuat realisasi pengiriman tabung oleh pabrik bergeser sebulan lebih lambat dari jadwal bulan Juni 2008," kata Vice President Gas Domestik PT Pertamina Endang Sri Siti di Jakarta, Selasa (1/4).

Menurut Endang, upaya mengatasi seretnya produksi tabung. Pertamina dan Krakatau Steel sebagai penyedia banan baku menyepakati komitmen pengiriman pada Februari lalu."Supaya produsen baja tahu betul bahwa jadwal pengiriman bahan baku tidak boleh molor," kata Endang.

Target pengalihan minyak tanah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2008 sebesar 2 juta kiloliter atan setara dengan 1 juta ton elpiji.

Dengan belum jelasnya program smart card, pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) melalui konversi menjadi andalan pemerintah. Subsidi BBM tahun 2008 diperkirakan bakal membengkak hingga Rp 150 triliun bila harga minyak dunia terus di atas 100 doUar AS per barrel.

Total kebutuhan tabung elpiji untuk konversi tahun ini 16 juta unit. Pertamina dan produsen tabung telah mengikat kontrak bagi pengadaan tabung sebanyak 8 juta unit untuk keperluan "konversi hingga Juni 2008.

Berdasarkan data dari Mm konversi Pertamina, sampai 31 Maret 2008, realisasi penerimaan material oleh pabrik tabung hanya 1,359 juta unit atau baru 16,99 persen. Sebagian besar tabung yang didistribusikan sampai Maret adalah sisa tabung yang diproduksi tahun lalu.

Produsen tabung elpiji untuk keperluan program konversi memperkirakan harga tabung akan naik lagi pada semester kedua tahun ini. Harga perlu disesuaikan dengan kenaikan bahan baku pelat baja.

Sedangkan realisasi pendistribusian paket konversi tabung dan gas elpiji baru mencapai 2,24 juta unit atau hanya sekitar 14.96 persen. Endang mengatakan, pengisian ulang oleh konsumen elpiji 3 kilogram masih sangat rendah, yaitu 3 persen.

Di luar Jawa Pertamina mematok target 5-10 persen untuk pengisian ulang elpiji. "Ini artinya masih terjadi pemakaian dua jenis bahan bakar, yaitu elpiji dan minyak tanah," ujarnya.

Endang mengakui, banyak kendala dalam pelaksanaan konversi elpiji, misalnya, paket tabung elpiji 3 kilogram yang dibagikan ke pedagang warteg tidak digunakan. "Mereka justru memilih elpiji tabung 12 kg. Untuk pedagang mi, lain lagi masalah

nya, mereka minta kompor yang tekanannya tinggi. Jadi harus dibuatkan desain khusus untuk kompor dan regulator," katanya Data dari perkumpulan usaha warteg juga tidak lengkap sehingga harus dilakukan pencacahan ulang. Jumlah usaha kecil dan menengah yang ditargetkan ikut program konversi sekitar 21.000.

Keterbatasan infrastruktur pendukung konversi, seperti stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBBE), juga membuat rencana konversi harus diubah.

Pertamina membatalkan rencana perluasan konversi di Makassar. Saat ini program konversi di luar Jawa dibatasi hanya di Palembang dan Denpasar.

"Pengusaha yang sudah pegang izin membangun SPBBE tidak juga membangun karena menunggu konversi sampai ke daerahnya. Ini jadi seperti ayam dengan telur," ungkap Endang.

Menurut Endang, peminat SPBBE yang mengajukan proposal untuk bermitra dengan Pertamina mencapai ribuan, tetapi dengan konsentrasi program konversi di Jawa. (DOT)

Sumber :  Kompas, Page : 19 

 Dilihat : 2763 kali