31 Maret 2008
Cigading diarahkan gantikan peran Pelabuhan Priok

CILEGON, Banten: PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) berencana menjadikan Cigading sebagai pelabuhan umum muatan curah terbesar di Indonesia, sekaligus menggantikan peran Pelabuhan Tanjung Priok yang dinilai tidak kondusif karena sering mengalami kongesti.

Faswar Bujang, Presdir PT Krakatau Steel (KS), mengatakan pihaknya menjajaki perubahan fungsi Pelabuhan Cigading dari pelabuhan khusus industri menjadi pelabuhan umum, menyusul rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelayaran yang memisahkan fungsi regulator dan operator.

"Setelah menjadi pelabuhan umum, Cigading bisa lebih leluasa dan berpeluang besar untuk melayani kapal dan muatan curah terbesar di Indonesia menggantikan Pelabuhan Tanjung Priok," ujarnya kepada Bisnis*, akhir pekan lalu.

Menurut Faswar, muatan curah berupa bahan baku industri dan bahan pangan impor yang sebelumnya masuk Pelabuhan Tanjung Priok sebetulnya sudah banyak beralih ke Pelabuhan Cigading sejak 2001.

PT KBS merupakan salah satu anak perusahaan PT KS yang khusus mengelola fasilitas pelabuhan terdalam di Indonesia itu, yakni 20 meter sehingga dapat melayani kapal berbagai ukuran hingga yang berkapasitas 150.000 DWT (dead weight ton).

Dirut PT KBS Kuswanto Atmosumano mengatakan total kapasitas Pelabuhan Cigading untuk melayani muatan curah kering sebanyak 10 juta ton per tahun, guna mendukung produksi PT KS.

"Namun, karena ringkat okupansi yang digunakan oleh KS hingga 2001 hanya 31%, sisanya digunakan untuk melayani kapal dan barang lain di luar KS, terutama yang pindah dari Pelabuhan Tanjung Priok," tutur Kuswanto.
Melalui Pelabuhan Cigading, paparnya,

Sejak 2001 terus terjadi peningkatan arus barang impor dan ekspor. Selama 2007, arus barang yang dilayani sudah mencapai 8,9 juta ton, sedangkan pada 2001 hanya 2,9 juta ton.

Tak tertampung Kuswanto menambahkan peningkatan arus barang impor dan ekspor di Pelabuhan Cigading terjadi setelah fasilitas Pelabuhan Tanjung Priok mulai tidak mampu menampung arus barang curah kering untuk kebutuhan baku industri dan bahan pangan.

Kapal besar yang mengalihkan operasionalnya dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Cigading itu mengangkut berbagai macam komoditas, di antaranya kedelai, jagung, bungkil, gipsum, gula, beras, besi bekas, dan batu bara.
"Dalam waktu dekat, juga akan dilayani pindahan bongkar muat sapi impor dan antarpulau dari Tanjung Priok ke Cigading."

Untuk melayani bongkar muat sapi, papar Kuswanto, Pelabuhan Cigading juga mempersiapkan lokasi untuk proses karantina sebelum diangkut ke luar pelabuhan.

Menurutnya, seiring dengan meningkatnya arus barang impor dan ekspor melalui Pelabuhan Cigading, juga akan dilakukan perluasan dan pengembangan pelabuhan untuk meningkatkan kapasitas terpasang.

"Kini tengah diproses pengembangan fasilitas curah cair di lokasi utara lahan Pelabuhan Cigading untuk pembangunan tank storage, packaging, dan chemical processing industry. Selain itu, juga akan dilakukan perpanjangan dermaga untuk melayani tongkang."

Menurut Kuswanto, meski kapasitas terpasang dari fasilitas yang tersedia di pelabuhan itu sudah 87% atau tersisa sekitar 13%, fasilitas dermaga masih cukup tersedia karena berth occupancy ratio (BOR) masih rendah.

Sementara itu, dari total arus barang yang ditangani di Pelabuhan Cigading, 56% di antaranya berupa barang umum dan sisanya untuk kepentingan PT KS dan kawasan industri yang berlokasi di KS sendiri. (aidikar.saidi@bisr\is.a>.id)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : R6 

 Dilihat : 3146 kali