01 April 2008
Lonjakan harga baja ganggu peremajaan alutsista

Bisnis Indonesia JAKARTA: Peremajaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) nasional semakin terbengkalai akibat lonjakan harga baja dunia, harga baja juga ikut meningkatkan biaya produksi baja khusus yang dibutuhkan industri pertahanan.

Kondisi tersebut secara langsung mengecilkan nilai anggaran Departemen Ketahanan untuk keperluan pengadaan dan peremajaan alutsista yang telah disusun sebelumnya akibat pembengkakkan nilai komoditas baja,

"Kenaikan harga baja yang terus berlanjut berdampak signifikan pada anggaran belanja pertahanan juga naik," kata Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengerjaan Mesin dan Logam (Gamma) Ahmad Safiun, pekan ialu.

Industri alutsista adalah kelompok industri untuk kepentingan militer khususnya peralatan tempur berat (artileri) seperti tank panser, pesawat tempur, helikopter, senjata mesin, peluru, rudal (peluru kendali) hingga sistem radio. Selama ini, pengelolaan industri alutsista berada di bawah koordinasi Dephan.

Kebutuhan peralatan alutsista di Indonesia sebagian besar masih diimpor dari berbagai negara seperti Rusia dan AS (sebelum terkena embargo).

Safiun melanjutkan hampir sebagian besar industri alutsista di industri dalam negeri membutuhkan bahan baku baja yang berasal dari bijih besi Menurut informasi PT Krakatau Steel (KS), harga bijih besi terus meroket di pasar dunia dari posisi awal US$113 pada awal 2008, menjadi US$229 per ton per Maret.

Pada saat yang sama, harga bahan baku baja canai panas (Hot rolled coils/HRC) telah menyentuh angka US$1,000 per ton untuk pengiriman Mei 2008, karena harga bahan baku HRC berupa slab telah menyentuh rekor baru sekitar US$900 per ton.

Di dalam negeri, dampak kenaikan harga baja dunia itu direspons dengan sangat hati-hati oleh KS bahkan perseroan belum menentukan harga jual untuk Juni 2008,mengingat fluktuasi yang demikian tajam. Saat ini, harga jual HRC masih dipatok sebesar Rp 8800 perkg.

Data dari Dephan memperlihatkan pembengkakan belanja alutsista akan terjadi hingga 2009. Untuk periode 2006-2009, belanja Mabes TNI dan ketiga angkatan untuk alutsista dalam negeri sebesar US$838 juta.

Untuk total belanja luar negeri sebesar USS2,94 miliar. Safiun mengatakan anggaran untuk alutsista dalam negeri semestinya bisa dimaksimalkan untuk menggenjot sektor industri pengenaan logam di Indonesia. Industri logam nasional saat ini berkontribusi pada pengadaan alutsista seperti peluru, rudal, senapan, hingga topi baja.

Sumber : Busnis Indonesia

 

 Dilihat : 3816 kali