01 April 2008
Kebijakan Baja Yang Merugikan

KEBIJAKAN pemerintah dinilai tidak jelas dalam mengatasi krisis pasokan dan harga baja yang terus meningkat sehingga sejumlah industri hilir baja terancam tutup. Arah kebijakan pemerintah untuk mengatasi kenaikan harga baja dunia tidak tegas dan jelas.

I Seharusnya pemerintah mengutamakan kebijakan yang mendukung pengembangan mausin hilir baja, karena produk hilir yang langsung dipakai masyarakat, seperti produk baja untuk konstruksi sampai untuk peralatan rumah tangga.

Pemerintah seharusnya menurunkan tarif bea masuk (bm) baja (baja lembaran panas/HRC dan baja lembaran dingin/ CRC) agar industri hilir pengguna baja bisa berkembang. Apalagi, kemampuan produksi produsen HRC dan CRC nasional belum mampu memenuhi semua kebutuhan domestik. Pemerintah jangan hanya membela KS (Krakatau Steel). Kemampuan produksi baja kita belum mampu memenuhi semua kebutuhan domestik.

Saat ini, banyak pabrik seng yang terancam bangkrut karena minimnya perbedaan bea masuk (BM) bahan baku yaitu CRC ( BM-nya 10 persen) dengan produk jadi baja lapis seng (bjls) yang BM-nya 12,5 persen Karena itu, kami mengharapkan pemerintah membebaskan BM CRC agar industri bjls bisa bersaing dengan produk impor dan konsumen bisa mendapatkan harga seng Iebih murah.

Sebagai fakta, kini sebanyak 16 dari 17 perusahaan industri baja lapis seng (bjls) terancam tutup akibat naiknya biaya produksi menyusul kenaikan harga baja dan rendahnya daya saing dengan produk sejenis dari impor. Saat im ada satu perusahaan sudah benar-benar tutup, mesinmesinnya sudah tidak ada lagi. Dda tiga perusahaan lagi yang berhenti operasi. Namun perusahaan tersebut masih memiliki stok. Sedangkan sebagian besar industri baja lainnya juga terpuruk Hanya satu yaitu BlueScope yang masih berjalan dengan baik karena produknya Galvalum yang menggunakan alumunium dan harganya stabil pada kisaran 2.700 dolar AS per ton. Sedangkan harga seng sebagai salah satu bahan baku bjls terus meningkat dari 700 dolar AS per ton, bahkan pernah menyentuh angka 4.000 dolar per ton. meskipun kini harganya berkisar 2.300-3.000 dolar per ton.

Memang ada wacana bahwa penghapusan BM bukan jalan keluar terbaik untuk mengatasi kenaikan harga baja dunia yang berimbas pada naiknya harga baja di dalam negeri. Karena pembebasan BM justru menimbulkan masalah baru seperti adanya verifikasi. Selain itu BM baja sebenarnya sudah rendah, sehingga sebenarnya sudah mengarah ke tarif yang harmonis Namun, dalam titik tertentu, kebijakan tersebut harus berpihak pada industri dalam negeri. Kebijakan pemerintah harus netral. Kebijakan yang diambil harus menyeluruh terhadap seluruh potensi industri dalam negeri. Saat ini produksi baja dan produk baja nasional diperkirakan mencapai sekitar lima juta ton per tahun, sedangkan konsumsi domestik mencapai 6-7 juta ton

Sumber: Rakyat Merdeka, Page : 13

 Dilihat : 3758 kali