31 Maret 2008
Tahun Ini, IPO Krakatau Steel Diprioritaskan

JAKARTA-Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan memprioritaskan proses penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham PT Krakatau Steel tahun ini. Sebelumnya, pemerintah memiliki dua mekanisme privatisasi BUMN tersebut, yakni IPO atau strategic sales.

"Kami sudah meminta manajemen perseroan untuk menyiapkan semua prosedur terkait rencana IPO. Karena IPO jauh lebih fleksibel dan cenderung menguntungkan daripada strategic sales," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta, akhir pekan, lalu.

Menurut dia, Krakatau Steel (KS) membutuhkan dana sekitar USS 130 juta untuk menjadi modernization company. Kebutuhan tersehut mencakup modernisasi fasilitas pabrik, yaitu pengolahan bijih besi, pembuatan baja, dan pembuatan lembaran canai baja.

KS juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,2 triliun tahun ini. Dana akan digunakan untuk ekspansi pembangunan pabrik di Kalimantan Selatan senilai Rp 600 miliar dan untuk perbaikan, perawatan peralatan Rp 400 miliar Dana bersumber dari pinjaman bank.

Pembangunan pabrik ini diharapkan meningkatkan laba bersih yang belum diaudit sebesar Rp 363 miliar tahun 2007, sedangkan penjualan mencapai USS 1.5 miliar atau setara Rp 13,6 triliun. Tahun ini, KS menargetkan laba bersih Rp 433 miliar dan penjualan USS 2 miliar.

Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero menilai, pemerintah perlu merancang strategi yang jitu sebelum memutuskan IPO. Pasalnya, volatilitas pasar saham saat ini masih besar. "Pemegang saham harus lebih fleksibel, artinya kalau kondisi pasar kurang bagus sebaiknya jumlah saham yang dilepas tidak terlalu besar," ujar dia.
Dia menambahkan, seluruh dana hasil IPO harus dimasukkan sebagai modal kerja KS guna mengembangkan bisnis ke depan.

IPO Garuda Ditunda Sementara itu, Sofyan menjelaskan, pemerintah juga akan mendorong IPO saham PT Garuda Indonesia tahun depan. Rencananya, pemerintah melepas sekitar 40% saham kepada publik. "Izin DPR sudah keluar, namun waktu pelaksanaannya diserahkan kepada manajemen perseroan,"j el as idia.

Ia mengatakan, persentase penjualan saham sebesar 40% ditempuh agar perseroan memperoleh insentif pajak penghasilan sebesar 5%. Sebelumnya, pemerintah berencana memprivatisasi Garuda melalui mekanisme strategic sales. "Kami lebih comfortable melakukan IPO, sehingga gain bisa lebih besar bagi pemerintah," ujar dia.

Keputusan menempuh IPO saham, tegas dia, didasarkan kepada kinerja keuangan yang cenderung membaik. Apalagi, Garuda telah menambah modal untuk keperluan restrukturisasi utang. Pada Januari 2008, Garuda sudah mengajukan restrukturisasi utang kepada pemegang surat berharga atau floating rate notes (FRN) di Singapura. Untuk itu, perseroan menyiapkan dana senilai US$ 174 juta. Utang perusahaan kala itu tercatat USS 754 juta. Dan jumlah itu, sekitar USS 470 juta digunakan untuk membeli pesawat jenis Airbus 300. (shd>

Sumber: Investor Daily Indonesia, Page : 14 

 Dilihat : 2722 kali