01 April 2008
Cigading bangun terminal bongkar muat batu bara

Bisnis Indonesia CILEGON, Banten: Pengelola Pelabuhan Cigading membentuk konsorsium membangun terminal bongkar muat batu bara senilai Rp25
miliar untuk melayani pengapalan ekspor komoditas itu dari Teluk Citayur, Kota Cilegon.

Konsorsium tersebut bernama PT Cigading International Bulk Terminal (CET), hasil kerja sama antara PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), anak perusahaan PT Krakatau Steel yang mengelola Pelabuhan Cigading, dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

"Dalam kerja sama itu, KBS akan menyiapkan lahan, membangun dermaga pengerukan dengan nilai Rp8 miliar, sedangkan Pelindo II membangun fasilitas terminal," ungkap Kuswanto Atmosumarto, Dirut KBS, akhir pekan lalu.

Menurut dia, peletakan batu pertama pembangunan terminal itu diharapkan bisa dilakukan pada tahun ini, sedangkan soal kepemilikan dalam konsorsium tersebut masih digodok oleh KBS dan Pelindo II.

Dia mengakui terjadi penanganan ganda dalam bongkar muat batu bara di terminal tersebut, tetapi kecepatan bongkar muat yang akan menggunakan teknologi modern itu hanya membutuhkan waktu dua hari atau paling lambat tiga hari.

PT CET, kata Kuswanto, memiliki pasar angkutan batu bara dari pembeli dan pengelola tambang batu bara di Kalimantan dan Sumatra. Selain itu, perusahaan itu memiliki usaha pelayaran dan mengoperasikan floating crane di Kalimantan.

"Jadi, meski perusahaan angkutan batu bara di Kalimantan membangun stodfiie, terminal yang akan dibangun itu dijamin lebih efisien dalam pengapalan ekspor batu bara," paparnya.Dia mengklaim Cigading memiliki keunggulan karena pelabuhan curah terbesar di Indonesia itu dilalui rute pelayaran Eropa-Asia, Gulf-Jepang, Hongkong/Taiwan-Afrika, Australia Barat-Singapura/Thailand, dan rute pelayaran internasional lainnya.

Keunggulan alamiah Di samping itu, lanjut Kuswanto, Cigading mempunyai keunggulan alamiah, di mana memiliki tingkat kedalaman 20 meter sehingga dapat melayani kapal besar hingga bobot 150.000 DWT, baik kapal curah kering maupun cair.

Pelabuhan tersebut juga tidak perlu dikeruk karena tidak pernah mengalami pendangkalan, dan arealnya sangat luas, yakni sekitar 242 hektare.
Kawasan atau hinterland pelabuhan ini belum berkembang sehingga sangat sesuai untuk menampung kawasan industri yang memiliki akses langsung dengan pelabuhan untuk melayani pengapalan bahan baku industri dan hasil produksi.

"Jadi, tidak perlu lagi mencari pelabuhan lain untuk mengapalkan hasil produksi dan mendatangkan bahan baku impor. Di sini sudah mendapat pelayanan secara paket mulai dari pelabuhan hingga dikirim langsung ke kawasan pabrik," tuturnya.

Selain itu, lanjut Kuswanto, Cigading juga mempunyai kapasitas lebih yang bisa dimanfaatkan, karena kargo untuk dan dari PT Krakatau Steel belum mencapai kapasitas maksimal, sehingga kelebihan kapasitas tersebut sangat potensial untuk dimanfaatkan oleh kepentingan umum dan industri lainnya.

Sebelumnya, Faswar Bujang, Presdir PT Krakatau Steel (KS), mengatakan pihaknya menjajaki perubahan fungsi Pelabuhan Cigading dari pelabuhan khusus industri menjadi pelabuhan umum, menyusul rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelayaran yang memisahkan fungsi regulator dan operator. (aidifearsaidi@bunii.co.LdJ

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : R6 

 

 Dilihat : 4017 kali