31 Maret 2008
Tak ada penurunan BM impor baja

JAKARTA Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA). Departemen Perindustrian Anshari Buchari mengatakan pemerintah tak akan menerapkan kebijakan penurunan tarif bea masuk (BM) impor bahan baku baja yang saat ini sudah rendah (berkisar 12,5 persen-10 persen) kendati harga baja dunia melambung.

"Alasannya, kebijakan penurunan BM ilu justru tak akan banyak membantu mengurangi dampak tingginya harga bahan baku baja seperti HRC atau CRC yang sudah mencapai 70-30 persen," kala Anshari pada Diskusi Forum Watawan Industri (Forwin).

Deperin, kata dia, tak akan membuat kebijakan memihak pada salah satu industri namun mendorong penggunaan bahan baku di dalam negeri serta netral mendorong pengembangan industri baja dari hulu, menengah hingga hilir.

Seperti PT Krakatau Steel, kita dorong menambah suplai bahan baku di dalam negeri, mereka menyatakan sanggup memenuhi kebutuhan itu. Justru dalam kondisi semacam ini, kita perlu mendorong industri hilir seperti pembebasan BM untuk industri komponen menjadi 0 persen untuk besi baja yang belum diproduksi di dalam negeri."

Sementara itu. Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim berharap, agar Deperin menurunkan tariff BM masuk baja jenis BJLS antara 5-2.5 persen untuk membantu industri seng yang sampai saat ini sudah megap megap, khusus untuk importir produsen yang menggunakan bahan baku setengah impor dan setengah lokal.

Karena dari 17 anggota Gapsi yang menyerap tenaga kerja sekitar 10 ribu orang,katanya, saat ini 3 perusahaan sudah tak berproduksi kalaupun masih ada stok barang.

Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin (Gamma). Safiun mengungkapkan, persoalan yang dihadapi saat ini justru meningkatkan  kebutuhan baja nasional dan global.

"Kebutuhan masyarakat dunia tak hanya terbatas pada alat panci dan penggorengan saja, tetapi terjadi peningkaian permintaan yang sangsi pesat untuk pasokan industri pertahanan untuk pengadaan panser jembatan dan perkapalan."

Safiun memprediksikan hingga 2009. gejolak harga baja dunia akan terus berlanjut karena adanya peningkatan anggaran belanja Negara untuk pertahanan sangat tinggi karena dunia tengah menghadapi konyunglur ekonomi, (fli)

Sumber : Harian Terbit

 

 Dilihat : 3573 kali