31 Maret 2008
Mittal Masuk Hulu-Hilir-Garap Industri Baja, Tanam Rp 4,5 Triliun

JAKARTA-Raja baja dunia, Laksmi Mittal. sedang berancang-ancang menggelembungkan bisnisnya di Indonesia kali ini salah satu orang terkaya dunia yang mengawali bisnis di Waru Sidoarjo, tersebut tidak hanya akan masuk ke sektor hilir, tapi juga hulu. Total dana yong akan diinvestasikan sedikitnya USD 500 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun.

Sekretaris Ditjen Mineral. Batu Bara, dan Panas Bumi (Minerbapabum) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Setiawan menegaskan, rencana Mittal yang kini menjadi CEO/chairman Arcelor-Milial-produsen baja terbesar dunia untuk kembali berinvestasi di Indonesia itu disambut baik.

Dengan masuk ke sektor hulu dan hilir, kata dia. selain membangun pabrik baja. Mittal akan masuk ke sektor lambang bijih besi sebagai bahan baku baja. "Saat ini mereka sedang mencari informasi tentang lokasi-lokasinya," jelasnya usai bertemu manajemen Mittal Steel di kantor Departemen ESDM Jakarta akhir pekan lulu.

Menurut Bambang, Departemen ESDM juga berkoordinasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk memberikan informasi tentang beberapa lokasi potensial yang memiliki deposit bijih besi berjumlah besar*

Namun, kata dia, sebagian besar lokasi tersebut sudah masuk dalam wilayah operasi beberapa perusahaan tambang. "Karena itu. Mittal berencana menggandeng perusahaan lambang bijih besi yang sudah eksis." ujarnya.

Selain itu, jelas Bambang, Mittal Steel mencari informasi tentang regulasi bisnis pertambangan di Indonesia terkait dengan RUU Mineral dan Batu Bara yang saat ini dalam tahap finalisasi di DPR.

Lalu, berapa besar nilai investasinya? Bambang mengaku belum ada pembicaraan lebih lanjut. Meski demikian, kata dia, secara umum, investasi minimal yang harus disiapkan untuk masuk di sektor hulu dm hilir baja mencapji USD 500juta atau sekitar Rp 4,5 triliun itu sangat minimal. jadi realisasinya bisa saja lebih besar," ungkapnya.

Berdasar data yang dimiliki Ditjen Minerbapabum. wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki tambang bijih besi tersebar di daerah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Perusahaan lokal yang memiliki tambang bijih besi adalah PT Sebuku Iron Ore di Sebuku. Kalimantan Selatan, dan PT Jogja Magasa Mining di Kulon Progo. DI Jogjakarta.

Bambang menyebutkan, salah satu perusahaan tambang bijih besi, yakni PT Sebuku, telah mengekspor bijih besi berbentuk laterit Tiongkok. Perusahaan tersebut diperkirakan memiliki deposit bijih besi ratusan juta ton. "Yang terbaru adalah PT Jogja Magasa Mining yang kontrak karyanya baru saja disetujui DPR." ujarnya. ' Minat Mittal Steel untuk melebarkan kembali sayap bisnisnya di Indonesia, kata Bambang, menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tarikkuat di sektor pertambangan.

Lakshmi Mittal memang merintis bisnis baja dari Indonesia. Pada 1976. dia membangun pabrik baja di Waru, Sidoarjo, Jatim. Perusahaan pertamanya di luai negeri itu diberi nama PT Ispat Indo yang menempati areal bekas persawahan seluas 16,5 hektare. Ispat berasal dari bahasa Sansckerta yang berarti baja.

Waktu itu, Mittal berinvestasi sekitar USD 15 juta untuk mendirikan perusahaan baja. Itu jenis usaha yang tak asing bagi Mittal Sebab, dia telah lama menggeluti bisnis baja bersama ayahnya, Mohan, di Kolkata (dulu Calcutta). India.

Bisnis baja yang dirintis di Sidoarjo tersebut mengalami kemajuan pesat. Selanjutnya, Mittal go international dan mengembangkan perusahaan lewat strategi akuisisi Gaya Mittal yang ekspansif dikenal luas kalangan dunia industri baja. Caranya, membeli pabrik baja dengan harga murah, dipoles, dan ditata dengan manajemen yang disiplin, sehinga menjadi mesin uang yang produktif.

Mittal yang malang dalam bisnis baja tahu persis bahwa prospek industri amat menjanjikan. Karena itu. dia pun tak menyia nyiakan momentum ambruknya sejumlah tersebut. Di lain pihak, strategi ini dijalankan Mittal menjadi harapan bagi sejumlah pemerintah yang gagal mengelola pabrik baja.Para pengusaha baja di Eropa, Jepang, dan lain-lain khawatir dilibas eksapansi bisnis Mittal yang agresif. Lewat kantor pusatnya di London, tiap hari Mittal memantau jaringan bajanya di seluruh dunia. Tahun lalu. pundi pundi  pria asal India tersebut mencapai USD 32 miliar atau sekitar Rp 28S triliun, (owi/cl)

Sumber : Indo Pos

 Dilihat : 4937 kali