02 April 2008
Industri Hilir Kurangi Penyerapan Baja - Harga baja terus melambung

JAKARTA Industri hilir dalam negeri mengurangi konsumsi baja sebagai bahan baku akibat lonjakan harga baja canai panas (hot rolled coiled). Harga baja canai panas telah menembus US$ 1,000 per ton dan membuat industri hilir tak mampu menyerap baja.

Menurut Ketua III Gabungan Pengusaha Seng Indonesia Agus Salim, industri seng telah mengurangi produksi hingga 50 persen. "Harga baja canai dingin (cold rolled coils) telah tembus US$ 1.100 per ton," ujarnya kemarin. Produsen seng menggunakan baja canai panas sebagai bahan baku. Baja canai dingin merupakan produk lanjutan dari baja canai panas.

Dia mengungkapkan sebanyak 16 perusahaan seng sejak kenaikan harga baja telah mengurangi produksi karena tak mampu membeli baja dengan harga terlalu tinggi. "Kami benar-benar terimpit dan tak berani untuk membeli bahan baku," kata Agus. Selain harga baja yang terus naik, ujarnya, daya beli masyarakat mengalami penurunan sehingga produsen tak berani menaikkan harga jual.

Agus mengharapkan pemerintah membantu industri hilir dengan menurunkan bea masuk baja canai dingin. Saat ini bea masuk baja canai dingin sebesar 10 persen. "Kami inginkan turun menjadi 2,5-5 persen," ujarnya. Penurunan bea masuk baja canai dingin ini, kata dia, akan membantu industri hilir untuk melanjutkan proses produksi.

Menurut Ketua Umum Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia Ahmad Safiun, kebijakan penerapan bea masuk antidumping terhadap produk baja canai panas impor dari lima negara, yakni Cina, India, Rusia, Taiwan, dan Thailand, semakin membuat harga baja melonjak drastis. "Kami kehilangan pasar baja murah. Dari bina negara ini harga baja dijual lebih murah," katanya.

Safiun mengatakan ada kemungkinan selama semester pertama tahun ini konsumsi baja oleh industri hilir dapat berkurang 30-40 persen. Kemungkinan terburuk, kondisi ini membuka peluang bagi importir baja hilir, terutama dari Cina, semakin ekspansif. "Tak bisa dibiarkan saja," tuturnya.

Harga baja canai panas untuk pengiriman Mei sudah menembus US$ 1.000 per ton. Harga bahan baku baja, yakni iron ore atau bijih besi, dan slab terus mengalami kenaikan. Harga slab untuk pengiriman Mei berkisar US$ 950-960 per ton. Padahal pada bulan sebelumnya sebesar US$ 765 per ton dan pada Januari sebesar USS 500 per ton.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan Hakim Kamal memberikan sinyal ada kemungkinan industri hilir dalam negeri akan mengurangi konsumsi baja. Perusahaan bersiap mengekspor produk baja apabila tak mampu di serap dalam negeri.

Sumber : Koran tempo

 

 Dilihat : 3250 kali